Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Bab: 47


__ADS_3

Sekita pukul 19.00 malam ,akhirnya kedua pasangan bodoh itu memutuskan untuk berangkat mengunjungi mamah Dina.Entah berapa banyak panggilan masuk dari mamah Dina diponsel mereka berdua,yang jelas pasustri itu kompak sengaja mengaktifkan mode senyap pada ponselnya,tentu saja agar mereka dapat tidur nyenyak tak terganggu.Sungguh tak berdosa, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi setelah bosan tidur.Mamah Dina sudah sangat marah disana,ia terus menunggu kedatangan mereka yang tak kunjung muncul.Sudah berangkat telat,itupun mereka masih sempat mampir di salah satu Restaurant untuk makan.


Entahlah,dimana letak otak mereka berdua ...


Perjalan menuju villa dari pusat kota sekitar 2.5 jam.Villa itu adalah rumah peninggalan kake dan nenek Reyno.Sekaligus tempat mamah Dina tumbuh dari kecil hingga dewasa.


Jam menunjukan pukul 22.16 malam.Setelah melewati perjalanan panjang,akhirnya mobil mereka mulai memasuki gerbang tinggi menjulang berwarna hitam,sampai lah mereka di pelataran villa kake Reyno.Villa itu terlihat besar,dua kali lipat besarnya dari kediaman hermawan.Beberapa penjaga sudah berdiri untuk menyambut kedatangan mereka berdua,supir membukakan kedua pintu mobil untuk mereka.Begitu turun,seorang laki-laki datang menghampiri Reyno dan Jennie,lagi-lagi pria itu berbicara menggunakan bahasa yang Jennie tidak mengerti. Entah hal apa yang Reyno dan pria itu bicarakan,Jennie hanya diam sambil menempel pada lengan Reyno.


"Ayo masuk." Reyno menggandeng Jennie untuk masuk kedalam.


"Aku takut Reyn." Jennie menghentikan langkahnya sejenak,seakan enggan untuk masuk kedalam villa itu.


"Udah jangan takut,William cuma bercanda,mamah ngga akan segalak itu sama kamu." Reyno menenangkan Jennie kembali.


Wanita itu nampak gugup,apa lagi ia sedang berada ditempat asing.Untuk pertama kalinya,Jennie bertemu dengan mamah Dina tanpa didampingi orang tuanya.


"Selamat malam tuan Reyno,selamat malam nyonya Jennie." sambutan dari para pekerja serentak saat mereka mulai memasuki ruang tamu,ada banyak sekali pekerja di villa itu.Namun tidak nampak keberadaan mamah Dina disana.


"Mamah mana ?"Reyno bertanya pada salah satu pekerja yang ada disana.


"Nyonya sedang menunggu di ruang keluarga.silahkan tuan." jawab seorang pelayan.menunduk patuh dan berhati-hati.


Reyno menggandek tangan istrinya kembali,kali ini ia menuntun Jennie menaiki anak tangga,ruang keluarga terletak di lantai dua.Sampailah mereka berdua di ruang keluarga,terlihat mamah Dina sedang fokus membaca suatu majalah.


"Malam mah."sapa Jennie dan Reyno kompak.mereka berdua segera meraih tangan mamah Dina lalu menciumnya secara bergantian.


"Duduk ." titah mamah Dina.Matanya terus memperhatikan tubuh Jennie dengan seksama sebelum mulai bicara kembali."Kamu udah sembuh ? kenapa baru datang sekarang? ini jam berapa ? kok sekarang kurusan ? padahal baru 5 hari yang lalu kita ketemu."


"Mah,jangan banyak-banyak nanyanya."Reyno menyela.Melindungi istrinya yang kelihatan gugup.


"Mamah tanya sama Jennie,bukan sama kamu."


Jennie meremat kedua tanganya.Ia sedang menyusun kata untuk menjawab semua pertanyaan mamah Dina.


"Tan..."


"Panggil aku mamah."sela mamah Dina cepat.


"Mah,aku udah sembuh.maafin tadi ada urusan yang belum diselesaikan disana, jadi telat kesini."


"Urusan ranjang ?" celetuk Dina begitu saja .

__ADS_1


Sontak Jennie menunduk malu,keluarga Reyno memang tidak ada yang beres.Selalu membicarakan hal mesum dengan begitu santai.


"Bu,bukan mah." Jennie terbata.


"Mah ,udah jangan bikin Jennie takut."


"Kamu ya !" mamah Dina menunjuk Reyno dengan mata menyalang.",kamu pikir mamah ngga tau apa yang terjadi tadi ?kamu pikir dokter yang ngobatin Jennie ngga cerita ke mamah.


"Iya Reyno tau,makanya mamah nyusulin kita kesini kan ?"Reyno berbicara dengan santai."Mamah khawatir kan ?"


"Reyno." mamah Dina menatap Reyno intens."Harusnya kamu jadi wanita aja,dulu waktu mamah USG juga prediksinya wanita.Kenapa harus muncul kamu ?laki-laki yang ngga gentel gini." Dina menyunggingkan senyum kecut,sebuah isyarat meremehkan ketidak becusan anaknya.


"Harusnya mamah seneng dong,itu artinya Reyno masih polos.Reyno anak baik-baik."Reyno membela diri lagi.


"Cih ! malu-maluin." pancing mamah Dina.Ia seperti ingin melakukan perdebatan panjang.Reyno sudah sangat faham dengan sifatnya,kalau terus meladeni amara mamah Dina,mungkin akan berakhir hingga pagi.


"Mah,Reyno cape.Mau istirahat,ngobrolnya besok lagi aja."


"Gitu ya,cara kamu menyelesaikan masalah.Kamu sudah menikah Reyno.Kamu harus bisa jagain istri kamu dengan baik,jangan malah bikin celaka kaya gitu." mamah Dina semakin mencak-mencak.Sudah dibilang,mamah Dina,paling anti dengan yang namanya kekerasan pada wanita.Dan ia menganggap yang terjadi pada Jennie adalah mutlak kesalahan Reyno.


Reyno menyikut lengan Jennie,matanya berkedip memberikan isyarat gawat darurat.Mamah Dina tidak akan berhenti mengoceh,satu-satunya yang dapat menolong sekarang adalah Jennie.Namun gadis itu bungkam,ia merasa takut dengan situasi saat ini.Jennie tak menyangka,mamah Dina akan segalak ini terhadap Reyno.Mengingat selama ini mamah Dina selalu bersikap baik pada Jennie.


Reyno menyikut lengan Jennie sekali lagi.Kini mereka hanya melempar pandangan satu sama lain.Entah bodoh atau apa gadis ini malah bengong." Stttt...." Reyno bersuit kecil,membuat gadis itu tersentak kaget dan mulai bicara.


"Oh ya ? bagaimana masalah kebohongan kamu yang pura-pura hamil ? Apa kamu kira kita orang tua ngga sakit hati ? kamu kira dengan kamu meminta orang tua kamu minta maaf semua akan selesai ?"


Jennie menciut kembali,kali ini ketakutan gadis itu sudah melewati batas.perlahan matanya mulai merambang.Jangan sampai menangis,Jennie menguatkan dirinya sendiri.Dengan lebih hati-hati lagi,gadis itu mulai berbicara kembali untuk menjelaskan duduk perkaranya.


"Mah,sebelumnya Jennie minta maaf,Jennie salah.Waktu itu Jennie salah faham,Jennie kira akan dijodohkan dengan kak William.Maafin Jennie mah,maaf telah membuat mamah dan keluarga marah dengan sikap kekanak-kanakan Jennie." Jennie menunduk takut,ia meremat kuat dressnya dengan kedua tangan.


Mamah Dina,semakin gencar.Sebenarnya ia tidak marah sama sekali,tapi melihat ketakut Jennie,ingin rasanya ia mengerjai gadis itu lebih.Jarang sekali ia melihat pemandangan seperti ini.


"Kamu fikir minta maaf saja cukup ?" berkata dengan nada bicara keras.


Jennie semakin takut,bentakan mamah Dina membuat jantungnya terasa sakit.Sekarang ia menyesali,menyesali perbuatan bodohnya.Reyno yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam,ia tahu sifat mamahnya.Reyno dapat membedakan yang mana becanda yang mana serius.Dan ia tahu bahwa mamahnya sedang bermain-main dengan gadis itu.


"Mah,cukup ! kita mau istirahat," Reyno menarik tangan Jennie untuk beranjak,ia membawa paksa Jennie memasuki sebuah kamar.Mungkin itu kamar Reyno.


Linda memandangi kepergian anak dan menantunya.Ia menggelengkan kepalanya."Iskkk, iskkk ! padahal masih mau ngajakin istri kamu main,ngga disangka kamu akan semarah itu.Sepertinya aku sudah kehilangan anak bawangku." mamah Dina tersenyum."Kok nangis sih ?mana Jennie yang pemberani seperti waktu itu ?" mamah Dina bergumam sendiri.


💓

__ADS_1


💓


💓


Setelah masuk kekamar,Jennie semakin terisak.Ia sampai sesenggukan menahan tangis sedari tadi.


"Jangan nangis,mamah cuma bercanda tadi.Dia ngga bener-bener marah." Reyno mengusap air mata jennie dengan ibu jarinya.


Jennie masih terisak,ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain,kecuali mamahnya.Jelas ia menangis ketika mendapat perlakuan sekasar ini dari mamah mertuanya.Wanita itu kaget sejadinya.


"Jangan nangis,mamah cuma bercanda sayang." Reyno menarik gadis itu kedalam pelukanya.mengusap-usap lembut punggung Jennie untuk menenangkanya.Jujur saja,ia merasa emosi pada mamahnya sendiri.Bagaimanapun juga Jennie dan mamahnya baru saja kenal.Sungguh keterlaluan !


"Kamu bohong,kamu cuma mau,nenangin aku kan ?"


"Aku itu suami kamu loh,ngapain aku bohong ?aku bisa bedain ekspresi mamah bercanda sama marah beneran." Reyno menjelaskan sekali lagi.


"Beneran ?" Jennie berbinar menatap Reyno polos,nampak bulu mata cantiknya sudah basah terkena air mata.


"Ya ampun....beneran Jennie."Reyno mulai kesal sendiri."Mamah itu kaya William,walau ngeselin tapi dia care."


"Makasih ya."Jennie mengecup bibir Reyno nakal.Kemudian berbalik badan dan duduk diranjang."Tidur yuk !" ajak Jennie.


"Tidur yang mana nih ?" Reyno mengerutkan dahinya,ajakan tidur terdengar ambigu ditelinganya.Ia menyusul Jennie lalu duduk disampingnya."Kamu udah sembuh ?" tanya Reyno penuh harap.


Haissshhhh.jangan berharap dulu...


"Tidur beneran lah." Jennie tersenyum.Ia merasa senang melihat ekspresi Reyno yang mendadak cemberut.


"Php." ucap Reyno sebal.


"Ih ngga gitu,aku masih sakit loh.Sekarang udah malam,mending kita tidur.kalau udah sembuh pasti langsung aku kasih tau kamu kok."


"Bener ya ?" Reyno mulai mengikut Jennie lalu berbaring disampingnya.Reyno memeluk tubuh Jennie dari belakang.Tak lupa ia mengecup puncak kepala sang istri sebagai pengawal tidur istrinya.


"Selamat tidur istriku."


•


•


•

__ADS_1


💖💖💖


Hai gaisshh jangan lupa like dan coment yah .


__ADS_2