
Malam semakin larut tapi tidak membuat mata Alan mengantuk justru sekarang rasanya ia ingin pergi mencari sosok yang ia rindukan sekarang. Bayangan senyumannya, wanginya dan juga bicaranya tidak lepas dari ingatan Alan.
Tirai jendela yang tidak terlalu tertutup membuat Alan melihat cahaya dari bulan yang tengah bertugas malam ini. "Zoya?" Alan mengerjapkan matanya berulang kali melihat ke arah jendela yang membentuk sebuah bayangan seperti Zoya.
Kaukah itu ataukah sinar yang gemerlap?
Kaukah itu ataukah kuncup bunga yang tersenyum?
Kaukah itu ataukah musim hujan penuh impian?
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Malam yang sama di ruangan berbeda, Zoya terdiri menatap ke arah luar yang terlihat kosong tidak dihuni oleh sang rembulan.
Kaukah itu ataukah awan gelap kebahagiaan yang berarak?
Kaukah itu ataukah kembang yang merekah?
Kaukah itu ataukah telah kutemukan dunia baru?
Iringan mimpi terhenti beberapa saat
Lalu kau pergi entah kemana, aku pergi entah kemana.
Sebuah sentuhan lembut di pundaknya membuat Zoya tersadar dari bayangan Alan. "Ya Nek?" Tanya Zoya setelah melihat sosok Nenek Ning.
"Apa terjadi sesuatu di sana?" Suara Nenek Ning begitu lembut terdengar dan menetap di telinga Zoya.
__ADS_1
"Tidak, tapi aku baru saja mengambil sebuah keputusan."
"Kau memberikan kesempatan?" Zoya mengangguk samar dengan cahaya lampu yang menyinari wajahnya.
"Apa semuanya akan baik-baik saja? Aku merasa dilema setelah mengambil nya." Jujur saja Zoya merasakan kegelisahan dan sebuah perasaan di hatinya. Setelah Richard mengantarkan dirinya ia memberikan kesempatan pada dokter itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mobil hitam Richard baru saja terhenti di parkiran apartemen Zoya. Saat tangan Zoya membuka pintu, Richard mengentikan nya. "Ada apa?" Tanya Zoya melihat Richard yang terlihat menghela napasnya dengan berat.
"Zee, bagaimana jawaban mu? Aku tidak bisa menunggu lagi. Bisa katakan sekarang?" Hening, Zoya sedang berfikir dan berperang dengan hatinya.
"Richard, aku.... Kita bisa jalani ini, tapi aku tidak bisa menjamin secepat itu. Tapi, aku akan berusaha dan mencobanya." Wajah Richard pun mendongak dan tubuhnya segera merapat ke arah Zoya.
"Sungguh?" Tanya Richard bak anak kecil yang keinginannya terpenuhi.
"Aku tidak peduli, aku senang kau memberikan aku kesempatan. Dan aku akan membahagiakan mu dan Double Z dengan caraku." Senyum Richard terkembang dan wajahnya bersinar Zoya tersenyum melihatnya.
"Terimakasih."
"Tidak, aku yang seharusnya mengatakannya. Terimakasih kau sabar menunggu ku dan menghadapi ku, semoga....
"Semuanya akan berjalan dengan baik, jika ada rintangan aku tidak akan mengecewakan mu Zee. Aku senang sekali, terima kasih, ini hadiah yang terbaik di ulang tahun ku." Zoya sedikit kaget dengan pelukan kecil dari Richard, meskipun sebentar, tapi Zoya kembali merasakan sentuhan kecil dari sosok pria.
Hingga setelah Zoya turun dan Double Z tertidur dibantu Richard. Senyum masih terkembang di wajah Richard, tidak peduli langit yang semakin gelap tapi wajah itu terus bercahaya.
"Apa yang perlu dikhawatirkan? Jika sebuah niat baik pasti akan berakhir dengan baik. Jalani saja dan perlahan buka hatimu Zee, jika kalian ditakdirkan bersama maka semuanya akan berjalan dengan lancar. Jika tidak, kalian bisa berpisah dengan cara yang baik." Zoya merasa sedikit tenang sekarang, dan ia memeluk Nenek Ning sebagai ucapan terima kasih.
__ADS_1
"Terimakasih, kau seperti sosok Ibu bagiku."
"Sama-sama, semoga kebahagiaan selalu bersamamu." Harapan wanita tua itu sangatlah sederhana hanya ingin kebahagiaan menghampiri Zoya. Sejak Zoya datang dan tinggal di apartemen ini, mereka bertemu dan nenek Ning membantu Zoya mengurus double Z dan menjadikannya sebagai keluarga karena tanpa ia tanya. Ia bisa melihat hal yang berat dijalani wanita cantik itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suasana hening yang mengisi rumah Richard ditambah sepi karena semuanya tidur. Richard justru merasakan alunan lagu cinta di pikirannya, jawaban Zoya membuat ia merasakan suasana bahagia, seolah atmosfer yang mengelilingi dirinya tengah bernyanyi cinta untuknya. Gelapnya ruangan menuju kamarnya tidak membuat ia terjatuh atau menyalakan lampu tapi ia melihat cahaya yang bersinar terang yang dibawa oleh Zoya di tangan lembutnya.
"Zee, aku akan menunjukkan dan menghujani mu dengan cinta ku yang besar dan bewarna. Hingga kau akan lupa dengan masa lalu mu, dan tidak akan teringat dengan pria itu selain diriku." Richard berbaring di ranjang empuknya sambil menatap foto di pesta ulang tahunnya bersama Zoya dan Double Z.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Berdasarkan sebuah foto kau akan mencari kemana Alan?" Jim menggeleng mendapatkan perkataan Alan yang akan mencari Zoya.
"Tentu saja ke tujuan kapal yang dinaiki Zoya!"
"Aku paham, tapi..... Sepertinya kau lupa. Aku sudah mengatakan kita tidak tau informasi kemana kapal itu. Hanya terlihat Zoya di pelabuhan menuju salah satu kapal dari beberapa kapal. Kau akan mencari kemana?" Segarnya udara pagi tak membuat otak Alan segar tetapi tersumbat.
"Kalau begitu kau cari! Aku ingin bertemu Zoya!" Bak anak kecil yang tidak mendapatkan keinginannya, Alan merajuk di ranjang rumah sakit.
"Aku sedang berusaha. Kau pikir gampang? Kalau iya, kau tidak akan terjebak dengan keadaan ini bukan?" Hentakan kaki Alan terhenti setelah mendengar ucapan Jim.
"Bodoh bukan? Seharusnya aku pergi saja atau memotong tali yang mengikat ku, tapi...." Alan tidak melanjutkan ucapannya dan tersenyum melihat sosok Rosa yang baru saja masuk dengan makanan ditangannya.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1