Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Tiga


__ADS_3

Hallo, aku datang lagi, nih. Kira-kira masih ada yang nungguin apa engga, sih?


Semoga masih ada yang baca walau cuma satu atau dua.


Selamat membaca.


***


Tubuh Tere begetar hebat dengan derai air mata yang bercucuran. William pergi meninggalkan gadis itu karena tiba-tiba ia berubah pikiran. William memutuskan Tere secara sepihak, padahal belum lama kemarin Tere mendapatkan kalimat-kalimat manis yang sangat meyakinkan di atas ranjangnya.


Jennie dan Reyno baru saja pulang, mereka berdua berjanji akan membantu membujuk William. Reyno juga sudah berjanji pada Mamahnya mau mengadakan resepsi pernikahan bersama dengan Kakanya. William memang keterlaluan. Di mana sebenarnya pria itu.


"Kamu dimana?" tanya Tere dengan bibir bergetar. Sudah ratusan kali ia memhubungi William, namun cowok itu baru sempat mengangkat panggilan teleponya sekarang.


Maaf, aku hanya ingin menenangkan diri sejenak. Tiba-tiba aku merasa ragu untuk menikah. Aku perlu memikirkan hal ini dengan matang. Aku takut tidak dapat menjalani pernikahan dengan baik, aku takut menyakitimu, Re. Ucap William dari jauh sana.


"Pulang, sekarang! Sampai kapan kamu akan seperti itu. Aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, pulanglah. Aku merindukanmu." Isak tangis Tere begitu terdengar di telinga William.


Tolong beri aku waktu, aku hanya ingin menenangkan diri. Maaf. William menutup teleponya.


***


Jennie dan Reyno baru sampai di rumah pukul 19.00 malam tadi. Mereka langsung mandi dan membersihkan diri. Tadi keduanya sempat mampir sebentar untuk makan malam di salah restaurant. Kini keduanya sudah siap untuk mengistirahatkan diri. Mengobrol sebentar seperti yang sering mereka lakukan setiap malam menjelang tidur.


"Reyn, apa kamu ngga bisa bujuk Kaka kamu? Kasian Tere, kamu lihat kan dia itu frustasi banget ditinggal William." Jennie membuka obrolan saat suaminya mulai naik ke atas ranjang.


"Kaka itu susah, Je. Dia ngga bisa di bujuk kalau sudah menyangkut pasangan. Biar itu menjadi urusan mereka, biarpun kami Kaka beradik, tapi William ngga kaya aku. Dia tahu bagaimana cara menyenangkan wanita, tapi dia selalu takut untuk menjalani hubungan serius."

__ADS_1


"Tapi Tere gimana? aku kasian liat keadaan dia yang sekarang." Menyandarkan kepalanya di pundak Reyno sembari memainkan dadanya dengan telunjuk.


"Aku ngerasa perasaan William sama Tere itu beda, Kaka terlihat sangat menyayangi gadis itu. Mungkin dia butuh waktu untuk menyadari perasaanya. Beri dia waktu untuk berfikir, barulah nanti kita bujuk bedebah itu perlahan." Reyno mengelus rambut kepala Jennie. Ini sudah satu minggu mereka tidak melakukan hubungan badan, dan Reyno sudah tidak mampu lagi menahan batasanya.


Pria itu mulai memberikan kode-kode sentuhan lembut. Mencium ceruk leher sang istri berkali-kali.


"Reyn, jangan macem-macem, ya. Aku ngga mau!" Si peka sudah memberikan sebuah penolakan terlebih dahulu.


"Aku ngga mau ngelakuin itu, kok. Cuma mau mesra-mesraan aja." Reyno mendudukan Jennie diatas pangkuanya. "Aku ngga akan maksa kamu." Mencium lembut permukaan bibir tipis nan indah itu. Berlama-laman bermain pada satu titik itu.


Cara terbaik untuk membujuk seorang Jennie adalah dengan cara memberinya sedikit kelembutan, lalu cewek itu akan memberikan tubuhnya dengan suka rela. Jennie memang tidak bisa di paksa, Reyno sudah paham akan hal itu.


"Eh, kenapa basah?" Reyno terkejut bukan main. Gaun tidur yang Jennie kenakan tiba-tiba basah, seperti ada yang mengalir dari bagian dadanya.


"Ini kenapa? kenapa?" Panik tingkat tinggi.


"Asi?" Reyno bingung. "Bukankah anak kita belum keluar? Kenapa sudah ada asi?" Reyno mendadak kehilangan hasrat bercintanya karena panik. Cowok itu menurunkan istrinya, lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil daster baru untuk sang istri. Peka sekali.


"Pakai ini, nanti kamu masuk angin."


"Bukankan tadi kamu yang ingin membuatku masuk angin? Aku tahu niat kamu loh, Reyn." menurunkan gaun tidurnya yang basah.


"Dasar bumil, kamu tau banget, sih." Jadi malu sendiri. Reyno menjawil hidung istrinya gemas.


"Lakukanlah ...." Jennie memberikan sinyal kebahagiaan untuk sang suami.


"Benarkah?" Bahagia tiada tara.

__ADS_1


"Hmmmm." mengangguk dengan senyuman.


Reyno mulai melancarkan aksihnya. Bergelut dengan penuh cinta di malam yang indah itu. Mereka berdua terbang ke ujung nirwana, menikmati sentuhan dan desahan indah di dalam kamar tercinta.


(21+ aku skip, maaf)


Jennie berbaring dengan posisi Reyno yang memeluknya dari belakang. Mengelus sang buah hati yang sangat aktif bergerak sedari tadi. Kedua tubuh polos itu bersembunyi di balik selimut tebal. Saling merasakan sisa kenikmatan yang baru saja mereka dapatkan.


"Reyn," panggil Jennie lemah.


"Iya, Bei." Menciumi rambut Jennie tidak berhenti.


"Boleh ngga, kalo aku kasih nama anak kita dengan panggilan Luna?" Bertanya dengan nada lembut, namun sukses membuat cowok itu terperanjat.


"Dari mana kamu memikirkan nama itu?" Tentu saja otak Reyno langsung beralih pada Tania, itu adalah nama panggilan kesayangan Reyno untuknya.


"Aku tahu itu nama panggilan kamu untuk Tania, sengaja aku pilih nama itu, agar baby Vino bisa merasakan kedekatan dengan ibunya. Lunabella! bagaiamana, kamu suka?"


"Aku suka apapun yang kamu suka, jika kamu menurut kamu itu bagus, aku setuju." Lebih baik berkata iya dari pada membantah. Walau sebenarnya Reyno sangat penasaran ingin tahu dari mana Jennue mengetahu panggilan itu.


"Lunabella Giovani Londa, semoga kedua anak kita dapat hidup rukun kelak. Aku tidak sabar ingin melihat mereka berdua tumbuh dewasa, memiliki pacar, lalu memiliki istri dan suami. Kita akan punya banyak cucu." Mulai ngelantur.


"Tidurlah, sayang. Bicaramu mulai kemana-mana. Menjaga kesehatan kamu adalah yang terpenting untuk saat ini.


"Iya ... iya ... Kamu bawel! ayo tidur."


***

__ADS_1


Betewe maaf yah, kalo kemampuan aku terbatas, aku ngga bisa up tiap hari. Aku lagi garap novel baruku yang Suamiku Anak Mami.


__ADS_2