
Seorang suster baru saja masuk ke sebuah ruangan dokter yang memperlihatkan dokter pria tengah memberikan resep obat. "Ambil ini, dan segera minta keluarga pasien menebus obatnya." Ujarnya sambil memberikan catatan resep obat tersebut.
"Dokter terlihat buru-buru, apa ada acara?" Tanya wanita berperawakan Amerika itu.
"Ya, sebentar lagi akan ada festival dan parade. Aku ada kencan." Senyum di wajah tampan itu terus terkembang membuat suster itu ikut tersenyum.
"Wah, sepertinya sebentar lagi akan undangan. Aku tidak sabar menunggunya, kebetulan putriku ingin sekali menghadiri pernikahan ala India."
"Kalau begitu, mintalah putrimu berdoa dengan rutin. Karena aku juga tidak sabar."
"Baiklah dokter Richard, semoga kencan anda lancar."
"Terimakasih Bella." Richard segera pergi setelah membereskan barang-barang nya dan juga tidak ada pasien yang akan ia tangani. Sepanjang koridor rumah sakit, senyum di wajah Richard tidak luntur. Ia akan pergi menemui Zoya dengan double Z, beberapa kali ia berpapasan dengan suster, dokter atau petugas rumah sakit dan mereka saling menyapa.
🌟🌟🌟🌟🌟
Zoya tengah terduduk melihat adegan perdebatan antara kedua putranya. Entah apa yang mereka ributkan, yang jelas Zoya mengamati keduanya. Dapat Zoya lihat ada watak dirinya dan juga Alan seolah melihat pertengkaran kecil dirinya di masa lalu. "Pokoknya Mommy pakai yang ini!" Zain berujar sambil menyodorkan pakaian bewarna magenta.
"Tidak bagus! Mommy lebih cantik menggunakan warna ini!" Zian seolah tidak mau mengalah kepada saudara kembarnya.
"Ini!"
"Tidak! Ini!" Zoya mengambil napas panjang melihat kedua putranya tidak akan selesai dengan cepat.
"Kalau begitu Mommy tidak usah pergi!" Seketika perdebatan itu terhenti dan si kembar langsung menolak bersamaan.
"Jangan!" Wajah keduanya segera mendusel dalam dekapan Zoya disertai bujuk rayu.
"Mommy harus pergi, kan sudah janji." Ujar Zain.
"Iya, janji harus ditepati." Sekarang Zian yang ikut menimpali.
"Kalau Mommy harus menepati janji Mommy. Lalu bagaimana dengan kedua putra Mommy yang tampan ini? Apa sudah lupa?" Keduanya tampak berfikir sejenak kemudian menggeleng bersamaan.
"Maaf, kami janji tidak akan bertengkar mengenai hal kecil lagi, apalagi meninggikan suara." Dua pasang jari mungil itu diangkat dan terlihat jelas oleh Zoya.
"Jadi, harus bagaimana?" Tanya Zoya, sungguh ia ingin tertawa melihat ekspresi kedua putranya.
__ADS_1
"Harus menyelesaikan dengan diskusi. Jika ada perbedaan harus dihargai dan jangan langsung ditolak."
"Bagus, jadi dress dengan warna apa yang sebaiknya Mommy gunakan?" Zoya memberikan putranya menyelesaikan permasalahan tersebut dan ingin melihat solusi yang mereka berikan.
"Warna yang ini!" Keduanya serempak menunjuk dan berujar bersama membuat Zoya tersenyum lebar.
"Kenapa?" Tanya Zoya.
"Karena sesuai dengan acaranya." Zoya memeluk kedua putranya.
"Bagus, itu baru putra Mommy." Sepanjang perjalanan sudah terlihat hiasan dan juga dekorasi yang sesuai tema festival kali ini. Richard membuka jendela mobilnya dan menikmati hiasan itu dengan manik birunya. Seperti orang gila, ia tidak berhenti tersenyum, ditambah bayangan acara yang akan terjadi nantinya.
"Zee, aku datang!" Mobil Richard segera melaju kencang membelah jalanan kota.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Jalanan macet sudah menjadi makanan sehari-hari di kota besar seperti ini. Mungkin karena menjelang perayaan Imlek membuat orang-orang menjual dan juga mempersiapkan apa yang dibutuhkan. "Papa, apa masih lama?" Suara kecil Rosa memecah suara klakson jalanan.
"Tidak, sebentar lagi. Setelah lampu merah kita belok dan langsung sampai. Kenapa? Apa bunga kecil Papa lelah?" Alan mengusap kepala putrinya dengan sayang sambil menunggu jawaban putrinya.
"Papa, geli! Hahahaha." Lampu segera hijau dan perjalanan kembali dilanjutkan disertai tawa bahagia Rosa. Sepasang netra itu segera melotot lalu berlari ke dalam bersorak membangunkan pemilik rumah.
"Nyonya! Tuan sudah datang!" Bibir merah itu tersenyum senang, dengan segera ia menuruni anak tangga dan menuju pintu. Benar saja netranya menangkap mobil yang membawa putrinya serta pria yang ia nantikan.
"Mama!!!!" Rosa segera berlari setelah pintu terbuka dan disambut cepat oleh Alice. Mata Alan melihat Rosa tertawa merindukan mamanya beberapa hari. Dengan tubuh yang masih sedikit pusing, Alan dibantu Jim ke dalam.
"Akhirnya kau sudah pulang, Ayo masuk." Ajak Alice yang mendekat dengan Rosa yang menggenggam tangan nya.
"Hmmmm." Rosa yang melihat Papanya kesulitan langsung menggenggam tangan kekar Alan dan gigi kecilnya terlihat menandakan kebahagiaan di sana. "Papa, ayo kita masuk!" Alan mengikuti dengan pelan dan Jim melepaskan dirinya melihat dari belakang.
Baru saja masuk, netra Alan melihat sesuatu yang berbeda di kediaman itu, ada hiasan baik balon dan lainnya. Dan tak lama ia juga melihat keluarga nya di sana. Bahkan ibunya tengah memegang kue sekarang, sambil mendekat dan tak lama suara musik mulai menyala dan diiringi dengan tepuk tangan.
"Selamat ulang tahun Alan." Tubuh Alan mematung sekarang, tidak tau senang atau tidak. Ia hanya diam beberapa saat, ulang tahunnya. Bahkan ia lupa akan hal itu, sejak kepergian Zoya hari baginya terasa sama tidak ada yang istimewa. Ingatannya kembali saat ulang tahunnya 6 tahun yang lalu.
Flashback......
Saat itu, ia baru saja pulang kerja dan lampu di rumahnya terlihat tidak menyala, ketika pintu terbuka ia disambut oleh Zoya dengan kue brownies ditangannya. "Selamat ulang tahun Mas." Semuanya sama seperti yang dilakukan ibunya, tapi bedanya senyum Alan begitu lebar dan matanya memancarkan kebahagiaan. "Aku sudah meniup lilinnya, sekarang mana hadiah ku?" Zoya meletakkan kue di meja dan mengambil sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang dengan pita merah yang menghiasi nya.
__ADS_1
"Kalung? Dasi? Gelang couple?" Tebakan Alan mendapatkan gelengan dari Zoya, ekspresi wajah Zoya mengisyaratkan bahwa ia segera membuka nya.
Dengan semangat Alan membuka kotak itu, tapi dirinya merasa dikerjai oleh istrinya. Dan ia semakin yakin setelah melihat Zoya terkekeh seperti mengerjainya. "Kau mengerjai ku? Mana hadiahnya sayang!" Alan menarik Zoya hingga terduduk di pangkuannya.
"Buka lagi, kotak terakhir. Aku janji." Zoya menyentuh rahang Alan dengan lembut. Mendengar ucapan istrinya, Alan kembali membuka dengan malas. Wajahnya yang tadi datar, tiba-tiba berubah serius serta menajamkan matanya melihat benda yang ada di sana.
"Sayang, ini....
"Kau akan jadi Papa. Katakan hai pada buah cinta kita." Zoya mengambil tangan Alan dan meletakkannya di perutnya yang masih terlihat datar. Zoya merasakan perutnya basah terkena air mata, ia memandangi wajah Alan yang mulai basah.
"Terimakasih. Aku sangat senang, aku mencintaimu." Alan menenggelamkan wajahnya di leher Zoya sambil menangis haru yang membuat Zoya memeluknya erat. Sejak keguguran pertama yang membuat Alan kehilangan ia menguatkan dirinya demi istrinya yang lebih terpuruk tapi siapa sangka setelah ia merelakan nya kebahagiaan itu datang lagi.
Flashback end.....
"Papa, tiup lilinya!" Tarikan kecil di kaosnya membuat Alan tersadar dan meniup lilin membuat Rosa tersenyum di memeluk nya.
"Selamat ulang tahun Papa!" Rosa menyodorkan sebuah hadiah kepadanya disertai yang lain.
"Besar sekali, apa ini bunga kecil Papa?"
"Ayo Papa bukalah! Dan perlihatkan kepada semuanya." Pinta Rosa tidak sabaran, Alan tetap tersenyum demi putri kecilnya. Jujur saja beberapa tahun ini ia tidak merayakan ulang tahunnya karena sibuk tenggelam dengan kepergian Zoya. Kediaman itu menjadi meriah merayakan ulang tahun Alan meskipun terlambat semuanya hadir di sana dengan hadiah masing-masing.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Kemeriahan langsung menyambut Richard yang melihat double Z dengan cerita dan penampilan mereka. "Paman! Lihat, apa kami sudah terlihat cocok?" Tanya keduanya dengan Richard yang masih berdiri di pintu.
"Sayang, setidaknya biarkan Paman duduk dulu." Ucapan Zoya membuat double Z salah tingkah karena salah dengan senyuman manis mereka membuat Richard gemas.
"Tidak apa, kalian terlihat cocok sekali. Sudah sangat siap!" Ucapan Richard mengundang tawa dan semangat double Z.
"Sangat siap! Jadi, Paman harus menepati janji membawa kami berkeliling."
"Tentu saja, kita akan berkeliling hingga puas." Sambil menerima pelukan double Z, Richard curi pandang pada Zoya di meja makan.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1