
Suatu insident tidak terduga terja begitu saja. Tadi pagi air ketuban Jennie pecah, namun tidak terjadi kontraksi atau tanda-tanda bayi yang akan segera lahir, kecuali air yang keluar banyak sekali dari pangkal paha Jennie. Namun bodohnya Jennie tidak memberi tahu Reyno atau siapapun, Jennie berpikir itu bukan tanda melahirkan karena tidak ada rasa sakit sama sekali. Hanya air biasa, seperti air susu yang tiba-tiba keluar waktu itu. Karena perkiraan melahirkan Jennie masih sekitar satu minggu lagi.
Sore harinya Jennie baru merasakan kontraksi yang sangat hebat, anak itu menjerit keras hingga akhirnya jatuh tidak sadarkan diri. Darah segar mulai mengalir banyak sekali dari bagian pangkal paha Jennie. Anak itu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Reyno yang saat itu masih berada di kantor segera pergi ke rumah sakit ketika mendengar kabar buruk yang tidak terduga sama sekali.
Bayi yang ada di dalam kandungan Jennie sedang tidak dalam kondisi baik. Air ketubannya pecah sebelum masanya, dan kemungkinan buruknya sang bayi tidak sengaja meminum air ketubannya. Itu sanagt berbahaya. Sesampainya di rumah sakit, Jennie langsung di tangani oleh para ahlinya. Jennie harus melahirkan secara ceasar karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk melahirkan dengan normal. Kondisi gadis itu sudah amat lemah karena terlalu banyak mengeluarkan banyak darah.
"Mah, Jennie pasti baik-baik saja kan?"
Reyno sudah menangis di pelukan sang mamah. Sementara mommy Lynda dan suaminya juga saling berpelukan. Semua yang ada di situ berdoa untuk keselamatan Jennie dan bayinya. Termasuk pasangan baru William dan Tere juga ikut datang menunggu kabar terbaik. Hanya ayah Reyno yang tidak hadir, karena sibuk mengurus bisnisnya di Amerika. Namun sengaja belum diberi tahu kabar buruk ini agar tidak khawatir.
"Kamu tenang, Reynold. Istri dan Anak kamu sedang ditangani di dalam." Dina mencoba menenangkan anaknya yang terus gusar sedari tadi, padahal sudah di peluk erat oleh sang Mamah.
"Ini sudah lima jam, Mah.Tapi tidak ada satupun dokter yang keluar dari ruang operasi. Kita juga tidak dibolehkan masuk untuk melihat keadaannya." Menangis frustasi.
__ADS_1
Andai saja bisa, Reyno ingin sekali menggantikan Jenni di dalam sana. Biarlah dia yang menanggung segala beban, termasuk sakit yang sedang Jennie rasakan saat ini. Anak itu pasti sedang ketakutan di dalam ruangan mengerikan itu. Reyno masih ingat jelas saat Jennie meminta Reyno untuk berada disampin saat ia melahirkan nanti. Namun karena kondisinya sangat buruk, dokter melarang siapapun masuk. Jennie harus berjuang sendiri di dalam ruang operasi. Keberadaan orang lain akan mengganggu konsentrasi dokter untuk menyelamatkan bayi yang sedang kritis itu.
Pikiran Reyno melayang-layang tidak jelas saat ini. Ia meratapi ketidakberdayaan dirinya, padahal Reyno sudah berjanji akan menemani Jennie. Menyambut ke datangan Luna kecil di ruanh persalinan, bergandengan tangan tanpa terlepas sampai terdengar teriakan bayi yang keluar. Namun janji itu lenyap dengan kejadian buruk yang dialami Jennie sekarang.
"Reyno tenang yah, wanita itu kuat! Kamu pasti akan segera bertemu denganĀ Jennie dan Luna kecil."
Mommy Lynda datang menghampiri Reyno, lalu duduk di sampingnya.
"Maafkan kami ya, Reyn. Kami lalai dalam mengawasi Jennie saat di rumah. Hari ini memang tingkah Jennie sangat aneh. Gadis itu terlihat gelisah sejak tadi pagi, namun ia tidak mau cerita kalau air ketubannya sudah pecah sejak pagi." Mommy Lynda bercerita sambil menangis.
"Sudah Jeng, jangan menyalahkan siapapun. Benar kata Reyno, ini sudah takdir mereka. Lebih baik kita semua berdoa untuk keselamatan anak dan cucu kita."
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi. Reyno langsung berlari menghampiri sang Dokter dengan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"
"Pasien sangat membutuhkan banyak darah. Dia kehilangan hampir seperempat darahnya, kita butuh golongan darah O. Karena stok itu sangat langka di rumah sakit kami."
"Darah saya O, Dok. Ambil darah saya." Mommy Dina sudah menjerit histeris mendengar anaknya kritis.
"Dok, tolong selamatkan istri saya." Reyno juga tak kalah histeris. Bahunya sudah merosot, nyaris terpuruk di lantai. Untung William sigap memegangi adiknya.
"Jennie pasti baik-baik saja, Reyn. Kamu tahu kan, kalau gadis itu wanita super. Mahluk alien dari planet Mars." William mencoba menghibur adiknya dengan dengan wajah jenaka.
Alienku, kamu harus kuat. Aku akan menikah lagi jika kamu sampai kenapa-napa. Kamu pasti dengar kan? kata hatiku ini. Aku yakin kamu dengar itu.
***
__ADS_1
#Maaf ya lama update, ceritanya kan sudah tamat jadi aku pindah cerita baru. Jangan lupa mampir, ya.
SUAMIKU ANAK MAMI.