
Bukannya merenung Erna justru tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggelegar di ruang perawatan itu. "kau pikir aku percaya? Ini hanya ulah narapidana yang tidak memiliki sikap dan juga kalangan bawah."
"Orang-orang yang seperti itu tentu saja bertingkah seperti hewan. Sakit ini akan hilang aku sudah biasa."
Sungguh sudah membatu bukan hanya hatinya tapi juga pikirannya. "Ayo, kita kembali ke sel. Kau akan di sidang besok."
"Jangan sentuh aku! Beraninya kalian! Indra kalau kau memang mencintaiku.... Bebaskan aku!"
🌟🌟🌟🌟🌟
Hari ini Zain sudah diperbolehkan pulang, Dokter berpesan jika ada reaksi traumatis Zain maka harus segera dibawa kembali ke rumah sakit.
Semuanya ikut mengantarkan tapi tentu dengan jarak jauh, pandangan Zain curi-curi ke arah Zian dan Alan. Ia bisa mendengar panggilan saudara nya pada pria itu.
"Daddy!" Itulah kalimat yang terdengar jelas olehnya.
"Mommy...."
"Ya sayang?" Zoya merasa putranya memanggil dirinya. Tapi ketika menoleh Zoya melihat keterdiaman putranya.
"Mungkin hanya perasaan ku saja."
Zoya tidak tinggal lagi di apartemen tapi kediaman yang cukup bagi mereka dari saran Richard. Pria itu tentu saja tidak memberikan semuanya dengan cuma-cuma, Zoya tentu tidak akan menerimanya ia lebih suka dengan sesuatu yang ia beli.
"Nah, kita sudah sampai!" Perlahan mereka turun bersamaan, dan memasuki ruangan yang cukup luas itu. Pintu masuknya terbuat dari kaca dan dilapisi bahan yang aman dan kuat.
Baru menginjakkan kaki, terlihat ruang tamu yang menyambut. "Ini rumah kita." Zain menatap sekeliling melihat tempat yang menjadi rumah nya.
"Ayo, kita lihat kamar kita!" Ajak Zian tapi Zain hanya diam mengikuti saja.
"Ada taman, anak-anak pasti suka." Ujar Richard.
__ADS_1
"Ya, mungkin Zain akan beradaptasi lagi dengan ini. Dan semoga saja segera membaik, terima kasih atas bantuannya untuk ini."
"Kenapa bilang begitu, ini bukanlah apa-apa."
"Aku akan membuatkan minuman, kalian duduklah."
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Alice melihat wajah Alan yang berada disebelahnya.
"Menunggu kesembuhan putraku, maaf... Aku menyakitimu?"
"Tidak, dia juga putraku. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Karena sikap ku yang egois dan seperti anak-anak."
"Bukan, aku yang larut dalam genangan masa lalu."
Jili sudah membaik dan kembali kediamannya bersama nenek Ning dan Richard tengah membantu Zoya di dapur sambil berbincang kecil. "Aku sangat senang kau suka rumahnya."
"Hmmm, dan itu pilihanmu. Richard mengenai pernikahan kita, aku...."
"Jangan teruskan, aku sudah katakan pada Kakek. Dan itu bukan masalah, kita tidak bisa melakukannya ketika Zain membutuhkan kita sekarang. Dan lagipula sidangnya besok, kita harus memikirkan itu."
"Kalau begitu Daddy pulang dulu, hmmm. Besok Daddy datang lagi." Alan mengelus rambut hitam putranya dan membuat Zian tersenyum senang.
"Kami pulang dulu, sampai jumpa."
"Hati-hati." Rosa ikut tertidur dalam gendongan Alice dan keluarga kecil itu menuju mobil mereka yang membawa mereka ke kediaman.
"Ayah belum kembali juga, aku jadi cemas akan hal itu. Ibu berbuat hal yang sangat buruk."
"Mungkin Ayah sudah dirumah. Kenapa tidak hubungi Jim? "
"Benar juga."
__ADS_1
Sesampainya di kediaman mereka, terlihat pelayan yang menyambut tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Indra. "Apa Ayah belum pulang?" Tanya Alan pada pelayan.
"Belum tuan, tapi tadi datang sebentar dan pergi lagi dengan buru-buru dan beliau tidak mengatakan apapun."
Alan sidak mencoba menghubungi ayahnya tapi tidak ada jawaban, bahkan Jim juga tidak tau, ia mengatakan Indra ke rumah sakit dan meminta Jim menunggu disana tapi tidak terlihat Indra kembali lagi dan Jim tidak menemukan nya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mata dan pikiran Alan menjadi bertambah berat menerka kemana sang Ayah, hingga jam menunjukkan pukul satu pagi terdengar suara mobil yang membuat Alan menoleh dan terlihat sosok ayahnya.
"Ayah...." Baru saja pintu terbuka Alan melihat kedatangan ayahnya.
"Kau belum tidur?"
"Aku menunggu ayah, Ayah kemana saja??"
"Ayah mengurus Ibu mu."
"Mengurus? Bukankah besok sidang? Apa yang ayah urus? Ayah tidak berniat...."
"Menurut mu?" Indra menatap lekat putranya membuat Alan merasa sesuatu yang terjadi pada ayahnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Langit dikuasai oleh matahari, terlihat Zoya dan Richard datang ke pengadilan. Baru saja mereka masuk, terlihat Indra dan yang lainnya duduk di bangku yang disediakan.
Zoya yang berniat menyapa justru terdiam melihat ekspresi Indra dan yang lainnya ditambah dengan kedatangan Erna dengan kawalan ketat polisi tak lupa seringainya dengan mata yang terluka. "Apa yang terjadi?" Pikir Zoya.
Bersambung...
Jangan lupa like
__ADS_1
Tinggalkan komentar
Dan berikan hadiahnya ya terimakasih banyak