Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Pembawa kabar


__ADS_3

Sebelum lanjut baca, yuk mampir ke karya baru author yang mengisahkan wanita modern yang menjadi ratu dimasa lalu yang akan memporak-porandakan kerajaan yang telah membuat hidup nya tidak dihargai. Bagaimana kelanjutan nya? Yuk ikuti kisah selengkapnya novel Modernisasi Queen.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Senyum di wajah tampan itu terus terkembang dengan mata yang bersinar ia memasuki ruangan tempat saudara nya dirawat. Baru saja ia melangkahkan kakinya ia melihat saudaranya diam menatap kedepan. "Zain, selamat pagi. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Zian mendekat.


Zoya dan yang lainnya membiarkan interaksi si kembar itu. Sayangnya tidak ada jawaban membuat Zian semakin mendekat dan menyentuh tangan saudara nya. "Aghhhh!" Zian kebingungan saat melihat reaksi saudaranya yang seolah takut dan kaget.


"Hei, ini aku Zian. Kau kenapa?"


"Zian....."


"Mommy, siapa ini?" Sebelum kita menjelaskan Zain sudah bicara sambil bersembunyi dalam pelukannya ketakutan.


"Aku..…"


"Zian bagaimana kalau temani papa mengambil obat untuk Zain." Diliputi rasa penasaran dan juga kebingungan. Zian hanya mengangguk setuju dan tetap tersenyum.


"Tunggu sebentar ya." Tapi tetap saja Zain tidak merespon.


"Dia sudah mendingan tapi tidak bisa berbaur dengan orang-orang seperti biasanya, entah itu saudaranya atau Daddy nya. Analisa dokter mengatakan Zain butuh waktu apalagi dengan memori yang mengingatkan nya dengan kejadian itu. Kita hanya bisa menunggu perlahan dan bersabar." Alan melihat ke arah putranya yang seolah berada di dunianya sendiri meskipun dalam pelukan Zoya.


"Mommy, orang jahat itu tidak akan menangkap kita lagi kan?? Aku sangat takut! Mereka menyakiti Mommy dan menusuk ku, rasanya sakit sekali." Adu Zain membuat Zoya mengelus rambut hitam putranya.


"Tidak! Mereka sudah ditangkap, sekarang hanya ada kita, hmmm. Mommy disini, bersama Zain."


"Zain..." Panggil Alan pelan tapi reaksi Zain tidak terduga.


"Mommy! Ada orang jahat itu lagi! Aku mendengar suaranya.... Selamatkan aku! Aku sangat takut!" Zain kembali menangis membuat Alan menjauhkan tangan yang ingin memeluk tubuh putranya.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Alice yang melihat itu mengelus pundak pria itu memberikan dukungan. "Dia hanya butuh waktu."


Hanya air mata Alan yang berbicara. Hingga beberapa saat kemudian ia segera pergi dari sana membuat Alice segera mengejarnya. "Jim yang mengikuti tuannya langsung mencegah kepergian Alan menaiki mobil.


"Tuan anda mau kemana? Kondisi anda belum pulih sepenuhnya."


"Aku mau menemui dalang kesakitan putraku! Aku ingin mendengar alasan semua ini! Minggir kau!"


"Tuan, sudah ada Ayah anda disana. Lagipula Sidang akan segera di mulai lusa tuan, bersabarlah! Saya mengerti.."


"Kau tidak mengerti, hatiku sakit sekali rasanya. Aku ingin memeluk keduanya tapi apa yang ku dapatkan? Jangankan memeluk mendengar suara ku saja ia bersikap seolah aku penjahat nya." Alan tidak sanggup menahan bobot tubuhnya hingga ia bersimpuh dengan Jim disebelahnya.


Alice yang melihat itu segera mendekat dan memeluk tubuh suaminya. "Tenanglah, bukankah kau sudah janji tidak ada lagi air mata?"


"Aku sudah tau, dan meskipun begitu. Tidak akan membuat ku meninggalkan mu, jika orang tua ku memintanya aku tidak akan lakukan. Sungguh aku mencintaimu Alan, dan aku akan tetap bersamamu, dan tidak akan pergi meskipun kau memintanya."


Alice sudah mendengar bahwa ibu mertuanya yang menjadi tokoh utama kejahatan ini. Memang, Alice mengetahui ketidaksukaan Erna pada Zoya tapi ia berpikir mungkin karena tidak bisa memberikan keturunan.


Sayangnya tidak, mertuanya berbuat jauh dan bahkan tindakan yang ia lakukan,tidak pernah dipikirkan oleh siapapun.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Zian yang diberikan pengertian bahwa saudara kembarnya mengalami permasalahan lupa ingatan karena luka yang menempel sedikit tapi dalam di bagian kepala saudaranya membuat anak itu mengerti.


Ia hanya duduk dengan jarak aman agar saudara kembarnya tidak terganggu. Zain tengah duduk sambil menghitung jarinya dan melihat ke arah jendela.


Karena angin yang cukup kencang membuat vas bunga yang berada di sudut meja terjatuh dan membuat Zian memperbaiki posisi nya. "Hei! Wajah kita sama. Siapa yang meletakkan cermin disini? Mommy? Apa Mommy yang letakkan?" Zian yang mendengar itu masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


"Aku bayanganmu." Zian akhirnya berani bersuara membuat tatapan Zain tertuju padanya.


"Apa bisa disentuh?" Tanya Zain.


Beberapa orang disana hanya memperhatikan interaksi keduanya. "Iya, tentu saja." Zain mengulurkan tangannya mencoba menyentuh tangan saudara kembarnya.


"Wah!" Terlihat sangat berbeda dari perilaku Zain yang sebenarnya.


Ia terlihat begitu senang dan seolah mendapatkan mainan baru. "Sayang, kau merasakan sesuatu?" Tanya Zoya mendekati ranjang putranya.


"Hmmmm, nyaman dan... Menyenangkan." Jawaban Zain tentu saja membuat orang disana tersenyum karena Zain berinteraksi dengan saudaranya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sedangkan Indra yang baru saja selesai menyegarkan pikirannya karena sibuk melamun dengan hati yang kacau dan harus tegar dikejutkan dengan bunyi ponselnya.


"Halo?"


"Tuan Indra. Kami mengabarkan istri anda..."


"Apa!"


Bersambung.....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2