Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Bab:84


__ADS_3

"Han..." Jennie menepuk pundak Hana saat ia sedang berdiri menunggu taksi.


"Ya..." Hana menoleh kebelakang.Ternyata itu adalah Jennie,mengagetkan saja,gumamnya.


Bertepatan dengan kehadiran Jennie,Devi juga ikut datang dibelakangnya.


"Sorry ya,Han.Aku lama..." Devi datang dengan nafas yang naik turun."Tadi aku udah sampai lobi,tapi ponsel aku ketinggalan."terang Devi.


Mereka berdua memang sudah ada janji menginap bersama dirumah Hana.Jennie juga sempat mendengar percakapan Hana dan Devi yang hendak menginap bersama.


"Eh,Jennie,ada apa?"tanya Devi.


"Sorry ya...taksi kita udah dateng nih,kita masuk dulu." Hana masuk kedalam mobil di ikuti oleh Devi.Hana tidak enak jika harus menyuruh pak supir menunggu lama lagi.Sudah cukup menunggu Devi lama sekali.


"Aku boleh ikut kalian ngga?" tanya Jennie ragu-ragu.


"Kamu seriusan mau ikut kita?" tanya Hana kaget.Devi juga ikut terkejut."Kamu yakin...?"


Jennie membuka pintu mobil dibagian depan.Lalu duduk tanpa menjelaskan apapun.Sementara kedua temanya yang duduk dibelakang,hanya diam memperhatikan sikap aneh Jennie.


Hana tahu,Jennie sangat susah bergaul dengan orang asing.Anak itu juga tidak pernah mau diajak main keluar oleh Hana.Maka dari itu, mereka semua bingung dengan sikap Jennie yang tiba-tiba aneh.Sopir taksi mulai melajukan mobilnya perlahan,meninggalkan gedung itu lebih jauh.


"Kamu lagi ada masalah,ya,Je?"


Tentu saja jawabanya adalah ia.


"Aku cuma bete dirumah,jadi aku pengin ikut menginap dirumah Hana."


Kalau saja Reyno tidak memaksa Jennie untuk memeriksakan kandunganya,ia tidak akan kabur dan terjebak dalam keadaan seperti ini.Jennie merasa baik-baik saja,tidak ada yang aneh dengan perutnya.Tidak sakit ataupun mual.Untuk apa periksa?


Selama bayi itu tidak mengganggu.Jennie akan membiarkan ia tetap aman disana.Anggap saja tidak ada mahluk itu didalam perutnya,maka Jennie akan lupa dengan statusnya yang sedang menyandang gelar ibu hamil.


Ibu...?


Akh,Jennie benci sekali kalau mengingat kata itu.


"Tapi dirumahku hanya ada satu kamar Dan ranjangku akan sangat sempit jika dipakai tidur bertiga" Hana menjelaskan keadaan rumahnya yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak mengizinkan aku ikut?itu maksud kamu!"Jennie menoleh kebelakang dengan mata menyalang.


"Ya ampun,Jennie! bukan seperti itu maksudnya.Aku cuma mau jelasin keadaan rumahku yang sesungguhnya."


"Ya sudah.Aku tidak masalah."


Sementara dibalik kaburnya seorang gadis planet bernama Jennie,ada cowok yang wajahnya sudah merah padam menahan emosi.Otaknya meradang karena para penjaga yang ada diseluruh gedung tidak mengetahui keberadaan istrinya.


"Kalian semua bodoh,mengawasi anak abege saja tidak becus.Jumlah kalian ada sepuluh,bisa-bisanya kalian lalai menjaga seorang wanita."Reyno menatap satu persatu wajah pria bertubuh besar yang ada dihadapanya."Saya tidak mau tahu! cari tahu keberadaan Jennie sampai ketemu." bentaknya emosi.


Ke sepuluh penjaga itu hanya menganggguk patuh tanpa berani melawan atasanya.Mereka memang sengaja di sewa Reyno untuk menjaga Jennie dari jarak jauh.Dan itulah yang menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka.Jennie sangat licin bagai belut,meleng sedikit saja,anak itu sudah lenyap dari pandangan mereka.Bukankah bosnya lebih tahu seperti apa rasanya menghadapi cewek mengerikan itu?


Bisa jadi Jennie sudah tahu kalau gerak-geriknya sedang diawasi.Anak itu sudah terlahir cerdik sejak bayi.Tidak menutup kemungkinan bahwa Jennie mengetahui tentang pengawasan itu.Sejak Jennie hamil,Reyno menjadi semakin introvert,bahkan menyewa sepuluh pengawas untuk menjaga istrinya.Demi tidak terjadinya hal buruk yang menimpa Jennie seperti sebelumnya.


"Permisi Tuan,saya sudah menemukan keberadaan nona Jennie."Farhan masuk keruangan Reyno dengan cucuran keringat.Selama setengah jam itu,Farhan mondar-mandir memeriksa rekaman cctv di seluruh gedung berlantaikan 39.Bisa dibayangkan betapa lelahnya Farhan saat ini.


Setengah jam yang lalu,Reyno marah-marah dan melimpahkan kesalahanya pada Farhan.Hilangnya Jennie adalah tanggung jawab ke sepuluh bodyguard, yang dimana Farhan diutus sebagai penanggung jawab Bodybuard itu.Farhan juga yang telah mencarikan kesepuluh pengawas untuk Jennie.


"Dimana bocah nakal itu ...?"


"Tidak perlu,saya akan menjemputnya sendiri.Segera kirim alamat Hana melalu chat." Reyno memakai jasnya,mengambil ponsel lalu melangkah pergi dengan terburu-buru.


Kali ini ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada istrinya.Setiap kali Jennie melakukan aksi kabur dadakanya,ia selalu mengalami hal buruk diluar jangkauan Reyno.Pria itu harus memastikan dengan kedua matanya,bahwa Jennie sedang baik-baik saja.


Kembali lagi bersama Jennie,Hana dan Devi.Mereka berdua baru selesai menyelesaikan kegiatan masak-masaknya.Sementara Jennie hanya duduk sambil menunggu mereka selesai memasak.Sesuai janji,Hana dan Devi memang berencana mengadakan pesta hotpot dirumah Hana.


Rumah?


Jennie bahkan tidak mengerti kenapa tempat sekecil itu bisa dianggap sebagai rumah.Ruangan yang besarnya hanya seukuran kamar Jennie,dimana satu ruangan itu sudah di skat untuk ruang tamu,kamar tidur,dapur dan kamar mandi.Jangan lupa,meja di ruang tamu itu juga digunakan sebagai meja makan.


Memang tidak semua orang mempunyai nasib beruntung seperti Jennie.Anak itu terlalu menutup matanya dari dunia luar,sehingga ia tidak pernah melihat kehidupan sederhana seperti ini.Baru kali ini juga Jennie mempunya teman dari kalangan orang biasa.Karena memang sejak kecil Jennie selalu berteman dengan anak-anak dari kalangan sosialita.Rata-rata dari mereka adalah anak sahabat orang tuanya.Seperti Tere dan Lisa,kedua orang tua mereka bersahabat akrab dengan orang tua Jennie.


"Enak banget..." Jennie berseru bahagia saat mencicipi kuah hotpot buatan Hana.Makanan yang tidak terlalu mewah,namun dapat membuat cacing-cacing didalam perut bergejolak minta diberi asupan.


"Makan yang pelan Jennie,kamu seperti baru pertama kali memakanya." Hana menasehati.Bahaya kan,kalo sampai tersedak lalu mati ditempat.


"Kamu ngga bantuin kita sama sekali,tapi makan paling banyak.Jennie ngga tahu malu ikh."Devi mencebik kesal.

__ADS_1


"Sttt...selera makanku lagi baik,biarkan aku makan dengan tenang.Jangan ganggu."Jennie mencopot dua gelang edisi tiffany bangle dari tangan kirinya."Ini buat kalian,anggap saja sebagai rasa terima kasihku,karena kalian sudah memasak makanan enak ini buat aku."Jennie memberikan dua gelang itu pada Hana dan Devi.


Sontak dua wanita itu kaget dan girang bukan main.Gelang yang mereka anggap harganya cukup fantastis,Jennie berikan secara cuma-cuma.Bahkan hotpot itu biasa saja menurut mereka.


"Gila...gila ... ini asli kan? ya Tuhan,kamu serius mau ngasih ini kekita..." Devi dan Hana saling melempar pandanganya."Ini mahal loh,Je..."saut Hana kemudian.


"Itu asli,kalau ngga percaya jual aja.Aku punya banyak,kalo kalian suka terima saja." Jennie melanjutkan makanya kembali.


"Ya ampun Jennie,terima kasih."Devi mencium gelang itu senang." Makasih y Je...sambung Hana.


Hana tahu kalau Jennie memang orang kaya,tapi ia tidak pernah berfikir kalau anak itu akan sedermawan ini.Apa lagi hanya karena hot pot rumahan ala-ala Hana.


Ya Tuhan...mimpi apa Hana dan Devi semalam?


Ting..tong...ting...tong...ting...tong...


Suara bell terus berbunyi mengganggu suasa makan mereka.Si tamu terus menekan bell dengan tidak santai.


"Soyopho...?" tanya Jennie melempar pandanganya kearah Hana.Mulutnya masih dipenuhi banyak daging dan sayuran didalamnya.


"Entahlah..." Hana mengedikan bahunya.Selama ini bahkan hampir tidak ada orang yang pernah bertamu dirumahnya.


"Biar aku yang buka.Tuan rumah dan nona ratu duduk saja..."Devi bangun dari duduknya.Ia segera melangkah untuk membukakan pintu.


"Siapa sih ?"cetusnya geram.Kedua mata Devi membola saat sesaat Handle pintu ditariknya."Tuan muda Reyno..?"


Kedua orang dibelakangnya juga ikut kaget mendengar seruan mulut Devi.Tentu saja Jennie dan Hana langsung dapat melihat siapa orang yang sedang bertamu dirumah Hana.Jarak pintu hanya lima langkah dari tempat mereka makan.


"Bolehkah saya masuk ...?" tanya Reyno ketika melihat Devi masih ternganga dengan pikiranya.


"I..i..iya..si...si,,,silahkan." jawabnya terbata.


Kakinya gemetar melihat sosok tampan yang ada didepanya.Dikantor saja,Devi hampir jarang sekali melihat bayangan bosnya.Cewek itu takut dipecat karena sempat membentak saat membukakan pintu tadi.Mana Devi tahu,kalau ternyata orang yang menekan bell tidak sabaran itu adalah bosnya.


Mati kau Devi...!


Untuk apa tuan muda Reyno mengunjungi tempat yang Hana sebut sebagai rumah ?

__ADS_1


__ADS_2