
"Dimana Tere?" William mencengkeram kerah bahu Reyno kuat-kuat. Keadaan cowok itu sangat acak-acakan, William pasti mabuk berhari-hari.
Kemunculan cowok itu sukses membuat Reyno dan Jennie kaget. Miris sekali melihat kakanya jadi terlihat seperti orang gila seperti itu.
"Tere tidak ada di sini lagi, Kaka jangan ganggu Reyno. Itu semua salah Kaka, kenapa kaka pergi meninggalkan Tere sendirian? Gadis itu sudah bahagia, lebih baik Kaka lupakan saja Tere. Kaka terlalu jahat, sahabatku tidak pantas untuk seorang baj*ngan sepertimu, Kak."
"Di mana kalian sembunyikan Tere?" Masih bertanya dengan nada penekanan.
"Kami tidak menyembunyikan Tere, gadis itu sudah pergi. Reyno tidak tahu apa-apa, mau kau sampai membunuh suamiku, ia tidak akan tahu keberadaan Tere." Cewek berperut mungil itu memilih pergi meninggalkan dua kaka beradik yang ada di hadapanya. Sepertinya Jennie sudah sangat benci melihat William.
"Sebenarnya kamu kemana sih, Kak? Tere memang sudah pergi. Kami pernah datang apartenenya dua hari yang lalu, namun tidak ada siapa-siapa di sana." Reyno menarik lengan Kakanya agar duduk di sofa. Mengulurkan segelas air putih yang sudah tersedia di meja. "Minumlah kak, ceritakan apa yang sedang terjadi, mengapa kamu jadi tidak dewasa seperti ini, sih? Bukanya kamu bilang kalau sudah berniat untuk menikahi Tere?"
"Awalnya memang seperti itu, tapi lama kelamaan aku jadi ragu pada diriku sendiri. Aku takut Tere tidak bahagia denganku. Aku tidak mau melihat Tere semakin sakit nantinya. Aku pergi untuk menenangkan diri, sampai bena-benar mantap, dan aku kembali. Tapi gadis itu sudah tidak ada di apartemenya lagi." Untuk pertama kalinya Reyno melihat kakanya menitikan air mata, pria yang paling humoris diantara keluarga. Menangis di hadapan adiknya sendiri.
"Kenapa tidak di coba dulu, Kak? Apa salahnya mencoba untuk jadi lebih baik." Reyno menepuk bahu kakanya, memberi sedikit kekuatan dari tepukanya itu. William terlihat semakin frustasi, meninju udara dengan kepalan tanganya.
Jennie kembali lagi dengan sepiring potongan buah ditanganya, menaruh piringnya di atas meja. Lalu menikmati buahnya tanpa memperdulikan William dan Reyno.
"Aku sudah menunggu satu minggu di apartemen, tapi dia tidak pernah kembali. Sebenarnya kemana sih, apa kalian ngga ada yang tahu?"
Cih! Dasar bedebah tidak tahu diri.
"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberi tahu Kaka. Untuk apa coba? Kaka kan suka gonta-ganti cewek, ngapain masih tanya tentang Tere. Cari saja penggantinya, gampang kan!" Mengunyah buahnya kembali. Si jutek itu memutar bola matanya malas, ia sudah tidak lagi menggemari William seperti dulu.
"Karena aku merindukanya." Memijit pelipisnya yang terasa semakin berat. Akhir-akhir ini William memang kurang tidur.
"Je, kasih tahu saja. Kasian Kaka, mungkin dengan kejadian ini, Kaka akan sadar dan benar-benar serius pada gadis itu." Menatap istrinya penuh harap.
__ADS_1
"Sudahlah, gak usah bujuk aku buat ngasih tahu di mana Tere, ia sudah bahagia dengan calon anaknya." Ups, keceplosan.
"Anak?" William dan Reyno mengatakanya dengan kompak. Keduanya terkejut bukan main mendengar ucapan yang keluar dari bibir Jennie.
"Apa makdudnya ini Jennie? Apa yang kamu sembunyikan dari Kaka?" William meninggikan nada suaranya.
"Emmm." Jennie menelan potongan buah yang ada di mulutnya tanpa mengunyah terlebih dahulu. Kedua pria itu menatap Jennie penuh arti.
"Apa yang kamu maksud dengan anak?" Reyno menimpali. Keduanya sama-sama penasaran dengan kalimat ambigu yang Jennie lontarkan tanpa sengaja tadi.
Maafkan aku, Re. Aku keceplosan. Seharusnya aku ngga kasih tahu hal ini. Mungkin memang sudah takdir kalian bertiga harus bersatu.
"Tere hamil!" cetusnya jutek. Lalu memasukan potongan buah itu dengan santainya.
"Apa kamu serius? Kamu ngga lagi bercanda kan?" William langsung bangun dan bersimpuh di lutut Jennie. Anak itu langsung terperanjat dengan perbuatan Kaka iparnya.
"Kak, jangan nakutin istri aku!" tandas Reyno tidak terima. Jennie terlihat takut melihat sikap William yang seperti orang sedang kesetanan.
"Tere sedang hamil anakmu Ka, gadis itu pergi karena sudah merasa dibuang olehmu. Dia ingin memberi tahu semua ini, namun kamu sama sekali tidak bisa dihubungi. Puas!"
"Benarkah dia hamil? Aku akan segera menjadi ayah Reyn, kamu dengar itu?" Menoleh ke arah Reyno. Tersenyum bahagia tanpa rasa berdosa.
"Dengar Kak, tapi dia sudah pergi. Itu artinya kamu terlambat, Tere tidak mau mengenalmu lagi." Bola matanya berputar malas. Reyno cemburu melihat Kakanya mencengkeram kuat lutut Jennie. "Lepaskan istriku, ngapain kamu pegang-pegang dia begitu." Kesal sendiri.
"Beru tahu dulu, di mana Tere. Kalau tidak aku akan terus bersimpuh seperti ini," ancam William tidak peduli.
"Suda gila, ya!" bentak Jennie ikut kesal.
__ADS_1
"Kasih tahu dulu." Memelas penuh harap.
"Buat apa aku kasih tahu. Tidak mau! Kaka sudah jahat sama sahabat aku."
"Aku akan membuat butik yang megah untukmu, Kaka pastikan kamu akan jadi desainer busana terkenal di kota ini. Gimana?"
Cih! Mulai lagi dia. Apa tidak ada cara lain selain merayu? Awas ya, kalau kamu sampai termakan rayuan Kakaku.
"Tere ada di Belanda." Jennie langsung tergiur.
Sialan! kamu selalu menang dalam urusan mengambil hati wanita.
Tidak masalah jika Jennie memberi tahu, tapi tidak dengan sogokan menggiurkan seperti itu. Sekali lagi Reyno benci sikap istrinya yang matre sekali.
"Tere ada di Belanda, di rumah neneknya. Gadis itu sudah terlanjur marah, Kaka tidak akan bisa menemukanya juga, aku tidak tahu alamat persisnya."
"Tidak masalah, aku tahu di mana rumahnya, Tere pernah bercerita tentang kampung halamanya yang di Belanda."
"Terima kasih, sweetheart!" Mencium kedua punggung tangan Jennie secepat kilat.
"Hei! Berani sekali kau" Reyno langsung berapi-api.
"Aku pergi dulu!" Terkekeh senang lalu beranjak.
Pria itu pergi meninggalkan kediaman Hermawan saat itu juga.
Rencana mengejar cinta Tere akan segera di mulai.
__ADS_1
***
Masih ada yang baca tidak, ya?