Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
48


__ADS_3

Kamu itu seperti kucing,begitu imut nan lemah lembut.Tapi kalau suasana hati kamu sedang tidak baik,kamu akan mencakar dan tak segan menerkamku.Miaw.....


~Reynold Giovani~


β€’


β€’


β€’


🍁🍁🍁


Jennie sedikit bangun ketika cahaya matahari mulai menelisik masuk dan menusuk matanya.Tubuhnya terasa jauh lebih fresh dari kemarin,ia sudah sembuh total berkat obat dokter yang kemarin diberikan.Jennie menggeliat dan mulai mencari sosok yang paling ingin dicari ketia ia bangun.Masih dengan mata setengah terpejam,tanganya mulai meraba kesebelah untuk menjangkau tubuh suaminya.Pagi itu tidak ada sosok dari tubuh besar yang selalu menempel pada dirinya.


Suasa kamar yang sangat hening membuat gadis itu langsung duduk terbangun.


Ia mengucak kedua kelopak matanya lalu melihat kesekeliling dengan pandangan bingung,Hal yang pertama kali ia cari adalah Reyno,Jennie melihat kearah pintu kamar mandi,namun sepertinya Reyno tidak sedang mandi.Dimana mahluk itu berada ?apa mungkin ia marah gara-gara Jennie menggodanya semalam ? ini pertama kalinya Jennie bangun dan tidak ada sosok Reyno yang tidur disampingnya.Rasanya aneh,mengingat selama berlibur mereka selalu bangun secara bersamaan.


Jennie menyingkap selimut lalu menjulurkan kakinya,ia beranjak dan melangkah menuju kamar mandi,menyalakan kran wastafle dan membasuk wajahnya.Sejenak ia termenung menatap kaca besar yang ada dihadapanya.Seluruh isi kepalanya penuh dengan tanda tanya,Dimana Reyno sebenarnya ?


Sekitar sepuluh menit dilanda kebimbangan,akhirnya Jennie memutuskan untuk keluar dari kamarnya,dipikir-pikir jenuh juga kalau harus menunggu dikamar tanpa kepastian,lebih baik keluar dan menanyakan keberadaan Reyno pada orang lain.Walau sebenarnya ia takut jika bertemu dengan mamah Dina.Namun bagaimana pun juga,ia tidak bisa berdiam diri saja,rasa penasaranya menuntun Jennie untuk segera keluar.


Setelah keluar dan bertanya.Kata pelayan yang ia temui,Reyno sedang berada di dapur.Jennie pun mulai turun dan berjalan menuju dapur sesuai arahan dari sang pelayan.


Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang ada di depan matanya.Jennie melihat Reyno sedang memotong beberapa sayur,lengkap dengan celemek yang melekat ditubuhnya.Ia nampak asik membantu mamah Dina memasak.Reyno keren sekali,bahkan Jennie terkagum-kagum melihat kegiatan yang sedang dilakukan suaminya.Eitzzz...tunggu dulu.Jennie merasakan kejanggalan pada adegan yang ia lihat sekarang.


Pemandangan macam apakah ini ??


Bukankan seharusnya Jennie yang berada di posisi Reyno.Seperti drama yang sering ia lihat di tv,seharusnya Jennie yang sedang masak membantu mamah Dina.Suasana hatinya menjadi canggung seketika itu juga.Jennie lalu memutuskan untuk berbalik pelan meninggalkan mereka.Baru sekitar lima langkah ia menjauh,mamah Dina tiba-tiba memanggil namanya.


"Jennie sudah bangun ?" mamah Dina membawa semangkok besar sup dan meletakanya diatas meja."Ayo duduk,sebentar lagi makananya siap.


Jennie melempar senyuman garing,sikap mamah Dina berbeda sekali dengan yang semalam.


"Mamah udah ngga marah sama aku ?" Jennie bertanya polos,yang hanya dibalas dengan senyuman manis oleh mamah Dina.


"Duduk saja dulu." titah mamah Dina.


Jennie menarik kursi lalu duduk.Suasana semakin aneh,sebagai wanita ia merasa malu karena melihat suaminya sibuk memasak.Sedangkan ia malah duduk manis seperti seorang putri.


"Mah ..." panggil Jennie pelan.di ikuti dengan kepala mamah Dina yang langsung menoleh ke arahnya."Maaf Jennie ngga bisa bantu,Jennie ngga bisa masak." ucapnya hati-hati sekali.


Lagi-lagi mamah Dina hanya tersenyum melihat kecanggungan gadis itu.Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Jennie.


Kini Jennie merasa menyesal,dulu ia selalu menolak setiap kali Momy menyuruhnya les masak.Penyesalan memang selalu datang diakhir.


"Mamah pasti marah ya gara-gara Jennie ngga bisa masak?" tanya Jennie sekali lagi.


"Untuk apa marah,Reyno memang sudah terbiasa seperti itu .karena mamah tidak memiliki anak perempuan.Jadi Reyno lah penggantinya,dia bisa mengerjakan tugas wanita saat dirumah."

__ADS_1


Jennie hanya tersenyum mendengar ucapan mamah Dina.Jujur saja,gadis itu tidak tahu harus berkata apa.Yang jelas ia merasa malu karena tidak becus menjalani kewajibanya menjadi seorang istri,terutama memasak.


"Ayo makan..."ajak mamah Dina saat Reyno ikut bergabung dan duduk disamping Jennie.


"Jangan sungkan,kamu ngga perlu malu kalau tidak bisa masak.Biar saja suami mu yang mengerjakan semuanya.Tugas kamu cukup habiskan uang Reyno.Ngga usah irit-irit,pria malah akan semakin ngelunjak kalo kita baikin."


Jennie menggaruk kepalanya bingung.Dapatkah ia mengartikan ini adalah sebuah sindiran untuknya.Karena hanya itulah yang Jennie bisa lakukan selama ini.Fiks,ini pasti sindiran.


Jennie tidak pernah mendengar seorang mertua yang berkata seperti itu pada menantunya.Semua yang mamah Dina katakan berbanding terbalik dengan logika yang bagaimana seharusnya.


Lamunanya terhenti ketika mamah Dina menyodorkan sepiring nasi untuknya. Adegan macam apa lagi ini ?Jennie semakin tak mengerti,mengapa mamah Dina memperlakukanya sebaik ini.Ditambah ucapanya yang kurang masuk diakal.


"Mamah lagi nyindir Jennie ya gara-gara Jennie sering ngabisin uang Reyno ?" Jennie menanyakan sesuatu yang mengganjal dihatinya.Membuat Reyno ikut menoleh mendengar pertanyaan gadis itu.


"Ngapain marah ?semua wanita pasti ingin ada diposisi kamu,jadi nikmatin saja apa yang kamu dapatkan sekarang."


"Iya mah." Jennie menjawab seadanya.


Benar apa yang Reyno katakan,mamah Dina tidak segalak yang ia kira.Mamah Dina begitu baik memperlakukan Jennie pagi ini.Walau sebenarnya Jennie masih agak kesal karena mamah Dina mengerjainya semalam.Tapi semua itu terbayar oleh kelembutan yang mamah Dina berikan pagi ini.


"Oh ya...kalian disini seminggu kan ?" mamah Dina bertanya ditengah kegiatan makanya.


Jennie mengalihkah pandanganya menatap Reyno.Biarlah Reyno yang menjawab.


"Kita cuma dua hari mah."sela Reyno begitu saja.


"Ngga bisa,kalo kalian ngga disini seminggu,mamah ngga akan maafin kesalahan kalian.Mamah marah." ancam mamah Dina merajuk,apapun yang terjadi mamah Dina harus dituruti semua keinginanya.


"Kamu gimana Jennie ?"


"Jennie pasti mau mah,," diikuti dengan seringai lucu dari gigi kelincinya.Walaupun Jennie tidak betah di villa itu,mau tidak mau ia harus menuruti mamah mertuanya.Apa lagi mamah Dina nampak seperti orang yang suka berubah-ubah moodnya.


Pada dasarnya,mamah Dina sangat senang dengan kehadiran Jennie.Ia sudah menantikan sangat lama kehadiran sosok perempuan dalam keluarganya.Tentu saja ia tidak akan membiarkan Jennie pulang begitu saja.


"Oh ya...satu lagi,mamah harap kalian tidak menunda untuk memiliki momongan.Pokonya kalian berdua harus segera mengurus progam hamil anak pertaman ."


"Mah ,Jennie masih 19 tahun loh,tunggu lulus kuliah dulu.Biarkan ini menjadi urusan kita berdua mah."


Kali ini mamah Dina diam mengalah,walaupun ia sangat ingin memiliki seorang cucu.Namun Jennie masih tergolong anak diusia remaja,biarlah itu menjadi urusan mereka.Semoga saja anak bodoh itu lupa memakai pengaman lalu Jennie akan hamil.xixiixi--


Drtttt...


Ponsel Reyno bergetar disakunya,ia segera merogoh dan membuka pesan yang baru saja ia terima. 60 detik ia terpaku melihat pesan itu.Entah sebuah pesan apa ,yang jelas ekspresi wajah Reyno berubah sangat cepat seperti orang yang sedang banyak pikiran.


"Pesan dari siapa ??" tanya Jennie ketika Reyno memasukan ponselnya kedalam saku kembali.Reyno seperti orang yang tidak ingin siapapun melihat pesan itu.


"Urusan kerjaaan." jawabnya singkat.Reyno melanjutkan kegitan makanya kembali.Namun nampak berbeda dari sebelumnya,Reyno tampak gusar dan gelisah.


Setelah semua selesai makan,Jennie langsung memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa ?ada masalah .."tanya Jennie peka.Cowok itu tidak akan mampun menyembunyikan apapun dari istrinya yang posesif.


"Iya,ada masalah dikerjaan..kayanya Reyno ngga bisa nemenin mamah di Villa,ada urusan mendesak."jawab Reyno hati-hati.Di ikuti bibir mamah Linda yang tiba tiba mengerucut.


"Mah,biarin Reyno pergi yah,,Jennie akan nemenin mamah disini sesuai janji." ucapnya bijak.Gadis itu mulai dewasa,Reyno kira Jennie akan marah mendengar perkataanya.


"Huh,selalu begitu." mamah Dina meraih gelas segelas air putih lalu meminumnya.


"Yaudah,kalo Jennie sudah mengizinkan.Mamah juga izinin kamu pergi.Tapi inget ,Jennie harus disini selama satu minggu.Kalo urusan kamu sudah selesai,kamu langsung kesini lagi,jangan bohong.Kalo kamu berani bohong,mamah gak segan-segan hukum kamu.Cepat selesaikan urusan kamu." mamah Dina berbicara panjang lebar sekaligus mengancam.


"Iya mah...SIAP"


β€’


β€’


Reyno bergegas menuju kamar untuk siap-siap.Setelah satu jam akhirnya Reyno telah rapih hendak berangkat menuju bandara.


"Mah Reyno berangkat dulu ya. " Reyno mencium tangan mamah Dina.


"Inget pesan mamah ya Reyno..."ancamnya sekali lagi.


"Iya mah..." Reyno bergeser dan memeluk istrinya,tak lupa ia mendaratkan satu kecupan dikening istri kesayanganya."aku berangkat dulu ya Je,,,kamu jaga diri baik-baik disini."


"Iya,,kamu juga hati-hati.Semoga urusan kamu cepet selesai yah." jawabnya lembut,tak lupa ia mencium tangan Reyno sebagai bentuk kepatuhanya.


Reyno berbalik dan segera masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibuka sedari tadi oleh sang supir.Detik kemudian, mobil itu berlalu pergi melewati gerbang hitam tinggi yang menjulang.Jennie terus menatap mobil Reyno sampai tak terlihat,seakan tak merelakan suaminya pergi.Entah mengapa hatinya terasa berat ditinggal Reyno kali ini.


"Maafin aku Jennie--" lirih Reyno didalam mobil.


β€’


β€’


Hai hai readers kesayangan author...


aku kangen banget sama kalian....


Masih staydirumah kan ??


jangan lupa jaga kesehatan yah....


.


.


Jangan lupa tekan tombol like dan coment yah... kalo sempat boleh sekalian minta bintang lima okeh...


terimakasih semunya.

__ADS_1


salam❀❀❀


Rita


__ADS_2