Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Bab:51


__ADS_3


Sudah satu jam lamanya,Reyno terus senyum-senyum memandangi beberapa foto sang istri di ponselnya.Ini adalah hari ke 4,pria itu masih bersembunyi dan mengaktifkan mode terbang pada ponselnya.


Rasa bersalah pada sang istri terus menghantui kehidupanya sekarang,andai ia tak pernah datang untuk menjenguk Tania.Mungkin sekarang ia sedang bercanda atau sedang bermesraan dengan isrtrinya.


Terkadang ia merasa dunia begitu tak adil,mengapa cobaan berat terus berdatangan disaat ia sudah memutuskan untuk mencintai Jennie sepenuh hati.Apa yang harus ia jelaskan pada sang istri nanti,bahkan untuk menemuinya saat ini Reyno tak mampu.








Sementara di villa kediaman keluarga londa,Jennie selalu uring-uringan dan jarang mau makan.Entah urusan pekerjaan seperti apa yang sedang Reyno hadapi,yang jelas sudah 5 hari Reyno tidak mengabari atau sekedar mengirim pesan.Ponselnya juga tidak pernah aktif saat ditelepon.


Mengapa selalu tidak ada kabar,setiap kali Reyno pergi ?


"Anak mamah kenapa melamun ?" mamah Dina datang menghampiri.Jennie terlihat murung disudut kaca sembari menatap gerbang dengan sayu.Ia selalu berdiri disana menunggu kepulangan suaminya.Dari sudut kaca itu ia dapat melihat dengan jelas jika ada mobil yang datang.


"Mah,nomer Reyno ngga pernah aktif,kenapa yah? Jennie khawatir terjadi sesuatu sama Reyno disana."


"Loh,kok kamu baru bilang sama mamah,kenapa ngga bilang dari kemarin-kemarin.Jadi ini yang bikin kamu uring-uringan dari kemarin." mamah Dina juga ikut khawatir.Reyno tidak biasanya seperti ini."Coba kamu telepon sekertaris Reyno sayang."


"Sekertaris ?aku ngga pernah tau Reyno punya sekertari...mah." Jennie malah kaget mendengar kata sekertaris.ternyata Reyno hebat juga sampai memiliki dua sekertaris.


"Ihskkk,kalian itu gimana sih?sesama pasangan itu harus saling terbuka satu sama lain." mamah Dina menggelengkan kepalanya.Benar seperti apa yang dikatakan William,dua anak ini memang belum layak untuk menjalani rumah tangga.


"Mamah kasih tahu ya,Reyno itu punya dua sekertaris,satu laki-laki dan satu lagi perempuan.Yang laki-laki seumuran dengan William namanya Farhan.Dan kalau yang perempuan,lebih muda satu tahun,namanya Katy.Dia sekertaris yang Reyno bawa langsung dari Amerika.Mereka berdua adalah dua orang kepercayaan kakek Reyno.Selama ini farhan yang selalu mengurus segala urusan perusahaan,sedangkan Reyno baru-baru ini saja mulai aktif di perusahaan."


Jennie mengangguk paham,ternyata banyak hal yang ia tidak tahu dari suaminya.Memang selama ini Reyno jarang sekali menceritakan tentang dirinya,Jennie juga tidak pernah menanyakan pada Reyno.


"Jennie boleh minta tolong sama mamah untuk teleponin sekertaris Reyno ?"


"Iya sayang,ini juga mamah mau langsung telepon,cuma ponsel mamah dikamar.Kalo gitu mamah telepon mereka dulu ya."mamah Dina menepuk pundak Jennie lembut."Jangan terlalu dipikirin,Reyno pasti baik-baik saja." ucap mamah Dina kemudian berlalu pergi menuju kamar.

__ADS_1


Tanpa Jennie tahu,mamah Dina juga sedikit kesal dan mengutuk Reyno karena perilakunya,tidak mau memberi kabar seperti anak yang tidak punya keluarga saja.awas ya kamu Reyno...


(Sepuluh menit kemudian )


"Mah,gimana kata sekertaris Reyno ? " Jennie langsung bertanya saat melihat mamah Dina keluar dari kamarnya,ternyata sedari tadi anak ini terus menunggu mamah Dina di dekat pintu kamarnya.


"Mereka bilang Reyno sibuk,mungkin akan segera pulang." Tentu saja kedua sekertaris Reyno berbohong,karena sebelumnya Reyno sudah mengantisipasi jika hal ini terjadi.Mereka sudah diajak bekerja sama oleh Reyno,adapun orang yang boleh menjelaskan hal yang sebenarnya hanyalah Reyno sendiri.


"Gitu ya mah."Jennie langsung kecewa,dahinya mengkerut menunjukan wajah betenya.


Untung mamah Dina sudah punya solusi untuk sedikit menghibur gadis itu.


"Sayang mamah punya sesuatu buat kamu." mamah Dina meraih telapak tangan Jennie lalu memberikan sebuah kotak .


"Ini apa mah ?" Jennie menatap sayu mamah Dina.


"Coba kamu buka." ucap mamah Dina tersenyum.


"Cincin ?" Jennie sedikit kaget ketika melihat isi kotak,yang ternyata adalah cincin berlian begitu sangat indah.


"Iya,itu cincin pernihakan kamu.Cincin itu sudah disiapkan sebelum kalian berdua lahir oleh kakek dan nenek kalian.Coba dipakai."


"Cincinya pas banget mah di aku." Jennie tersenyum,akhirnya setelah 5 hari gadis itu bisa tersenyum sekarang.Jujur saja mamah Dina sedikit was-was pada menantunya,takut Jennie sakit karena terlalu banyak memikirkan Reyno.


"Sayang,bukan hanya cincin.Gaun pernikahan untuk kamu juga sudah dipersiapkan oleh mendiang kakek dan nenek.Karena pernikahan kalian terbilang mendadak,apa lagi kamu bilang kalau kamu hamil.Jadi kami semua menunda pernikahan kalian sampai anak itu lahir.Eh malah kita dibohongi."terang mamah Dina,dahinya sedikit mengkerut ketika menyebut kata *dibohongi*.


"Hehehe maaf mah." jawab Jennie seadanya.Buru-buru ia segera mengalihkan topik pembicaraan ini."Mah,Jennie mau diceritain kisah cinta kakek dan nenek donk,Jennie juga mau tahu kenapa Jennie dan Reyno yang harus dijodohkan.


"Jadi begini sayang.dulu waktu masih muda,kakek dan nenek kamu saling mencintai,namun tidak ada salah satu yang berani menyatakan cintanya terlebih dahulu.Ya maklum,mereka,berdua adalah sahabat sejak kecil,jadi mereka takut perasaan mereka akan menghancurkan persahabatan yang sudah lama dibangun.Sampai suatu hari,mereka bertemu dalam keadaan sudah mempunyai anak dan pasangan masing-masing,mereka baru mengakui perasaan mereka waktu muda.Karena sudah terlambat,tidak mungkin juga mereka dapat bersatu.Kemudian timbulah ide mereka berdua untuk menjodohkan generasi keturunan mereka.


"kenapa harus cucu yang dijodohkan mah ? kenapa bukan anaknya saja ?" Jennie bertanya dengan sedikit hati-hati.Takut membuat mamah Dina marah atau tersinggung.


"Pertanyaan bagus,jawabanya adalah,nenek dan kakek kamu anaknya sama-sama satu dan jenis kelaminya perempuan semua.Jadi mereka memutuskan untuk menjodohkan generasi kedua. Kamu dan Reyno adalah yang tercocok,karena usia kalian tidak berpaut jauh,bahkan sama jarakanya seperti kake dan nenek kamu."


"Oh gitu,jadi mamah Dina juga anak tunggal seperti momy."


"Yupz kamu pintar sayang." mamah Dina mulai menguap setelah berbicara panjang lebar.Jam menunjukan pukul 22.00 malam,sudah waktunya untuk berbaur dengan bantal dan guling.


"Makasih ya mah, udah mau nyempetin waktu untuk cerita kisah kakek dan nenek."


Dina tersenyum melihat tingkah Jennie yang masih saja sungkan."Sayang,mamah tahu umur kamu masih kecil,tapi mamah berharap sama kalian.Apapun yang terjadi pada kalian nanti,jangan pernah memutuskan untuk berpisah yah..."

__ADS_1


"Mamah kok ngomong gitu ?" Jennie bertanya bingung,ia merasa hubunganya dengan Reyno baik-baik saja.


"Bukan begitu maksud mamah,karena yang namanya rumah tangga,pasti banyak sekali cobaan dan rintangan.Mamah juga dulu sempat hampir cerai dengan papahnya Reyno.Tapi kita bertahan demi janji yang sudah kami ucapkan.


"Iya mah,Jennie janji ngga akan berpisah sama Reyno apapun yang terjadi.Makasih nasehatnya mah."


"Jangan terlalu banyak mikirin Reyno lagi ya.Kamu istirahat gih dikamar,ini sudah malam." Setelah Jennie mengangguk,mamah Dina segera menuntun Jennie kedalam kamarnya."Mau ditemenin ngga tidurnya ?"


"Ngga usah mah,Jennie tidur sendiri aja.Selamat malam ya mah." Jennie langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.


Jennie melangkah lalu duduk di samping ranjang tidur,setidaknya ia sudah tahu kabar Reyno walau tak mendengar suaranya.Kali ini ia sudah berjanji,ia akan memulai hal baru untuk saling terbuka satu sama lain.Seperti apa yang sudah dikatan mamah Dina,sebagai pasangan suami istri harus saling terbuka satu sama lain.


Mungkin umur Jennie terbilang masih diusia remaja,namun status anak itu sudah menikah.Jika ia terus bersikap kekanakan seperti biasanya,ia tidak akan bisa mempertahankan rumah tangganya yang baru seumur jagung.


Semenjak dinasehati oleh kaka iparnya William,gadis itu mulai berubah.Memang benar kata William,jika kita mau sedikit menurunkan sikap egois kita,semuanya akan terasa indah untuk dijalani.Itulah yang Jennie rasakan semenjak ia berubah menjadi wanita yang lembut kembali.


Jennie mulai berbaring menatap langit-langit kamarnya,ranjang kasur itu terasa sangat luas saat ia hanya sendiri.Ia rindu suasa berbagi ranjang tidur bersama Reyno,ia rindu saat mereka saling berebut selimut,juga rindu pelukan dan ciuman sebelum tidur dari suaminya.Lama kelamaan,Jennie mulai terlelap dan menjemput mimpi indahnya.





Sekitar pukul 02.00 pagi,Jennie sedikit terbangun ketika merasakan sesuatu yang hangat sedang melingkari perutnya.Hembusan nafas itu begitu nyata menyentuh telinganya.Ia sedikit tersadar untuk memastikan ia sedang bermimpi atau bukan.


:Reyno... ???"


***❤



❤***


***Hai guys


Makasih ya udah mampir dan baca cerita aku...


Jangan lupa tekan tombol like dan berikan komentar .


Satu lagi ,minta rate 5 nya yah...

__ADS_1


Salam hangat 💓💓


Rita***...


__ADS_2