
Reyno menarik handel pintu secara perlahan,dilihatnya sang istri sedang berbaring nyaman diatas singgahsananya.Lalu kakinya pun melangkah semakin dekat dengan tujuanya.Cowok itu merambat naik ke atas ranjang dengan hati-hati.Duduk bersandar,tepat disamping pujaan hatinya.
Reyno memandangi wajah sang istri lekat.Hanya memandang,tidak berani menyentuh.Takut-takut Jennie terganggu lalu bangun.
"Shhhhttt ..." Reyno mendesis kesal ketika mendengar suara yang sangat mengganggu disamping kamarnya.Siapa lagi kalau bukan Kaka tercinta dan teman ranjangnya.Mungkin ini yang dinamakan hukum karma berlaku secepat kilat.
Suara gaduh mereka sukses membuat gendang telinga Reyno berdengung ngilu.Volume orang yang sedang berlomba mencapai puncak nirwana memang menyebalkan.Andai saja Jennie tidak tidur senyenyak itu,tidak mungkin Reyno mau menginap di apartemen Tere.
Jantungnya bertalu-talu tidak jelas.Tentu saja karena Reyno juga ingin melakukan hal yang sama seperti mereka.Namun kembali lagi,Jennie sudah tidur pulas.Kalaupun belum tidur,Reyno juga tidak mungkin bisa melakukan hal itu.Kemarin malam mereka baru saja melakukanya di rumah Hana,tidak mungkin sekarang melakukanya lagi.Reyno tidak ingin menyakiti bayinya,harus bisa ditahan.
Reyno memang bukan baru pertama kalinya mendengar hal semacam itu.Dulu sewaktu sma,Reyno juga sering mendengar desahan wanita dari kamar kakanya.Namun sekarang rasanya berbeda,tubuhnya gelisah tidak menentu.Jiwanya gusar menahan birahi yang tidak tersalurkan.Mungkin karena dulu Reyno masih polos,beda dengan sekarang yang sudah menjadi rajanya ranjang.
Reyno mulai berbaring dan memejamkan kedua matanya.Sengaja ia tidur membelakangi Jennie agar otaknya tidak menuntun dirinya untuk berbuat yang tidak-tidak.Disaat ia sudah mulai terjun ke dasar mimpi,tiba-tiba Jennie memeluk tubuhnya dari belakang.
"I love you,"bisik Jennie lembut,tepat ditelinga Reyno.Cewek itu mengeratkan pelukanya semakin lekat."Maafin aku untuk hari ini,Reyn.Maafin aku atas segala sikap aku yang menyebalkan.Aku juga ngga tahu kenapa,hati aku bawaanya kesel dan penginya marah-marah."terang Jennie menyesali perbuatanya.
"Kamu boleh marah sama aku sepuasanya.Asal jangan lama-lama marahanya.Dan yang terpenting,semarah apapun kamu ke aku,harus tetap ada di dekat aku terus." Reyno berbalik badan sesaat ia membalas omongan Jennie.Cowok itu merangkum wajah istrinya penuh cinta.
"Aku itu ngga bisa marah lama- lama sama kamu tau,Reyn." Jennie mencubit kedua pipi Reyno gemas.Lalu memainkanya seperti boneka.
"Kenapa?"
"Kamu itu cakep banget,mau marah jadi ngga konsen.Abis aku marah,pasti bawaanya pengin nempelin kamu terus."Jennie tersenyum.
Cewek itu memang seperti sang bidadari jika sudah menemukan kewarasanya.Walau saat berubah menjadi monster terasa menyebalkan.
"Kamu itu,udah pinter gombal ya ..." Reyno menggelitik perut sang istri.Lalu mengelus si jabang bayi yang ada didalamnya. " Hallo sayang,sehat-sehat ya,didalam sana.Papih sama Mamih udah ngga sabar mau ketemu sama kamu."
"Kok mamih,sih?" protes Jennie tidak terima.Alisnya mengkerut bersamaan dengan bibir yang dimajukan tiga centi.
"Kamu kan ngga suka dipanggil ibu,jadi mamih aja.Mamih muda yang cantik jelita." Kelakarnya.
"Ikhhh,kamu bisa aja bikin aku gak marah.Kamu ketularan kakak kamu,ya?" decak Jennie gemas.
"Kita itu satu darah,wajar kalo sama.Cuma versi adiknya belum tumbuh kemahiranya,hehe,"
Jennie segera menutup kedua telinga Reyno saat mendengar suara yang paling tidak ingin didengarnya.
"Jangan dengar,anggap ngga ada suara apa -apa dikamar sebelah."
Telat!
"Aku udah dengar dari tadi sayang," Reyno mengarahkan tangan Jennie diatas benda tumpul miliknya."Dia sudah on sedari tadi,sejak kamu masih tidur nyenyak." ucapnya biasa saja.
"Kamu ngga akan maksa aku,kan? ini bukan jadwal kita.Kamu ngga boleh kepancing sama mereka.Kamu sayang sama anak kamu,kan,Reyno?"Jennie sedikit bergeser menjauhi Reyno.Ia takut kala-kala Reyno menggila dan langsung menerkamnya.
"Engga,kok.Aku sayang sama anak kita.Aku ngga akan apa-apain kamu,jangan takut..."Reyno duduk lalu menjulangkan kakinya diatas lantai.
"Mau kemana ...?"tanya Jennie.
"Mau mandi." jawab Reyno dengan seringai.Lantas cowok itu segera bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi.Saat ia sudah mencapai ambang pintu,tiba tiba Jennie memanggil namanya,"Reyn ..."
"Ya ?" Reyno menoleh kearah Jennie.
"Mau aku bantuin ngga ?" tanya Jennie dengan wajah jenaka.
__ADS_1
"Yakin ...?" Jennie mengangguk lucu lalu menjawab."Iya,yakin."
"Masuklah ..."
Reyno segera masuk kedalam kamar mandi.Diikut oleh Jennie yang menyusul kedalam.
*
Empat puluh lima menit kemudian.
Jennie keluar terlebih dahulu dari kamar mandi,wajahnya ditekuk kesal sembari kaki yang terus dihentak-hentakan secara kasar.
Sementara Reyno juga ikut keluar dibelakang Jennie setelahnya.Berbeda dengan sang istri,Reyno nampak sumringah beserta wajah bahagia yang terpancar.Ada aura kepuasan yang bersinar terang di matanya.
"Kamu kalo ngga nyiksa tubuh aku ngga senang ya, Reyn.Lihat nih,tangan aku sampe pegel gara-gara kamu." Jennie berdecak sebal sembari memijit tangan kananya yang terasa kebas.
"Hehehe ... ya,maaf.Lagian kamu sendiri yang nawarin diri,loh.Aku ngga maksa kamu buat ikut,tadi.Jadi itu bukan salah aku,dong!"terang Reyno membela diri.
"Iya,emang bukan salah kamu.Tapi salah enoki sialan kamu yang udah ngerjain aku." tutur Jennie geram.Matanya menyalang tajam menyoroti bagian bawah tubuh suaminya."Mendingan kamu lenyapin benda itu dari tubuh kamu.Kalo perlu aku yang potong sampai tandas." gerutu Jennie kesal.
"Serem banget kamu,kalo ngomong.Kamu yang payah,malah nyalahin dia."balas Reyno tidak terima.Lantas ia menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan wajah marah menatapnya."Sini aku pijitin,deh."
"Benda ngga tahu diri kayak gitu,buat apa dipelihara?" Jennie menghempaskan tangan Reyno yang sedang memijitnya.
"Jangan ngambek dong.Aku kan udah minta maaf.Seharian ini kita berantem terus,masa malam mau berantem lagi,sih?" rayu Reyno.
Benar saja,cewek itu langsung tenang begitu melekat didalam dada Reyno.Memeluknya semakin erat,bahkan menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.
"Reynnnnnnn ...".Rengek Jennie tiba-tiba.Ada firasat buruk yang menari-nari dadakan di kepala Reyno."Aku kayaknya nyidam sesuatu deh."
Tuh-kan...
Benar dugaan Reyno.Firasat buruk dalam dirinya tidak pernah salah.Setiap kali Jennie memanggil namanya dengan alunan manja ciri khas itu,pasti ada kesusahan yang harus Reyno lalui setelahnya.
"Kamu mau apa?"tanya Reyno hati-hati.
__ADS_1
"Es jeruk ..."
Fiuhhh.Reyno menghembuskan nafas lega mendengar kata 'es jeruk'.Untung hanya es jeruk,bukan ajakan shopping ditengah malam.
"Tapi minumnya di pulau Jeju."
Oh My Godneeeeeeeeeeees ....
Korea ?
__ADS_1