Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Tiga Ibu


__ADS_3

Pasangan yang tidak lagi muda itu terlihat berdebat mengeluarkan pendapat mereka. "Kau menyalahkan ku?" Tanya Erna tidak suka.


"Tidak, tapi aku bingung apa alasanmu menolak Zoya di samping Alan."


"Dia tidak pantas untuk putra kita!" Erna menjawab dengan nada tinggi dan tatapan penuh amarah yang tersimpan di bola matanya.


"Tidak pantas dari segi mana? Berulang kali aku bertanya akan hal ini. Dari segi mana? Kita sudah bertemu dengan Zoya selama mereka menjalani hubungan, dan kau merestui hubungan mereka hingga pernikahan. Lalu kenapa kau berubah pikiran?" Sungguh Baskoro begitu bingung dan memendam pertanyaan besar di kepalanya.


"Dia pembawa keburukan, bahkan tidak ada satupun anak yang berhasil ia lahirkan!"


"Anak adalah rezeki. Tidak ada yang tau, itulah takdir. Anak bisa menjadi kebahagiaan dan juga ujian, Alan tidak mempermasalahkan hal itu lalu kenapa dengan mu? Usia pernikahan mereka baru berjalan tiga tahun mereka bisa memiliki anak di tahun berikutnya."


"Sudahlah! Kau selalu saja membelanya! Tidak ada yang mengerti keinginanku!" Baskoro hanya menggelengkan kepalanya melihat keras kepala istrinya yang membuat kebahagiaan putranya terenggut.


"Tapi ayah percaya kau bisa melalui nya dan ayah berharap kalian akan segera bertemu meskipun bersama atau tidak." Baskoro memandangi wajah Alan dengan sendu, ia tidak bisa berbuat banyak akan tingkah istrinya yang tidak terduga dan memiliki pemikiran sendiri.


Dalam mimpinya, Alan melihat Zoya dengan gaun warna pastel yang panjang ditambah rambutnya tergerai tersenyum menyambut dirinya. "Zoya!" Alan memeluk tubuh itu dengan erat dan meluapkan kerinduan nya.


Zoya hanya diam sambil membalas pelukan tak ingin kehilangan itu. Begitu banyak ocehan yang Alan sampaikan tapi belum dibalas oleh nya. "Sayang, kau tidak ingin bersamaku? Aku sakit tanpamu."


"Kalau begitu temukan aku.....


"Kami!" Alan melihat bayangan dua sosok Kec dibelakang Zoya yang sedang memainkan gaun panjang istrinya. Ketika Alan mendekat Zoya seolah menjauh dan tidak bisa digapai. Alan terus berteriak dan berlari tapi Zoya semakin menjauh dengan senyuman manisnya.


"Kami menunggumu..... Papa!"


Alan langsung membuka matanya ia melihat ruangan putih dengan suara kecil di sebelahnya. Ia mengambil napas sebanyak banyaknya setelah mimpi itu dan mencoba melihat ke arah suara yang ternyata adalah Rosa dengan mata sembab nya. "Papa!" Rosa langsung memeluk Alan dengan tangan mungilnya dan Alan masih terpaku.

__ADS_1


"Papa, akhirnya papa bangun. Rosa sangat takut!" Alan merasakan tubuh putrinya yang bergetar dengan suara tangisannya.


"Papa hanya tidur sebentar." Ucapan Alan mendapat gelengan dari Rosa.


"Alan kau tidak sadar selama 5 hari." Alan kaget,mendengar penuturan ayahnya diikuti oleh anggukkan kepala yang lain.


"Benar, kondisi anda juga tidak stabil bahkan memburuk." Alan melihat dokter yang tak jauh darinya tengah memegang infus miliknya.


"Apa kau merasakan sesuatu?"


"Aku... Haus."


"Ini Papa, minumlah yang banyak. Biar cepat sembuh dan bermain dengan Rosa lagi." Sekali teguk air itu langsung tandas, dan Rosa langsung bersandar manja di tubuh dada Alan.


"Maaf sayang, sepertinya papa ketiduran."


"Iya, sekarang jangan menangis. Kalau menangis nanti papa lama sembuhnya." Alan menghibur putri kecilnya meskipun tubuhnya masih lemas.


"Rosa akan menemani Papa karena Mama sedang pergi."


"Pergi kemana?" Tanya Alan sambil menatap semuanya.


Dari gerbang kediaman mewah itu telah terlihat kesibukan dari pelayanan yang dipimpin oleh sosok wanita cantik bergaun floral biru. "Semuanya harus selesai besok! Karena itu adalah hari istimewa. Mengerti?"


"Mengerti Nyonya Alice!" Senyum di wajah Alice langsung terkembang, ia sungguh tidak sabar dengan rencana kejutannya kali ini.


Dering ponsel membuat senyum nya semakin melebar dengan segera ia mengangkat panggilan itu. "Mami!" Ujarnya dengan senang.

__ADS_1


"Bagaimana? Semua sudah siap?"


"Besok sudah siap, dan bertepatan dengan kepulangannya."


"Bagus! Dengar Alice, kau harus mempertahankan apa yang berada dalam genggaman mu. Jika ia liar dan sulit ditaklukkan kau tau pasti kelemahannya. Dan selama pion kelemahannya di genggaman mu, ia tidak akan bisa pergi apalagi bertemu dengan wanita itu. Bahkan mami berharap wanita itu sudah pergi dari bumi ini dan tidak menganggu kebahagiaan mu." Alice mengangguk mendengar ucapan mami nya.


"Iya mami. Dan aku yakin Alan tidak akan dapat pergi lagi setelah ini." Terdengar keyakinan besar dari nada Alice yang sempat berputus asa.


"Itu baru putriku. Jangan takut mempertahankan milikmu sayang." Tak lama panggilan berakhir dengan netra Alice yang berbinar-binar menatap dekorasi pilihannya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Pilihan yang bagus bukan?" Wajah eksotis itu tersenyum sangat kecil menanggapi pertanyaan itu.


"Bagus, tapi sepertinya ia masih terbelenggu dengan masa lalunya. Apalagi ditambah dengan dua sosok itu."


"Richard tidak mungkin salah pilih dalam hal ini."


"Aku tidak bilang begitu, tapi meluruskan saja, saat seseorang jatuh cinta, mata nya sudah tertutup serta pikiran nya jadi buntu dan saat itulah seorang Ibu membantunya."


Percakapan itu tetap terjadi dengan Zoya yang terlihat bersama Richard menuju ke sana. Dapat Zoya lihat kecantikan dan keanggunan wanita paruh baya yang berada dihadapannya ini membuat jantung nya berdetak hebat.


"Zee, ini Mama ku." Sekarang Zoya dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang melahirkan Richard dengan senyum misterius yang menatap dirinya sekarang.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2