
Hai-hai. Aku datang membawa sejuta kebahagiaan. Akhirnya kita telah sampai di ujung acara. Ini kejutan terakhir untuk laian yang masih mau membaca cerita ini saat sudah ku kecewakan karena menampilkan konflik poligam. Maafin aku ya, cerita ini memang agak berat gitu.
Selamat membaca.
Tuhan memiliki alasan mengapa cinta tulus Reyno dan Tania tidak bisa bersatu. Sekarang mereka sudah mendapatkan jawaban dari ketidakadilan semesta mengenai kandasnya kisah cinta mereka berdua. Tuhan terlalu menyayangi Tania, itu sebabnya Tania ditarik ke sisi-Nya.
Tuhan juga masih menyayangi Reyno yang saat itu hampir putus asa memendam rasa sakit. Kehadiran Jennie telah merubah segala kehidupanya. Rasa sakitnya di ganti bahagia yang tiada tara. Jennie adalah belahan jiwa Reyno. Kini, esok dan seterusnya.
Setelah seminggu meninggalnya Tania, keadaan sudah mulai stabil. Hubungan Reyno dan Ayah Tania juga sudah membaik. Bahkan pak Bram sudah memberikan kepercayaan penuh pada Reyno dan Jennie. Pak Bram sudah merelakan cucunya di asuh oleh Reyno dan Jennie. Bukan hanya itu, Pak Bram juga menggabungkan perusahaanya dengan milik Reyno. X1X kini jadi semakin kuat berkat bergabungnya Ayah Tania di perusahan Reyno.
Hari ini Reyno pulang dari Amerika. Jennie sudah berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan suaminya. Satu minggu tidak bertemu membuat kedua insan itu memendam rindu seluas samudra.
"Selamat datang di rumah lagi sayang." Jennie langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Reyno saat Reyno membuka pintu rumahnya. "Aku kangen banget, banget, banget, banget," ucapnya tiada henti.
"Hei, manja sekali ini." Reyno mencubit hidung Jennie, lalu mengecup kening Jennie berkali-kali. Para pelayan yang melihatnya juga ikut senyum dengan tingkah mereka berdua.
"Bagaimana dengan kabar dia?" Reyno mengusap perut Jennie yang terlihat mulai membuncit. Padahak hanya tujuh hari mereka berpisah. Sudah,sangat terlihat aura hamilnya.
"Dia baik, ayok kita lihat anak kita." Jennie menarik tangan Reyno, menuntunya ke kamar bayi yang sudah di huni oleh anak Tania.
"Kapan kamu mendekorasi semua ini?" Reyno mengedarkan pandanganya begitu masuk ke dalam kamar bayi. "Apa dia sudah boleh dibawa pulang?" Reyno bertanya kembali tanpa menunggu jawaban pertanyaanya yang pertama.
"Aku dekorasi kamar ini dua hari yang lalu, kotak bayi yang kosong itu milik anak kita nanti. Betewe, kamu juga harus lihat Baby Boy kita yang tampan ini." Jennie menarik lengan Reyno mendekati keranjang bayi. Ada Si Ganteng yang sedang tidur pulas di dalamnya. Reyno langsung tersenyum melihatnya.
"Wajahnya seperti tidak asing." Reyno mengingat-ingat kembali wajah seseorang yang paling di bencinya. "Hans, dia mirip sekali dengan Hans." Wajah Reyno mendadak berubah. Tanganya mengepal bersamaan dengan otak yang mendidih parah.
"Siapa itu Hans?" tanya Jennie.
"Pacar Tania yang terakhir," lirihnya.
"Jadi apa kamu berfikir itu adalah anaknya?"
"Tentu saja. Aku sangat tahu seperti apa brengsekknya lelaki itu."
Jennie mencoba menenangkan suaminya yang begitu kalap.Segera saja ia mendaratka sebuah ciuman sensasional untuk mengalihkan pikiran Reyno.
"Aku kangen kamu Reyn," lirihnya. Kemudian Jennie mencium bibir Reyno sekali lagi, ciuman kedua agak berbeda, Jennie terlihat sedang memancing birahi suaminya. Tentu saja Reyno sudah terpancing, tanganya mulai menggerayangi tubuh sintal istrinya, menelusup masuk ke dalam dress yang Jennie kenakan.
"Hei ... hei ... jangan disini. Ada anak kita, tidak malukah?"
"Aku akan segera melakukan tes DNA. Aku tidak mau siapapun salah paham tentang semua ini." Reyno sangat marah saat mengatakanya. Pria itu juga terlihat benci sekali pada anak Tania. Jennie segera menarik Reyno keluar dari kamar bayi." Ayo kita ke kamar ada yang mau aku bicarain."
__ADS_1
"Gak!" Namun Reyno tetap mengikuti langkah Jennie. Keluar dari kamar bayi, lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ayolah, aku punya yang manis-manis untuk di lakukan di dalam kamar," godanya tersenyum nakal.
"Cih! kamu selalu menggunakan tubuhmu untuk merayu pria," ucap Reyno jutek. Jennie segera mengunci pintu rapat-rapat. "Dan bodohnya kamu selalu termakan oleh rayuanku." Jennie mendekati Reyno, lalu memeluknya dalam-dalam. Memeluk penuh cinta dan kerinduan. Bahkan Reyno dapat merasakan betapa besarnya cinta Jennie saat ini.
" Reyn, aku mau minta suatu hal sama kamu."
"Apa itu?"
"Kenapa?"
"Lebih baik kita menutup rapat-rapat tentang kebenaran ayah kandung Tania."
"Tidak bisa, aku harus membuktikan kalau Dia bukan anaku. Aku akan mencari ayahnya, bila perlu memukulnya sampai mati." Reyno mengepalkan kedua tanganya lagi. Dengan lembut Jennie membuka kepalan itu hati-hati.
"Reyn, Tania itu udah nitipin anaknya ke kita. Aku takut jika kamu tahu kebeneran tentang jati diri anak itu. Kamu akan benci padanya." Jennie dapat melihat dengan jelas sorot mata kebencian dari mata Reyno. Ia tidak mau suaminya sampai membenci anak tidak bersalah itu. Mungkin yang Reyno benci bukan anak Tania, melainkan si ayah yang entah siapa.
"Ngga bisa Jennie," bentaknya kesal.
"Reyno, ayolah.Aku hanya ingin menutup kasus ini rapat-rapat. Aku takut jika dia terbukti benar bukan anak kandung kamu, dia akan diambil oleh ayahnya. Aku ngga mau itu sampai terjadi, Reyn. Beberapa hari aku bersamanya, aku sangat sayang dan takut kehilangan dia. Karena kehadiranya juga telah membawa berkah untuk hidupku. Sekarang aku sudah tidak takut hamil lagi. Dia telah merubah hidupku, Reyn."
Reyno terlihat gunda. Ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bukan laki-laki brengsekk, tapi mengapa rasanya sangat sulit. Jennie terlihat sangat takut kehilangan anak itu. Bahkan air di pelupuk matanya mulai menggenang.
"Vino?" Reyno mengerngitkan dahinya bingung. "Siapa itu Vino."
"Vino Giovani Londa, anak kita Reyn." Jennie tersenyum
"Hei, bahkan kamu sudah memberinya nama. Bukankah itu tugasku." Reyno menggendong sang istri ke atas ranjang. Ia harus mengalihkan perhatian agar Jennie jangan sampai menangis. "Berikan hadiah yang sudah kamu janjikan itu, maka aku akan memafkanmu." Reyno mulai mengecupi wajah sang istri, membuka seluruh pakainya dengan sangat buas.
Kegiatan ranjang adalah cara terbaik untuk pasustri ini. Segala masalah apapun akan teratasi dengan adanya kegiatan ini. Seperti sekarang, Reyno mengecupi bahu sang istri yang habis kewalahan melayani dirinya.
"Makasih sayang, kamu emang the best." Reyno mengeratkan pelukanya dibalik selimut.
"Jadi ngga ada jatah malam lagi buat kamu, ya." Jennie mencubit kedua pipi Reyno gemas. "Iya, pelit."
"Ngga pelit, kamu kan tahu aku lagi hamil. Ngga boleh sering-sering begitu." Jennie menarik selimut yang sedikit tersingkap untuk menutupi dadanya. "Iya, aku tahu,kok. Aku juga punya batasan."
"Jadi, gimana sama keputusan aku tadi? Kamu setuju ngga? kalo kita ngga usah tes DNA. Aku mau kamu akuin dia sebagai darah daging kamu."
"Baiklah, kalau istri aku sudah bicara, siapa pun tidak akan pernah berani menantang kehendaknya."
"Jadi kamu setuju?"
__ADS_1
"Hmmm." Reyno mengangguk. "Kalau kamu sangat sayang anak itu. Aku tidak akan mencari asal usulnya. Tapi kamu harus menjelaskan pada kedua orang tua kita, jangan sampai mereka salah paham. "
"Oke, baiklah. Itu sangat mudah."
"Ada satu hal lagi yang mau aku bicarain sama kamu. Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu." Reyno langsung merubah wajahnya sangat serius.
Deg!
Jantung Jennie langsung berdetag secara tidak wajar. Kabar buruk apa lagi yang Reyno bawa.
"Ka-ka-kamu tidak menghamili wanita lain lagi kan?" Jennie sampai terbata. Terakhir Reyno pergi ke Amerika, ia membawa kabar buruk. Mungkin saja kali ini Reyno menghamili mantanya yang lain. Tidak. Jennie tidak mau ada wanita ketiga. Tania sudah cukup, jangan ditambah lagi.
"Haha, kamu pasti trauma berat ya, sama kejadian yang menimpa rumah tangga kita. Maafin aku ya. Aku harus jujur kali ini, entah ini kabar bahagia atau sedih buat kamu tapi a—" Jennie memotong pembicaraan Reyno. "Cepat katakan, jangan buat aku mati penasaran. Awas jika itu pembahasan tentang perempuan. Aku tidak akan memafkanmu, Reyno!"
"Ini memang pembahasan tentang wanita."
"Jadi kamu selingkuh lagi, hah?" Jennie mencubit paha Reyno sekeresnya. "Awkh, sakit sayang. Dengarkan dulu makanya." Reyno mulai bercerita.
"Ini tentang Tania, sebenarnya aku dan Tania tidak pernah menikah."
"Maksud kamu?" Demi apapun, Jennie nyaris shock mendengar pengakuan Reyno."Kamu lagi ngeprank aku?"
"Hei, tidak begitu. Aku cuma mau bilang, kalo aku dan Tania tidak menikah. Saat itu kami hanya pergi ke tempat terpencil. Dan kami menghabiskan waktu seharian, untuk mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Akhirnya kita membuat kesepakatan, bahwa kita tidak menikah. Tania adalah wanita yang tahu diri, ia tidak mau merebut aku dari kamu. Begitu katanya."
"Jadi selama ini kalian bohongin aku? Huahhh ... aku benar-benar shock, entah aku harus senang atau sedih."
"Maafkan aku sayang, intinya aku sering memberi kode. Namun kamu tidak pernah peka." Seperti contoh Reyno sering mengatakan bahwa Jennie adalah istri satu-satunya yang paling Reyno cintai. Namun kata-kata itu dianggap angin lewat. Jennie tidak pernah menyadari kode keras Reyno, seperti pembaca yang juga tidak tahu sebuah kode rahasia.
END.
***
MOHON MAAF YA. AKU TAHU NGGA SESUAI EKSPEKTASI KALIAN. AKU BELUM BISA NGUNGKAP PERSOALAN ANAK TANIAN. SOALNYA AKAN KU UNGKAP DI SEKUEL LANJUTAN CERITA INI. BETEWE AKU BAWA PROLOG DARI KELANJUTAN TALI PERJODOHAN. SEMOGA INI DAPAT MENGOBATI KEKECEWAAN KALIAN. SILAHKAN BERASUMSI DENGAN PROLOG YANG AKU BERIKAN.
Endingnya memang seperti ini ya gaish..
Betewe adakah yang mau aku kasih bonus chap. Misal tentang kehamilan Jennie atau kelahiran anaknya. Boleh kalian komen dibawah mau bonus cerita seperti apa.
Terima kasih banyak
Anarita.
__ADS_1