
Jam menunjukkan pukul 8 malam, terlihat di luar sudah gelap. Angin terlihat juga berhembus cukup kencang, dua orang dewasa terlihat saling diam dengan pemikiran masing-masing. "Zee, itu artinya kau tidak mengatakan mengenai double Z padanya bukan?" Tanya Richard.
"Belum, aku belum bisa. Aku berharap semoga ia segera pergi." Pinta Zoya diakhir ucapannya.
"Jika ia tau bagaimana? Sebelum ia pergi?" Pertanyaan Richard membuat polemik baru dalam pikir Zoya.
"Apa yang akan kau lakukan Zee?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Perlakuan Alan pada Rosa membuat Alice semakin tak ingin melepaskan pria itu. Meskipun tidak ada rasa yang Alan berikan untuknya, tapi ia tidak akan menyerah. "Sudah baik?" Tanya Alan sambil mengelus gips di kaki putrinya.
"Sudah, karena ada sentuhan magic Papa. Jadi semuanya akan baik-baik saja."
"Oh ya, aku lupa mengatakan. Ibu tadi menelpon ia sudah tau keadaan Rosa." Ujar Alice sembari membuatkan susu hangat untuk Rosa.
"Mungkin dari Jim, aku ada urusan di sini. Aku sedang berbincang dengan investor seperti yang kukatakan. Jadi, kau harus berada bersama Rosa, jangan sampai terulang lagi." Perkataan Alan membuat pergerakan tangan Alice terhenti.
__ADS_1
"Tidak bisakah diundur sejenak? Rosa membutuhkan mu."
"Sangat aneh, biasanya seorang ibu akan berada di sisi anaknya ketika ayahnya tidak ada. Karena seorang ibu bisa melakukan apapun, aku bukannya tidak perduli akan Rosa tapi, aku juga memiliki tanggung jawab di perusahaan." Alice terbungkam, setiap ia ingin menjawab Alan selalu punya cara sendiri membuat nya tak berkutik.
Alice melihat Alan yang tengah menerima panggilan, Rosa sedang menghabiskan susu coklatnya dan terlihat mata kecil itu mulai mengantuk.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Kantuk yang menyerang semua penghuni rumah besar itu membuat sosok wanita dapat pergi melangkah menuju sebuah kamar. Tak lama setelah pintu itu berhasil terbuka, ia melihat sosok pria yang masih terjaga dengan pandangan ke arah pigura.
"Kakak belum tidur?" Tanyanya membuat pria itu melirik sejenak padanya dan tersenyum.
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin ada drama atau sebagainya itu membuat kepala ku jadi pusing. Apalagi si mulut bebek itu." Ucapan itu membuat tawa kecil terdengar dari bibir pria tampan itu.
"Dia saudara mu." Mata wanita itu menyipit dan melihat saudara laki-lakinya itu. "Hei, dia saudari kakak juga. Ingat, kita berempat!" Ujarnya sembari menunjukkan jarinya sebanyak empat buah.
"Quartet A." Mata Aron melihat pigura yang menampilkan mereka berempat. Ada Alan, dia, Alya dan Alta."
__ADS_1
Alya berdiri dan menuju sebuah pigura yang menampilkan sosok pria dan wanita menggunakan toga wisuda. "Aku rindu kakak seperti ini, pasti keinginan Kak Naya juga begitu."
"Keinginan bagaimana maksudnya? Apa seperti keinginan boneka ratu penguasa di sini?" Ejek Aron dengan wajah dingin.
Alya mendekat pada Aron, dan membuat Kakak tertuanya itu duduk. Lalu ia mengambil air agar sang kakak tidak kambuh kembali. "Kalau begitu bangkitlah dan buat keputusan ratu itu berubah atau buat ia lengser kakak." Canda Alya yang didalamnya ada keseriusan.
"Bagaimana dengan Alan? Dia masih di Singapura bersama keluarga semunya?"
"Iya, Rosa baru saja terkena musibah. Jadi, Kak Alan akan di sana cukup lama."
"Luar biasa, adikku itu. Ia bahkan lupa dengan wanita yang ia janjikan akan bahagia bersamanya."
Alya menggeleng mendengar penuturan Aron. "Kakak salah, dia sama sepertimu terjebak dengan wanita masa lalunya namun, aku rasa mereka akan bertemu."
"Jangan bilang..... Aron memandangi wajah adik bungsunya itu dengan pertanyaan dan Alya tersenyum rahasia.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.