Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Bab :80


__ADS_3

Reyno berjalan menuju ruang UGD dengan langkah yang tergesa-gesa.Setelah mendapatkan kabar bahwa istrinya dilarikan kerumah sakit,Reyno langsung pergi melajukan mobilnya secara membabi buta.Untung saja jalanan sudah tidak terlalu macet.Sehingga waktu tempuh dapat dilaluinya cepat tanpa kendala.


Sampailah ia di depan ruang UGD,ternyata disana sudah ada William,Tere dan Lisa.Kebetulan Lisa datang saat William dan Tere hendak membawa Jennie ke rumah sakit.Sehingga Jennie dibawa kerumah sakit menggunakan mobil Lisa.


Anak bodoh! darimana saja kamu? batin William kesal.


William menatap keaadaan adiknya yang sudah acak adul.Bajunya lusuh,kancing kemejanya sudah terbuka dua baris dari atas.


"Jennie!" Reyno datang dengan keadaan panik.Cowok itu berusaha menerobos ruang UGD yang masih tertutup.Dimana William dan Tere langsung menghadang Reyno yang datang kalang kabut.


"Tenang...tenang,jangan gegabah! Jennie masih dalam penanganan.Tunggu sampai dokter keluar."William merengkuh bahu adiknya.Kemudian ia menarik Reyno untuk duduk di ruang tunggu.


"Aku harus lihat keadaan Jennie kak! Aku khawatir.Aku harus masuk untuk memastikan."Reyno mulai menggila.Laki-laki itu tidak dapat mengtrol emosinya lagi.Untung William selalu menahan adiknya untuk tetap diam disana.


Setengah jam menunggu.Rasanya seperti setengah abad,lama sekali.Reyno terus menunggu sembari menatap pintu bertuliskan UGD yang tak kunjung dibuka.Pria itu tak hentinya mondar-mandir melahkahkan kakinya kesana kemari,seperti tidak ada rasa lelah.


Hatinya tidak tenang.Sejuta pikiran negatif melayang-layang diotaknya.Reyno hanya ingin melihat keadaan Jennie.Kalau bisa berada disamping istrinya saat ini juga.


Ahh,andai tadi Reyno berhasil mencegah istrinya untuk pergi.Pasti tidak akan seperti ini keadaanya.Bodoh! ia tidak henti-hentinya menyalahkan dan mengumpati dirinya.


Pintu ruangan terbuka.Reyno langsung berlari sergap mendekati dokter yang baru saja keluar.Sementara yang lainya ikut mendekat dibelakang Reyno.


"Bagaiamna keadaan istri saya dok?" kalimat utama yang sudah Reyno pikirkan sedari tadi jika melihat dokter keluar.


Dokter membuka maskernya lalu berkata."Keadaan pasien baik-baik saja.Hanya saja kandunganya sempat lemah.Sedikit terjadi pendarahan namun sekarang sudah berhenti."


"Kandungan?"


Reyno mengerjapkan matanya berulang-ulang sebelum mulai bicara lagi."Maksudnya Istri saya hamil dok?"tanya Reyno terperangah kaget.Dimana ketiga orang dibelakangnya juga ikut kaget.


"Istri anda sedang hamil lima minggu."


Ada banyak sekali kata yang ingin Reyno ucapkan mendadak hilang entah ditelan apa.Reno mendadak hilang kata,satu kalimat yang baru saja ia dengar sangat menggetarkan jiwa dan raganya.


Istriku hamil?


Lantas Reyno menatap dokter itu lagi.Seolah tidak peduli tentang kebahagian Reyno saat ini,dokter melontarkan kalimat yang menjatuhkan berikutnya.


"Tadi ia mengalami pendarah karena mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang cukup banyak.Tolong dijaga baik-baik keadaan pasien.Jangan sampai mengkonsumsi sesuatu yang dapat membahayakan janin didalam kandunganya."


Astaga! kalimat kedua yang dokter ucapkan seperti dentuman yang membuat kepala Reyno terngiang-ngiang.Untuk kedua kalinya ia gagal melindungi wanita yang sangat ia sayangi.Bahkan kali ini lebih parah,karena ada dua nyawa disana.Istri dan anak kandungnya.

__ADS_1


"Boleh kami jenguk pak?" pertanyaan berikutnya dilontarkan oleh Lisa.Karena Reyno terlihat diam sedari tadi.


"Silahkan jika ingin melihat keadaan pasien,anda boleh masuk satu persatu." lantas dokter memakai maskernya kembali.Berlalu pergi menuju ruang kerjanya.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu,Reyno langsung menerobos masuk kedalam.Ia sudah tidak sabar ingin segera melihat keadaan istrinya didalam.


Ya Tuhan...


Jennie terlihat sedang berbaring lemah dengan selang infus yang menancap di kedua tanganya.Bahkan sampai dua jarum infus menusuk kulitnya.Jennie pasti kesakitan.


"Sayang." Reyno membelai lembut rambut sang istri.Menyibaknya kesamping lalu merapikanya.Memandangi Jennie dengan penuh kasih sayang.


Jennie masih tidur damai.Wajah yang biasanya selalu cerah terlihat pucat.Reyno merasa hancur saat melihat keadaan istrinya seperti itu.Ada perasaan dimana ia merasa gagal menjadi laki-laki sejati,gagal karena tidak dapat melindungi istrinya dengan baik.


~•~


Saat kondisinya sudah dinyatakan baik,semalam Jennie langsung dipindahkan keruang rawat inap.Setelah semua melihat keadaan Jennie,satu persatu dari mereka mulai pulang.Begitu juga dengan kakanya William.


Tinggalah Reyno seorang diri yang menunggu istrinya diruang inap.Sepanjang malam Reyno terus terjaga.Cowok itu tidak mau tidur sedikit pun meski rasa kantuk beberapa kali datang menghampirinya.Reyno tidak mau istrinya mendapati ia tertidur saat tersadar nanti.Reyno harus melihat Jennie bangun.


Senyum merekah terlihat dibibir Reyno ketika melihat pergerakan kecil ditangan Jennie.Pelahan gadis itu mulai tersadar dari pengaruh obat bius bekas semalam.Cahaya matahari yang menusuk matanya membuat Jennie menggeliat karena tak tahan dengan silaunya.Perlahan cewek itu mulai membuka kedua matanya.


"Selamat pagi sayang." Satu kata yang sudah ia siapkan ketika istrinya bangun nanti.Jangan lupa tersenyum selebar mungkin.


"Aku dimana?"tanya Jennie bingung.Cewek itu memaksakan diri untuk duduk.


"Kamu dirumah sakit sayang.Maafkan aku karena lalai dalam menjagamu.Maaf atas ketidak mampuanku ini." Reyno merangkuh wajah istrinya dalam-dalam."Biar aku bantu duduk."Reyno menekan tombol pengaturan untuk meninggikan ranjang dalam posisi duduk.menyangga punggu sang istri lalu memberi bantal dibelakang punggungnya.


"Aku takut banget Reyn,aku kira semalam aku akan mati.Rasanya sakit sekali,aku takut ngga bisa liat kamu lagi."Jennie mulai menceritakan kejadian semalam.Anak itu terisak saat mengatakanya.


"Stttt...jangan bicara seperti itu."Reyno memeluk lembut tubuh sang istri.Mengelus lembut bagian kepala belangnya."Kamu baik-baik saja.Tuhan pasti selalu melindungi orang baik seperti kamu."


"Aku sebenarnya sakit apa Reyn? apa aku menderita penyakit parah?kasih tahu,Reyn."


"Kamu ngga sakit sayang." Reyno melepas pelukanya perlahan.Mengecup kening istrinya lalu membenarkan posisi duduk Jennie kembali.


"Terus aku kenapa?tolong kasih tahu Reyn.Jangan menyembunyikan apapun."pinta Jennie memelas.


"Kamu tidak sakit sayang.Tidak juga menderita penyakit berbahaya.Kamu akan segera menjadi ibu." ada bunga-bunga bermekaran saat Reyno mengatakanya.Senyum manis tak pernah terputus dari bibir Reyno.


"Ibu?" Jennie menatap Reyno bingung.Apa yang maksud dengan kata 'ibu' ?

__ADS_1


"Iya ibu,kamu hamil sayang.Ada buah hati kita didalam perut kamu."


"Tidak!" Jennie terlihat panik."Tidak...aku tidak mungkin hamil.Aku tidak hamil..." Jennie teriak histeris.


Sebuah respon yang sangat membuat Reyno terkejut.Jennie seperti orang yang kesurupan ketika mengetahui dirinya hamil.Tanpa pikir panjang Reyno segera menekan tombol untuk memanggil suster atau dokter.


"Tenanglah,sayang.Ini kabar baik untuk kamu.Jangan takut."Reyno mencoba menenangkan istrinya sebisa mungkin.


Jennie semakin menggila.Diraihnya benda-benda yang ada disampingnya.Ia melemparkan kesegala arah.Begitu juga dengan gelas kaca yang ada diatas meja,jennie melempar kuat kearah tembok hingga pecahanya berserakan dilantai.


"Tidak...aku tidak mau hamil.Jangan..."


"Sayang tolong tenang.Dokter akan segera datang.Jangan panik,kamu akan baik-baik saja." Reyno mendekap Jennie sekuat tenaga.Cewek itu meronta,semakin meronta lebih histeris.


Tidak ada hal lain yang bisa Reyno lakukan selain memeluk istrinya seerat mungkin.Menjaga Jennie agar tidak mengamuk dan terluka.Hatinya dipenuhi tanda tanya.


Mengapa Jennie jadi seperti ini?


Apa segitunya ia tidak mau hamil anak Reyno?


Dokter segera datang memasuki ruangan.Langsung saja ia menyuntikan obat bius ditubuh Jennie.Perlahan ia melemas sampai akhirnya tidak sadarkan diri.Akhirnya ia tenang dalam pengaruh obat bius lagi.


"Dok apa yang sebenarnya terjadi? kenapa istri saya bisa sampai seperti ini?"tanya Reyno cepat.Ia tidak mau melepas pelukanya terhadap sang istri.


Reyno khawatir sekali saat mengatakanya.Jujur ia takut karena melihat istrinya histeris seperti orang yang terkena gangguan jiwa.


"Mari keruangan saya untuk membicarakan hal ini.Biar suster yang menangani dan memindahkan istri anda keruangan yang lain." Dokter berkata ramah untuk meredakan kekhawatiran yang ada di diri Reyno.


"Baik...Dok."







Jennie kenapa ya ?

__ADS_1


__ADS_2