
Selamat membaca....
••
••
••
Seperti menggosokan garam diatas luka.Itulah yang Tania rasakan saat ini.Semalaman ia tidak bisa tidur karena mendengar suara berisik dari kamar sebelahnya.Sungguh waniat itu tidak menyangka bahwa Reyno akan menjadi sosok buas saat diatas ranjang.
Reyno bukan lagi cowok polos yang Tania kenal.Dulu bahkan cowok itu sangat malu-malu jika hendak menggandeng tangan Tania.Ia selalu meminta izin terlebih dahulu,padahal mereka sudah pacaran satu tahun lebih.Saat hubungan mereka memasuki tahun kedua,Reyno baru memberanikan diri untuk mencium bibir Tania.Dulu Reyno sangat polos dan takut akan hal-hal seperti itu.Entah energi apa yang Jennie tebarkan sampai membuat Reyno berubah total.
Berubah hanya untuk Jennie seorang,kalau pada yang lainya tetap sama.Reyno masih saja dingin seperti gunung es.Jarang bicara dan suka membaca buku sendirian.
_•_
Tania bangun pukul 07.00 pagi.Kepalanya sangat pusing karena kurang tidur semalaman.Setelah ia mandi,Tania segera turun menuju dapur.Dilihatnya bi Ina sedang sibuk memasak sendirian.
"Bi...." Tania menegur.Wanita itu berniat mendekati bi Ina untuk membantunya."Bibi biar aku bantu."
"Tidak usah non Tania,biar bibi saja..."tolak bi Ina cepat.Bi Ina takut dimarahi oleh Reyno kalau sampai membiarkan Tania ikut memasak.Bagaimanapun juga Tania adalah majikanya.
"Ngga pa-pa Bi,Tania bete juga kalau ngga ngapa-ngapain." Tania mulai mengambil alih pisau lalu memotong sayuran yang hendak dimasak.
"Terima kasih Non..." ucap bi Ina.Ia segera mengerjakan tugas lainya.Mereka memasak bersama,sesekali ngobrol dan bercanda di dapur.Tania memasak banyak sekali makanan enak.Sampai tak terasa waktu menunjukan pukul 11.00 siang.Semua makanan telah dihindangkan diatas meja.Ini sudah hampir jam makan siang,namun Jennie dan Reyno belum keluar dari kamarnya.
Sebenarnya Tania masih sangat kesal pada dua bocah yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.Tapi entah mengapa ia malah memasakan makanan banyak sekali untuk mereka.
"Bi,biasanya Jennie dan Reyno bangun jam berapa ya?" tanya Tania penasaran.
"Tidak pasti non.Kadang mereka bangun pagi.Kalau tidak ada kegiatan bisa sampai siang.Malah pernah bangun sore,itu juga bibi gedor pintunya,takut kenapa-napa." tutur bi Ina.Kemudian ia berjalan mengambil tiga buah piring untuk diletakan diatas meja makan.
Sekitar jam 11.15 Jennie turun dalam keadaan rapi,ia mengenakan totebag dilengan kirinya.Sepertinya anak itu hendak berangkat kuliah.
"Reyno mana ?" tanya Tania lemah lembut.Mulutnya reflek menanyakan cowok itu.
Bodoh! Jennie pasti cemburu.Katy bilang Jennie tipe wanita yang sangat cemburuan.Isi otaknya tidak dapat ditebak,antara mulut dan hatinya tidak sama.Tania jadi takut.
"Reyno ngga mau turun.." Jennie menarik kursi lalu duduk disamping Tania.Ia mengambil piring lalu menyiduk nasi beserta lauk pauknya."Bibi ntar anterin makanan buat Reyno ke kamarnya yah..."Teriak Jennie kecang.Tania sedikit memekik mendengar suara cempreng cewek itu.
"Kamu mau kuliah ?"
"Aku mau kerja,dirumah bete."
__ADS_1
"Oh ya? kamu udah bisa kerja,hebat sekali.Waktu aku seumuran kamu boro-boro kerja.Aku masih sibuk main sama temen-temen aku." puji Tania.
"Sebenarnya ngga hebat,cuma maksain kerja.Biar bisa semakin dekat sama Reyno.Bahaya kan kalo sampe cowok itu macem-macem lagi.Aku ngga mau sampai dimadu tiga sama Reyno."sindir Jennie sepontan.
Aduh! Tania tidak tahu harus menjawab apa.Mulut Jennie sangat tajam dan barbar.Sama sekali tidak cocok dengan Tania yang kalem dan lembut.
"Maafkan aku."lirihnya.
"Untuk apa minta maaf.Yang sudah terjadi biarlah berlalu.Bantu aku jagain Reyno agar tidak melirik wanita lain.Rumahku bukan penampungan untuk wanita penggemar Reyno."
Sumpah! Tania semakin kikuk dan tidak tahu harus bagaimana.
Jennie melanjutkan kegiatan makanya kembali.Ia makan dengan sangat lahap,sampai tidak sadar Bahwa Reyno sudah berdiri sedari tadi dibelakangnya.
"Pagi..."sapa Reyno basa-basi.
"Kok kamu turun.Katanya minta dianterin.Dasar gak jelas." Jennie menyantap makananya kembali.
"Bete dikamar sendiri."jawab Reyno santai.Ia menarik kursi lalu duduk disamping Jennie.Reyno mengambil satu buah jeruk lalu mengupasnya."Kamu mau kemana?"
"Kerja ..."
"Ngga boleh.....Pokoknya kamu ngga boleh kerja kalo aku ngga kerja.Aku ngga mau liat kamu digodain cowok-cowok.Jangan macem-macem ya..." possesif Reyno mulai kumat.Akhir-akhir ini Reyno mendadak berubah cara berfikirnya,seperti wanita.
Plisss,tolong jangan seperti ini.Tania semakin tidak dianggap dirumah ini.Mereka berdebat seolah hanya ada mereka berdua saja diatas meja makan.
"Aku tuh bete,pokonya kamu dirumah aja."Reyno merajuk manja.Menggelayutkan tanganya di pinggang Jennie tanpa rasa malu.
Tentu saja Tania langsung kaget melihat sikap Reyno yang seperti itu.Reyno bukan lagi Reyno.Hampir tujuh tahun mengenal cowok itu.Tidak pernah sama sekali melihat tingkah Reyno yang begitu manja.
"Kamu ngga usah sok manja deh." Jennie menekankan nada bicaranya.Tak lupa ia menghempaskan tangan Reyno dari pinggangnya."Istri kamu ada dua ya Reyn! kalo kamu bete bisa manja-manjaan sama yang satunya lagi.Ngga udah ngatur-ngatur aku,aku ngga suka dilarang!"
Astaga! bisa tidak jangan bicara seperti itu.Tania jadi semakin merasa bersalah.Ia bingung harus bagaimana.
"Aku mau berangkat..."Jennie beranjak lalu melangkah cepat ke arah pintu keluar.Bisa gila kalau meladeni Reyno ketika sedang merajuk.
"Ikut.....!"
Reyno menyusul Jennie tidak tahu diri.Cowok itu meninggalkan Tania sendirian di meja makan.Hari ini Reyno hanya ingin bersama Jennie,ia tidak ingin terpisah walau hanya sebentar.
Sementara Tania duduk terpaku sembari menatap kepergian mereka.Sejak kapan Reyno berubah seperti anak kecil? Apakah ia masih Reyno yang Tania kenal?
Jennie berjalan lebih cepat menuju mobil yang sudah disiapkan.Langsung saja ia membuka pintu mobil lalu duduk di belakang.
__ADS_1
Reyno tidak mau kalah,ia juga ikut membuka pintu mobil belakang,lalu duduk disamping Jennie. "Jalan pak.." ucap Reyno pada sang supir.Tanpa basa-basi lagi pak supir melajukan mobilnya menuju gerbang keluar.
"Kamu gila ya Reyn ?" Jennie mendengus kesal.Bahkan ia memukul bahu Reyno saking kesalnya.
Pasalnya,cowok itu belum mandi sama sekali.Ia masih menggunakan kolor dan kaos putih polos.Bahkan hanya menggunakan sendal jepit.
"Apaan sih ?istri aku bawel banget." kedua tangan Reyno menelusup masuk melalui cela rambut Jennie.Ia menarik kepala Jennie lalu mendaratkan sebuah kecupan dikening sang istri.
"Aku cuma mau ikut kamu.Aku mau didekat kamu.Emang salah kalo aku ngelakuin hal itu?"
"Ya ampun Reyn,bukan itu masalahnya.Kamu itu belum mandi,masa kekantor penampilanya seperti ini ?" Jennie menarik kaos Reyno untuk menyadarkan cowok itu.
"Diruang kerja aku ada kamar mandi,ada baju dan semua perlengkapan aku.Jadi aku bisa mandi dan berganti disana."
"Okelah,terserah kamu aja Reyn,aku pusing sama sikap kamu yang semakin hari semakin aneh."
"Trus masalah Tania gimana? hari ini kamu harus anterin dia periksa loh! "
"Kamu tenang aja,aku udah nyuruh Katy gantiin aku."
Karena Reyno tidak ingin Jennie merasa cemburu atau apalah.Jadi ia tidak mau terlalu berdekatan dengan Tania.
"Terserah...."balas Jennie cetus.Ia melipat kedua tanganya didepan dada.Wajahnya berpaling tidak mau melihat Reyno.
"Pak ,nanti kalau ada apotik berhenti sebentar ya."
"Mau ngapain?" tanya Reyno sepontan.
"Aku mau beli pil kb.Bahaya kalau sampai aku hamil.Kalo nunggu konsultasi kelamaan.Aku ngga mau dia keburu tumbuh didalam sana."
Hah?
Reyno sedikit tercengang mendengar Jennie akan membeli pil kb.Ia takut jika didalam sana memang benar sudah ada nyawa buah hatinya.Apa tidak bahaya menggunakan pil kb saat sedang hamil?
•
•
•
•
Terima kasih.....
__ADS_1