Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Sepuluh


__ADS_3

"Hahahaha ...." William tergelak kencang saat mendengar cerita adiknya. Pria itu tak henti-hentinya tertawa sambil memegangi perutnya.


Ini sudah tiga bulan berlalu, namun Mami Dina masih belum mengizinkan Reyno untuk menyentuh istrinya. Setiap hari mereka tidur terpisah, Reyno tidur sebatang kara, sementara Jennie tidur dengan Mami Dina dan anak-anaknya.


"Jangan senang dulu kamu kak, sebentar lagi anakmu lahir, dan nasibmu akan sama sepertiku. Hahahaha...." Gantian  Reyno yang tergelak.


"Oh tidak bisa. Itu hanya berlaku untuk si bungsu kesayangan Nyonya Dina." William mencibir. Gelak tawa masih terus setia memenuhi ruang keluaga. "Lebih baik kamu solo rank saja, Reyn. Kan,sudah biasa seperti itu dari dulu. Hahahaha..." William membongkar kebejatan adiknya.


"Sialan kau, Kak!" Reyno jadi ingat dulu saat ketahuan main solo di kamar mandi oleh istrinya. Duh, malunya sampai ke ubun-ubun kalau mengingat kejadian itu.


"Ea .... ea  ... eak ...." Luna kecil yang sedang tertidur pulas di pangkuan Tere terbangun karena mendengar suara brisik dari Papih dan Om nya.


"Tuhkan... Gara-gara kalian berisik terus Luna jadi bangun." Tere mencebik kesal, susah payah ia menidurkan Luna, malah terbangun gara-gara ulah ulah para lelaki menyebalkan itu. Tere menimang- nimang Baby  Luna yang terus menangis di pangkuannya.


"Berikan padaku, dia hanya akan diam kalau sudah dipeluk papinya," kata Reyno. Tere kemudian memberikan Luna kecil pada Reyno, anak itu langsung menempel pada dada Reyno. Mencari-cari asi sepertinya.


"Uluhh ... Anak papih lapar ya sayang, tunggu yah. Papih ambilin cucu kamu di dapur." Lantas Reyno membawa Luna kecil ke dapur. Menimang-nimang anaknya sambil ngobrol.


"Sayang...." William menaruh kepalanya di pundak Tere. "Lihatlah adikku, sudah seperti baby sister saja. Nanti kalau anak kita sudah lahir, aku tidak mau seperti Reyno." Sambil mengelus-elus perut buncit istrinya.


"Tentu saja kamu harus seperti Reyno. Itu suami yang baik." Tere mencubit paha William. Pria itu mengaduh sambil meringis.


"Tidak mau! Istri dan mertuanya pergi ke salon, sementara suaminya sibuk mengurus anak di dalam rumah." Ah, William tidak bisa membayangkan betapa bosan hidupnya. Ia juga ingin bersenang-senang di hari weekend.

__ADS_1


"Justru ini yang ku inginkan, Kak!" Reyno kembali bersama Luna, sudah ada dot susu yang menempel di mulut Baby Luna. "Nanti kamu juga akan merasakan hal yang sama sepertiku. Menghabiskan Weekend bersama anak-anak jauh lebih menyenangkan dibandingkan bersenang-senang dengan para wanita di diskotik."


"Memang kamu tidak iri melihat istrimu? Pergi bersenang-senang Reyno?"


"Jennie ke salon kan hanya sepekan sekali. Lagian dia pasti bosan setiap haro mengurus dua anak. Jennie juga membawa Vino kok. Andai Luna tidak mudah sakit-sakitan seperti anak lain, pasti dia akan membawa Luna kemana saja."


Reyno kembali memandangi wajah Baby Luna yang menggemaskan. Anak itu mulai terpejam di pangkuah papihnya. Luna memang tidak bisa merasakan kebebasan seperti anak bayi lainnya, ia gampang sakit-sakitan, tidak seperti baby Vino yang anteng saat dibawa kemana-mana.


I Love you anak putri papih tersayang.


"Tuh. Contohlah adikmu. Itu yang namanya good daddy. Kamu harus banyak-banyak belajar pada adikmu." Tere menjambak rambut William.


"Baik-baik. Tuan Putri Tere, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak kita." William mencium kening istrinya.


"Kak!" Reyno menatap kakaknya serius.


"Sepertinya aku benar-benar butuh bantuanmu."


"Apa lagi Reyn... Bantuan terus hidupmu itu." William memutar bola matanya malas. Pasti bantuan yang Reyno butuhkan tidak jauh-jauh dengan istrinya. Dia kan bucinnya Jennie.


"Bawa Mamah pergi dari sini! Aku benar-benar muak dengan aturan nyonya Dina. Masa harus nunggu setengah tahun dulu baru boleh menyentuh Jennie."


"Kurang ajar kamu Reyno!" Tiba-tiba Mamah Dina datang tanpa aba-aba terlebih dahulu.

__ADS_1


Astaga! Dia lagi ... dia lagi ....


"Eh, Mamah. Sudah pulang yah?" Reyno langsung tersenyum jenaka ke arah mamahnya. Semenjak cucunya lahir ke dunia, beliau jadi semakin menindas anak bungsunya.


"Sayang kamu gendong dulu, Vinonya." Mamah memberikan Vino yang tertidur di gendongannya pada Jennie. Jennie menerimanya dan segera pergi meninggalkan ruang keluarga. Kalau sudah mendengar berdebatan ibu dan anak itu, Jennie lebih memilih mundur dan kabur saja.


"Kamu semakin lama semakin kurang ajar ya, sama mamah kandungmu sendiri. Bisa-bisanya kamu bilang muak dengan aturan Mamah." Mamah Dina menjewer Reyno seperti anak TK.


"Mah, Luna baru saja tidur. Nanti lagi ya, kita bahasnya." Untungnya ada Luna dipangkuan Reyno. Nyawa anak itu selamat akhirnya. Padahal usia Reyno sudah dua puluh empat tahun, tapi ia masih diperlakukan seperti anak kecil oleh Mamah Dina.


"Peraturan ini berlaku khusus untuk kedua anak Mami. Kalian berdua tidak boleh menyentuh istri kalian pasca lahir, kecuali kalau sudah enam bulan!" Mamah melotot pada dua anaknya. Tere hanya senyum-senyum tidak Jelas.


"Apa-apan! Bukannya itu berlaku untuk Reyno saja. Kenapa William ikut dibawa-bawa mah?"


"Peraturan ini tidak bisa di ganggu gugat!"


"Kalau begitu William akan membawa Tere ke luar negri saja. Yang jauh dari Mamah."


"Lakukanlah! Kalau kamu mau di coret dalam daftar warisan," ancam Mamah Dina dengan sejuta keangkuhannya. William mendesah frustasi. Ibu beranak dua itu selalu menggunakan warisan sebagai ancamannya. Bikin kesal saja.


"Hahaha. Untung Reyno sudah punya warisan dari kakek." Gantian Reyno yang mencibir kakaknya.


***

__ADS_1


__ADS_2