
Pagi yang cerah,bersama kicauan burung yang bernyanyi riang diatas pohon.Reyno sudah bangun terlebih dahulu.Cowok itu menyangga kepalanya dengan satu tangan,sembari matanya terus memandangi sang istri yang sedang tidur damai disampingnya.Sudah setengah jam ia melakukan hal itu.
Ahhk,ingin sekali Reyno memakan tubuh polos Jennie yang tidak memakai sehelai benang pun.Andai saja ia tidak ingat Jika Jennie sedang hamil,mungkin ia sudah melakukanya sedari tadi.
Reyno tidak boleh terlalu sering melakukan hubungan itu dengan istrinya,menurut buku yang ia baca,tidak boleh berlebihan berhubungan badan dengan wanita hamil.Lakukan sewajarnya saja,maksimal empat kali dalam seminggu.Itu artinya,ada tiga jatah lagi yang tidak boleh sampai terlewatkan.
"Pagi sayang ..." sapa Reyno begitu mendapati istrinya mulai membuka mata secara perlahan.Seulas senyum simpul mengembang bebas dari bibir Reyno.
Jennie menggeliat,memalingkan wajahnya malas.Bagaimanapun juga ia masih kesal dengan perbuatan Reyno semalam.
"Pagi juga,gi golo!" balasnya cetus.
"Eh...eh...ko kamua gitu,sih? masa suami sendiri dikatain gi golo.Mulut kamu itu,ya...dimana ada gi golo sekaya dan setampan aku.Apa lagi tampan sejak lahir,tanpa operasi pelastik." sungut Reyno tidak terima.
"Becanda,ikh! Reyno baperan banget,deh!"
"Biarin,bweeee..." Reyno menjulurkan lidahnya lucu.
"Kan,kamu emang gi golo-nya aku.Cuma khusus buat aku."balasnya manja.
"Aku akan dengan senang hati melayani kamu,tuan putri."Reyno menarik tubuh istrinya kedalam dekap eratnya."Hari ini kita periksa,ya..."
"Gak,mau!" tolak Jennie secepat kilat.
"Kalo masih ngga mau juga ngga pa-pa.Itu artinya kita harus berkarya lagi dikamar ini,minimal tiga ronde." ancam Reyno.Ia yakin selanjutnya Jennie akan segera mengeluarkan bentuk kalimat protes kepadanya.
"Kok ngancam terus hidup kamu ya,Reyn!"
Tuh kan,benar.Reyno sudah hapal sekali dengan isi otak istri liciknya.Maka yang dilakukan Reyno selanjutnya adalah membela diri.
"Itu pilihan sayang,bukan sebuah ancaman.Kamu tinggal pilih yang mana,"Reyno menyeringai jahat."Tinggal periksa kandungan aja takut,dasar cupuu..."
"Aku ngga takut! ya udah,ayo periksa," decak Jennie tidak terima.
Sukses! memang membujuk seorang Jennie harus menggunakan pemanasan terlebih dahulu seperti ini.Baru ia akan terpancing,mengapa tidak pernah kepikiran dari kemarin?heuhh.
__ADS_1
Maka disanalah mereka sekarang,diruang tunggu bertuliskan 'Ruang OBGYN' .Sedang menunggu giliran untuk memeriksakan kandunganya.
Setelah kabur secara diam-diam dari rumah kontrakan Hana,mereka langsung bergegas menuju rumah sakit.Sengaja Jennie tidak berpamitan karena malu,tak lupa Reyno meninggalkan cek diatas meja sebagai biaya sewa semalam.Dimana nominalnya lebih dari cukup untuk membayar sewa dua bulan kontrakan itu.
Jennie dan Reyno mulai memasuki ruang OBGYN.Dengan gaya yang sangat manja,cewek itu bergelayut takut dibelakang Reyno.
"Selamat pagi ibu."sapa seorang dokter wanita dengan name tag bertuliskan 'SISKA' di dada sebelah kirinya.
"Eh...jangan sembarangan ya kamu,aku masih sembilan belas tahun.Berani-beraninya,ya! kamu panggil aku ibu-ibu." Jennie keluar dari balik tubuh Reyno,lalu berputar dihapadan dokter Siska." Lihatlah,emang badan aku ada tampang ibu-ibu? muka aku juga masih imut,kamu tuh yang ibu-ibu! jelek,nyebelin,ngga sopan." cerocos Jennie emosi.
Reyno langsung menepuk jidatnya gemas."Maaf dok,semenjak hamil,istri saya memang sensitif seperti ini."
"Kok kamu malah belain dokter itu sih,Reyn." Jennie menunjuk dokter Siska sembari memalingkan wajahnya."Kamu mau punya istri tiga,hah?" bentaknya kesal.
"Ya,ampun Jennie...kebangetan banget sih,kamu! Mana mungkin aku naksir dokter itu,istri aku jauh lebih cantik." Reyno mencoba menahan amara saat mengatakanya,sengaja ia berkata tidak tahu malu didepan dokter Siska,Biarlah ia menjatuhkan dokter Siska asal Jennie jangan sampai ngambek.
Sementara Dokter Siska hanya diam terpaku menahan tawa,untung ia sudah mendengar tentang Jennie yang memiliki syndrome tokophobia.Jadi ia tidak heran mendapati sikap Jennie yang tidak biasa.
"Ya udah,kalo gitu kita pulang aja,aku ngga mau diperiksa sama dia.Kamu lihat sendiri dia ngga sopan begitu,baru datang aja langsung ngatain aku ibu-ibu.Pokok-nya aku mau pulang,titik." Jennie merengek manja sembari menghentakan kakinya sebal.
Memang wanita kelahiran luar angkasa selalu berbeda pemikiranya,sebagai manusia bumi yang baik,Siska harus mengalah demi jangan sampai terjadinya hal yang tidak diinginkan.
"Nah,gitu dong.Awas,ya! jangan panggil aku ibu lagi.Boleh panggil aku Jennie,asal jangan ibu,aku ngga suka!"Jennie mencebik lucu dengan wajah masam.
"Maaf nona Jennie."
"Terus aku suruh gimana sekarang,apanya yang perlu diperiksa?"
"Nona Jennie silahkan berbaring disana," dokter Siska menunjuk ranjang pemeriksaan di pojok sebelah kanan ruanganya.
Kemudian Jennie segera berbaring mengikuti intruksi.Tak lupa ia memegangi tangan Reyno erat,cowok itu juga ikut mendampingi istrinya persis disampingnya.
"Maaf,bajunya silahkan dibuka." Jennie langsung membuka blouse hingga setengah dada.
"Mau ngapain,sih?" cetus Jennie saat dokter Siska mengoleskan gel diatas perutnya.
__ADS_1
"Kita akan segera melihat dede bayinya,"Siska tersenyum kemudian menempelkan sebuah alatdeteksi di perut Jennie.
"Coba lihat kearah monitor.Bayi kalian usianya sudah tujuh minggu,bertambah besar sebanyak dua kali lipat dari minggu lalu! Ia sekarang sebesar buah kersen," terang dokter siska sembari menunjuk ke arah monitor.
"Detak jantungnya, belum bisa terdeteksi karena masih sangat dini.Disaat-saat seperti ini,biasanya akan mulai mengalami yang namanya morning sicknees."
"Nyidam ya dok?" tanya Reyno antusias.
"Masih satu rangkaian dengan nyidam ,morning sickness itu seperti lelah, mual, muntah, atau sensitif pada bau yang tidak disukai.Apa diantara kalian sudah mengalami hal itu? tanya dokter siska.
"Ngga,dok.Cuma aku ngerasa nafsu makan aku jadi aneh.Aku maunya makan banyak gitu.Tapi aku tahan,aku ngga mau perut aku gendut."
Percayalah,dokter siska langsung tertawa geli mendengar ucapan Jennie.Ia tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa.
"Loh,hamil itu nantinya akan membesar,pasti lama kelamaan perut nona akan semakin gendut."Dokter Siska menjelaskan dengan urat syaraf yang semuanya menegang.Baru pertama kali ini ia mendapati pasien yang luar biasa menyebalkan.
"Kalo gitu pindahin aja bayi ini ke perut bapaknya,biar dia yang hamil,dok.Dia yang pengin banget punya bayi,aku engga..."
Apa lagi ini,mulut nyeleneh Jennie memang tidak pernah bisa dikontrol.
"Aduh,ya ngga bisa nona,hamil sudah menjadi kewajiban seorang wanita.Tenang saja,saat perut nona membesar,kasih sayang suami anda akan bertambah berkali-kali lipat.Pasti kan,tuan?" dokter Siska mengedipkan matanya agar Reyno kompak dengan jawabanya.
"Pasti lah dok,perut ibu hamil itu lucu.Saya jelas akan semakin cinta juka istri saya gendut,apalagi ada anak saya didalamnya."
"Cihhh!" Jennie berdecih."Mulut kamu paling bisa banget,Reyn! buktinya kamu ngga peduli sama sekali dengan istri kamu yang lagi hamil besar itu."
Ooow...
Matilah kau Reyno! ia lupa bahwa ada Tania yang hampir tidak pernah dipedulikanya.
"Eh,itu beda sayang.Kamu pasti yang sepesial,ngga mungkin aku nelantarin istri kecil aku satu-satunya."rayu Reyno.
Jangan sampai dua pasangan suami istri ini berdebat masalah rumah tangga di ruang OBGYN. Lebih baik Siska menyudahi pemeriksaan ibu hamil penuh emosi ini.
"Ya,sudah.Kita sudahi saja pemeriksaanya.Nanti saya akan memberikan obat dan vitamin.Saya juga akan memberikan buku panduan ibu hamil,tolong dibaca,jangan sampai lupa."
__ADS_1