
Kehebohan terjadi sekitar apartemen, para pemilik langsung keluar melihat sebuah mobil mewah yang terparkir dan tak lama sosok pria tampan keluar dengan membawa bunga besar di tangannya. Membuat wajahnya tertutupi oleh kelopak bunga. Langkahnya perlahan menuju unit nomor 17, satu persatu nomor unit ia lewati dengan tatapan dan omongan baik itu pujian atau penasaran.
"Wah, besar sekali!"
"Tampannya.....
"Aku ingin seperti itu juga!"
"Untuk siapa kira-kira?" Begitulah omongan yang terdengar, tapi sosok dengan pesona itu tidak peduli dan terus melangkah meski cukup kesulitan.
Akhirnya sosok itu berhenti di pintu yang dituju, sebelum ia mengetuk pintu sudah terbuka dan menampilkan si kembar dengan antusias mereka.
"Woww! Mommy lihat!" Keduanya berseru membuat Zoya seger menyusul dan ia melihat wajah yang tertutupi itu tersenyum manis padanya.
"Selamat pagi Zee dan Double Z!"
"Astaga! Richard, letakkan bunganya di sini." Zoya mengambil bunga itu dari dekapan Richard dan meletakkannya di sofa.
"Akhirnya... aku bisa bernapas dan melihat bidadari cantik dengan jelas."
"Besok tidak perlu membawa sebesar ini, kau jadi pusat perhatian begitu juga aku. Dan bucket sebesar ini, di mana harus aku letakkan. Apartemen ku tidak besar, apa ada alasan khusus?" Zoya mengamati bucket pemberian Richard sambil menunggu jawaban pria bule itu.
"Aku sedang senang, karena.....
"Paman mendapatkan pasien bergigi emas!" Ucapan Zain membuat semuanya tertawa.
Wajah Zain yang polos membuat semuanya terlihat lebih menggemaskan. "Bukan, hari ini ulang tahun Paman. Tapi tidak ada yang mengucapkan." Richard berujar dengan wajah sendu membuat suasana yang tadinya ceria jadi senyap. Wajah double Z saling mendekat dan keduanya entah membicarakan apa, dan Zoya terlihat menggerutu karena lupa hari spesial Richard.
"Richard..... Itu..... Aku..... Terlihat Zoya sedang merangkai kata-kata dan Richard diam mendengarkan. Perbincangan keduanya terganggu karena sebuah bingkai yang berisikan sesuatu membuat wajah Richard tersenyum.
"Ini indah sekali. Apa double Z yang membuat?" Mata biru Richard berbinar-binar menatap bingkai dihadapannya.
"Iya, Paman suka?" Richard mengangguk cepat dan tak lama keduanya berhamburan ke dalam pelukan Richard membuat Zoya diam berfikir mengenai bingkai yang diberikan kedua putranya.
"Suka! Ini hadiah yang luar biasa dan istimewa. Paman akan memajang nya di kamar Paman." Double Z tertawa mendengar pujian yang dilontarkan Richard.
"Ini Family nya..... Nenek Ning menatap lekat bucket bunga itu yang menambah suasana menjadi riuh.
__ADS_1
"Bukan Family Nenek, tapi Flower!" Double Z serentak memperbaiki pengucapan dari bibir tua itu.
"Nenek tau, hanya salah ucap saja. Mereka terlihat mirip." Elak wanita bermata sipit itu yang mendekati Richard.
"Shēngrì kuàilè." Ucapan itu begitu tulus dan sebuah pelukan hangat kembali didapatkan Richard.
"Bié kèqì" Richard membalas pelukan hangat bagaikan pelukan sang ibu dengan mata memandang ke arah Zoya membuat Zoya salah tingkah dan menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan mata biru itu.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Tatapan kecil coklat hazel itu terus menatap ke pintu kamarnya, sambil menghitung mundur. Ia berharap ketika hitungannya berakhir maka sosok yang ia harapkan akan muncul.
"Sembilan..... Sepuluh!"
"Selamat pagi bunga kesayangan Papa!"
"Papa!" Tubuh kecil itu segera berhamburan menuju tubuh kekar sang Papa dengan senyuman gulanya.
"Mandi dulu ya. Setelah itu, kita makan. Bibi sudah memasak makanan kesukaan mu." Sekarang handuk berada di tangan kekar Alan dengan Rosa yang mengangguk patuh menuju kamar mandi. Pemandangan itu tak luput dari pandangan wanita cantik yang mendiami kediaman mewah itu.
"Tidak! Aku sudah besar! Benarkan Papa?" Alan mengangguk sembarangan mengelus rambut pirang Rosa.
"Benar, jadi Rosa harus makan sendiri."
Terlihat harmonis jika dimata siapapun, tapi mereka tidak tau ada tembok besar yang berada di tengah-tengah mereka. "Kau ingin ke perusahaan?"
"Langsung saja ke intinya. Jangan bertele-tele Alice, katakan!" Wanita bernama Alice itu tetap tersenyum meskipun mendapatkan jawaban tidak sesuai harapannya.
"Rosa ingin ke taman sore ini, setidaknya luangkan waktu sejenak. Jika kau bisa."
"Jam berapa?" Mendengar itu, sorak kebahagiaan menghiasi relung hatinya.
"Jam 5. Rosa mau ke taman dan....
"Baiklah!" Setelah itu Alan segera berlalu menuju kolam renang yang diduduki oleh Rosa sembari menggambar.
"Papa mau bekerja, jangan nakal ok?"
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu Papa. Semangat bekerja." Rosa mendaratkan kecupan manis miliknya di pipi Alan membuat senyum Alan terkembang.
"Tentu, setelah mendapatkan ciuman penyemangat Papa akan semangat bekerja." Pelayan yang berada di kediaman terlihat tersenyum melihat hubungan ayah anak itu.
Langkah besar langsung Alan ambil seolah menghindari Alice yang tengah menyusulnya. "Hati-hati!" Teriak Alice yang hanya mendapat deheman Alan yang segera memasuki mobilnya dan melaju kencang.
Perusahaan A series, bangunan besar menjulang tinggi itu adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang properti. Terlihat karyawan bekerja menyelesaikan pekerjaan mereka, tidak ada pembicaraan khusus selama bekerja. Pintu perusahaan itu terbuka menyambut kedatangan sosok pemimpin mereka.
"Selamat pagi Pak!" Sapa mereka ketika berpapasan dengan Boss mereka, hanya anggukan yang mereka dapatkan. Hal biasa bagi mereka, tidak ada senyuman di wajah tampan rupawan itu terkecuali berkaitan dengan putrinya.
Mata Alan segera tertuju pada foto manis yang memperlihatkan sosok wanita cantik dengan senyuman di lesung pipinya yang menghiasi hatinya hingga sekarang. "Selamat pagi sayang, hari ini aku memakai kemeja kesukaan mu, bagus kan? Hari ini ada rapat, aku selalu memakainya dan akan mendapatkan keberuntungan, doakan aku ya." Bicara sendiri dengan sebuah pigura tanpa kehadiran sosok asli pemilik nya adalah hal biasa yang Alan lakukan.
Dengan segera Alan mendudukkan bokongnya ke kursi kebesarannya disambut dengan berbagai berkas di mejanya, ketukan pintu membuat gerakan pena itu terhenti sejenak. "Masuk!"
"Selamat pagi pak, ini proposal yang akan dibahas saat pertemuan nanti." Terlihat pria dengan tinggi 160 berkulit sawo matang memberikan berkas ditangannya.
"Tidak ada siapapun panggil seperti biasa Jim!" Pria yang dipanggil Jim itu tersenyum kecil.
"Kemeja yang bagus. Aku sudah melihatnya beberapa kali bahkan hampir semua. Kau merawatnya dengan baik."
"Apa hanya ini?" Tanya Alan tidak menanggapi ucapan Jim.
"Iya, dan aku lupa. Ada panggilan dari Nyonya. Dia meminta mu ke rumah siang ini."
"Entah apalagi sekarang. Bagaimana perkembangan pencarian?"
"Alan, masih sama. Belum ada perkembangan, apa perlu diperluas lagi?" Tanyanya dengan menatap Alan yang tengah bersandar.
"Lakukan apapun! Aku ingin tau keberadaan nya, setidaknya kabar nya. Aku.... Sangat ingin." Dapat dilihat penyesalan tak berujung disana dan kerinduan yang besar.
"Akan ku lakukan. Jangan begitu, aku yakin kita akan menemukannya." Hibur Jim pada Alan. Pencarian Alan lakukan, dengan diam-diam. Erna ibunya memiliki mata-mata yang membuat pencarian terkendala. Bukannya ia tidak sanggup, tapi ada sebuah tali yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja meskipun ia ingin.
"Kau tau, aku beberapa kali bermimpi anak kembar, mungkin itu adalah wujud dua anakku yang telah tiada. Ada senyuman manis Zoya di sana, mereka seolah memanggil ku, tapi ketika aku mendekat, semuanya lenyap begitu saja." Mata Alan menerawang dan terpejam beberapa kali dengan sedikit berair.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1