
Mencoba mengikuti keinginan pembaca, yang minta cerita Tere dan William.
Selamat membaca.
***
Tere terpuruk di kamar mandi memegangi benda berbentuk pipih itu sembari menangis, matanya terus memandangi sebuah tespeck dengan dua garis merah yang ia genggam erat. Hatinya hancur, dadanya sesak menerima kenyataan sepahit ini.
Entah apa yang akan di lakukan Tere kedepanya, Tere sangat shock mendapati kehadiran sesuatu yang tidak di inginkanya. Apa lagi hubunganya dengan William sedang tidak jelas, hancur diambang perpisahan.
Ingin rasanya aku mati saja, namun aku tidak mungkin mengajak janin tidak berdosa ini pergi bersamaku.
Aku harus bagaimana? Apa yang aku harus lakukan. Bahkan ayahnya saja tidak peduli dengan hidupku. Aku tidak tega mengajak dia mati bersamaku.
Tere tidak tahu di mana cowok itu berada, sudah lima hari ponselnya tidak aktif. Terakhir kali William hanya mengatakan bahwa ingin menenangkan diri, namun pria itu malah menghilang bagai di telan bumi.
Setelah satu jam terpuruk di kamar mandi, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghubungi orang tuanya via telepon.
Telepon tehubung ke Maminya:
Hallo Sayang, ada apa tumben telepon Mami?
Tere hanya diam tanpa menjawab, gadis itu gemetar bukan main, bahkan untuk menyapa Mami-nya saja tidak berani. Terdengar isak tangis darinya, membuat Mami semakin panik.
Tere sayang, ada apa? kamu baik-baik saja, kan?
Lagi-lagi diam, hanya ada isak tangis yang semakin gencar keluar dari bibirnya.
Sayang, ada apa? tolong jangan buat Mami takut.
"Maafin, Rere, Mam. Maafin, Rere." Gadis itu semakin terisak, mulutnya masih enggan untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Sayang, katakan ada apa? Apa yang terjadi. Tolong jangan menakuti Mami seperti ini.
__ADS_1
"Rere hamil, Mam." Gadis itu langsung mematikan ponselnya. Ia tidak berani menghadapi Maminya setelah mengatakan hal itu.
Maafin aku, Mam. Aku bodoh!
Tidak seharusnya aku terpikat dengan lelaki baj*ngan seperti itu.
Cowok brengs*k yang meninggalkanku setelah puas bermain-main.
Aku bodoh ... bodoh ... bodoh telah percaya dan memberikan segalanya untuk William.
Atas nama bayiku, aku tidak akan pernah mau mengemis cinta dia lagi, aku akan melupakan cinta terlarang yang pernah kita jalani. Seperti apa yang dia inginkan.
***
Singkat cerita akhirnya Tere pergi ke negara Belanda, gadis itu memutuskan untuk meninggalkan kota Sanghai yang penuh dengan kenangan menyakitkan. Belanda adalah kota kelahiran Tere, di sana juga ada Nenek Tere. Gadis itu akan memulai hidup baru bersama bayinya di Belanda.
Tere benar-benar pergi tanpa pamit, bahkan ia tidak mengucapkan salam perpisahan pada Lisa dan Jennie. Setelah berunding dengan kedua orang tuanya, akhirnya Mami dan Papi Tere setuju, mereka mengizinkan anaknya tinggal di Belanda bersama Sang Nenek.
Telepon dari Jennie:
Re, kamu di mana? Aku dan Reyno tadi ke apartemen kamu, tapi kamu ngga ada. Kamu baik-baik saja, kan?
Suara khawatir Jennie terdengar jelas dari balik sana, Tere mencoba agar tidak menangis, ia tidak mau sahabatnya merasa cemas dengan kondisinya saat ini.
"Aku sudah pindah, Je." Akhirnya sesuatu yang ditahanya keluar juga. Air mata itu mulai mengalir membasahi pipinya.
Pindah kemana? Kok ngga kasih tahu aku? Kamu kirim alamat kamu, besok aku main ke rumah baru kamu.
"Maafin aku, Je. Aku udah pindah ke Belanda, di kampung halaman Nenek aku."
Kamu serius, Re? gimana dengan kuliah kamu? Kamu mahasiswi yang berprestasi, kenapa pindah? Kamu pulang ya, abaikan Kak William, masa gara-gara cinta kamu sampai pindah begitu. Sama sekali ngga kayak Tere yang aku kenal.
"Aku ngga akan kembali, Je. Aku akan tinggal di Belanda bersama anakku."
__ADS_1
Anak?
Yakinlah, lutut Jennie langsung terasa lemas begitu mendengar pernyataan Tere. Inilah yang Jennie takutkan dari hubungan terlarang antara sahabatnya dengan William. Anak.
"Iya, Je. Aku hamil ..."
Jennie tidak perlu bertanya itu anak siapa. Sudah jelas jawabannya apa. William benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya ia mencampahkan wanita yang sedang mengandung anaknya. Darah dagingnya sendiri.
Apa Kak William sudah tahu, Re? Kamu sudah hubungin dia belum?
"Belum, Je. William ngga pernah hubungin aku lagi sejak ia bilang ingin menenangkan diri. Memang aku yang salah Je, hubungan kita diawali tanpa cinta, hanya sekedar have fun di atas ranjang. Tidak seharusnya aku menuntut dia untuk mencintaiku. Memang aku yang salah, Je.
Ya ampun, Re. Kenapa jadi begini, sih?
Andai saja kamu ngga pernah kenal William, pasti ngga akan begini ceritanya.
Jennie sebagai wanita merasa kesal terhadap kaka iparnya, pria itu sangat egois. Meskipun William pandai menyenangkan hati wanita, tapi ia tidak lebih dari seorang pengecut. Tidak berani menjalani komitmen. Apa namanya kalo bukan pengecut ? Pecundang!
"Ngga pa-pa, Je. Semuanya sudah terjadi, aku hanya ingin fokus mengurus anak yang ada di dalam perutku ini. Mungkin Tuhan menghadirkan dia untut menggantikan William.
Baiklah, Re. Kalau begitu kamu istirahat. Jangan memikirkan sesuatu yang membuat kamu streess, jaga kesehatanmu di sana. Aku tutup ya, Re.
Panggilan di tutup. Jennie langsung mengepalkan kedua tanganya emosi. Bumil itu bertekad akan mencari William di mana pun lelaki itu berada, Jennie tidak terima sahabatnya di sakiti begitu saja.
Aku akan membunuhmu jika kamu sampai tidak mau bertanggung jawab, Kak.
Kamu benar-benar keterlaluan!
***
Wah, kok aku jadi sedih sendiri. Sapa yang naruh bawang di sini?
Aku pindah nyelesain cerita di sebelah dulu ya. papayyyyyy....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, kalo masih mau lanjut, hehehe