
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Reyno. Tamparan dari seorang wanita yang tidak lain adalah mamah kandungnya sendiri. Nyonya Dina datang ke kantor Reyno tanpa aba-aba terlebih dahulu. Farhan dan Katy sudah kelimpungan melihat kedatangan Nyonya Dina yang dadakan begitu. Segera ia menelepon Jennie untuk datang ke kantor, hanya wanita itu satu-satunya yang dapat menyelamkan Reyno dari ancaman maut Nyonya Dina.
"Mah, ini ngga seperti yang Mamah pikirin, Reyno ngga pernah menikah lagi." Kata itu sudah diucapkan lebih dari sepuluh kali. Namun mamah Dina tidak percaya sama sekali terhadap anaknya. Nyonya itu kalap dan menampar anaknya berkali-kali.
"Mamah tahu ada bayi di rumah kamu. Orang suruhan Mamah telah membeberkan rahasia kalian berdua. Reynoo..." Mamah Dina mendesah lemah, hampir menangis namun ditahanya. "Mamah ngga pernah ngajarin anak mamah buat poligami, katakan siapa wanita itu,"tanya Mamahnya.
"Tania, Mah."
"Apa! Jadi kamu selingkuh sama Tania, terus menikahi gadis itu. Lalu bagaimana dengan Jennie? Ya Tuhan, Jennie. Nasib kamu malang sekali, sayang. Mamah akan membawa Jennie ke Amerika. Kamu tidak becus merawat istri sendiri Reyno," decaknya kesal.
"Mamah." Suara halus itu membuat Dina menoleh ke arahnya.
"Jennie, ya ampun sayang. Maafkan anak Mamah, yah. Ayo kita pergi dari sini. Biarkan Reyno hidup sendiri."
"Mah, coba lihat ini." Jennie menuntun tangan Mamah Dina untuk menyentuh perutnya. Karena sedari tadi Mamah Dina terlihat fokus dengan amaranya, bahkan tidak melirik perut Jennie yang sudah membucit.
"Ya, ampun Sayang. Kamu hamil? kenapa tidak mengabari kami, nak. Suamimu benar-benar keterlaluan. Kalau tahu begini Mamah tidak akan menikahkan kalian."
"Mah, tenang dulu." Jennie menarik lengan Mamah Dina untuk duduk di sofa. Matanya melirik Reyno yang sudah babak belur mengenaskan.
"Mah, pernikahan kami baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali. Maafkan kami, Mah. Reyno dan Jennie belum sempat mengabari Mami dan yang lainya. Sebenarnya kami niat memberitahu di acara tujuh bulan Jennie nanti." Jennie melirik Reyno. Memberi isyarat agar suaminya iku duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa kamu mengizinkan suamimu menikah lagi?" Hati mamah Dina sudah panas. Melihat Reyno seperti melihat kecoa. Ingin menenginjaknya sampai gepeng, lenyap bila perlu.
Reyno mulai bicara, "Ceritanya panjang, Mah. Reyno di jebak sama ayah Tania saat itu, lalu Tania datang dalam keadaan hamil. Dia bilang itu adalah anak Reyno. Tapi Reyno ngga ngerasa hamilin dia, Mah. Reyno cuma sayang sama Jennie seorang. Reyno ngga menikah lagi."
"Lantas anak siapa yang ada di rumah kamu? apa kalian sudah melakukan tes DNA?" Mamah Dina mengibas-ibaskan rambutnya emosi. Kantor itu rasanya panas sekali. Namun hanya Mamah Dina yang merasakanya.
"Mah, Tania sudah meninggal sewaktu melahirkan anak itu. Jennie memutuskan untuk tidak melakukan tes DNA pada anak Tania. Jennie mau menganggap dia seperti anak kandungku sendiri, Mah.
"Ya ampun. Murah hati sekali kamu, sayang. Lihat tuh Reyno, istri kamu lembut bagiakan malaikat. Awas jika kamu sampai melakukan kesalahan sekali lagi, Mamah tidak akan memaafkanmu." Muka sebal itu ditujukan pada Reyno. Lalu melengos lagi dengan angkuhnya.
"Iya, Mah. Reyno kapok. Tidak akan menyaki Jennie lagi." Mengangkat kedua jari membentuk huru V.
"Pokonya Mamah akan membawa Jennie ke Amerika. Di sana ada Mommy dan Papihnya, ada Mamah juga, Jennie akan terlantar jika dibiarkan tinggal di sini. Mamah khawatir."
"Mah, Jennie baik-baik saja, kok. Reyno merawat Jennie dengan baik. Mamah tidak usah khawatir. Jennie pasti bisa jaga diri dengan baik."
"Mah, sepertinya Mamah dan Papah akan memiliki menantu baru." Reyno tersenyum.
"Apa maksudnya, Reyno. Apa akhirnya Kaka kamu akan menikah dengan Katy? Ya Tuhan, akhirnya anak tua bangka itu sadar juga dengan umurnya."
"Bukan dengan Katy, Mah. Sekarang Kaka sedang tergila-gila dengan seorang wanita. Reyno yakin, Kaka pasti ada di rumahnya."
"Benarkah, siapa wanita itu? mamah sangat penasaran. Perempuan seperti apa yang dapat menggait hati batu seperti kakakmu.
__ADS_1
"Nanti Mamah juga akan tahu. Alasan kenapa kaka tidak peduli mamah memblokir kartunya, itu karena Kaka memiliki satu hotel di Kota A. Reyno yang memberikanya waktu itu. Mungkin Kaka hidup dengan mengelola hotel itu disini."
"Kamu ini, ya. Kenapa memberinya hotel. Aset di kota A adalah milik kamu. Kaka sudah mempunya bisnis sendiri di Amarika," ucap Mamah Dina menyerngitkan dahinya.
"Tidak apa-apa, Mah. Harta tidak seberapa. Reyno sudah memiliki Jennie dan anaknya. Itu harta yang jauh lebih berharga dari apapun."
"Cih, dulu saja kamu menolak. Sekarang kamu bersikap seperti budak cinta," ucap mamah Dina mengunggingkan bibirnya sinis.
"Dulu sama sekarang kan beda, Mah."
"Terserahlah," ucapnya sewot. "Tiga bulan lagi Jennie lahiran,kan. Setelah itu Mamah akan mengadakan resepsi pernikahan untuk kalian berdua, seperti apa yang sudah Mamah janjikan waktu itu. Kalau. Kakakmu sudah memiliki calon, sekalin saja kalian Mengadakan resepsi pernikahan bersama."
"Makasih mah, Reyno sangat senang. Nanti Reyno akan bicara mengenai hal ini sama Kaka."
"Hmmmmm. Sekalian suruh bedebah itu pulang dengan calon istrinya."
Reyno tersenyum melihat Mamah Dina yang berwajah sewot. Namun ada kebahagiaan yang tidak terkira di hatinya. Hanya Reyno yang dapat melihatnya.
****
Mampir di cerita baru aku dong, ini lebih keren menurutku. William sama Tere akan aku ceritain detail di sini.
See you.
__ADS_1
***