Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Kebersamaan


__ADS_3

Puas mengisi tenggorokan dengan cemilan dan kesegaran minuman yang manis membuat double Z bersemangat kembali untuk menyusuri kawasan wisata ini.


Tak lupa dengan tawa mereka yang terdengar di telinga Alan bak melodi yang indah. "Daddy! Kita ke sana, aku mau lihat barang antik!" Ajak Zian yang tak lama disahuti Zain kemudian.


"Zain juga!" Double Z menarik tangan kedua orang tuanya. Baik Zoya maupun Alan mengikuti langkah buah hati mereka.


Ada toko antik dan pakaian serta barang yang dijajakan tidak ditemui di tempat lain. Alan menjelaskan beberapa barang yang tidak dimengerti oleh kedua putranya dibantu Zoya sesekali.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Pesan dari Richard tiba-tiba memenuhi kepalanya. "Lusa bisa aku jemput? Aku ingin mengajak mu ke rumah."


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Zoya.


Ekspresi berfikir itu tertangkap oleh Alan, meksipun tangan dan bibirnya berada pada kedua putranya tapi, tatapannya tidak begitu. "Apa yang dipikirkannya? Apa pesan dari pria itu?"


"Daddy, kalau foto disini pasti bagus." Kata-kata putranya bak solusi di tengah kegelisahan Alan.


"Iya, ayo panggil Mommy. Kita foto bersama." Dengan segera double Z menuju Mommy mereka yang tengah berdiri di sebuah kerajinan tangan.


Zoya yang mendengar suara putranya serta tarikannya membuat ia tersadar. "Ya Zian? Kenapa?"


"Mommy, ayo kita foto di sana!" Tanpa mendengarkan balasan Mommy nya. Zian langsung menarik tangan Zoya kearah Alan dan saudara kembarnya.


"Maaf, bisa tolong fotokan kami?" Ujar Alan pada seorang pria yang bekerja di sana. Zoya tidak melakukan penolakan melihat antusias double Z.


"Tentu." Jawab pria itu yang menerima ponsel Alan.


Tak lama berbagai potret diambil. Zoya yang awalnya merasa canggung tak lama terbawa suasana. "Mommy, Daddy peluk kami!" Suara double Z menjadi penutup potret mereka.


"Terima kasih." Alan mengucapkan rasa terima kasih pada pria itu.

__ADS_1


"Sama-sama, kedua putra anda sangat tampan dan menggemaskan." Alan tersenyum menanggapi ucapan pria asing itu.


"Mommy, nanti kita beli itu ya. Aku mau sekali."


"Zain juga!" Sepasang mata Alan melihat interaksi Zoya dan kedua putranya. Seharusnya momen ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Suara tawa dan wajah gembira serta senyuman ketiganya adalah kebahagiaan tak ternilai bagi dirinya.


Andai saja ia bisa mengulang waktu, jangankan dia semua orang ingin begitu. Sayangnya tidak terjadi, ada rasa yang tidak rela atau penyesalan menerima permintaan ibunya tanpa menunggu beberapa saat lagi. "Kalau ibu tau, apa ia masih berfikir hal yang sama? Aku ingin merangkai ikatan ini lagi."


"Kau yakin? Lalu bagaimana dengan Rosa dan Alice?" Sisi lain Alan bicara dan membuat dirinya terdiam.


"Ia bisa saja meninggalkan Alice begitu mudahnya tapi, bagaimana dengan Rosa? Putri kecilnya? Bahkan penolakan Zoya masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Energi double Z telah habis dan mengakibatkan keduanya tertidur pulas di belakang. Zoya tidak bisa duduk dibelakang karena posisi tidur double Z. "Mereka terlihat sangat lelah." Alan memulai percakapan karena sepanjang perjalanan hanya ada keheningan ditemani musik yang sedang bermain.


"Iya, ketika mereka keluar atau liburan tubuh mereka akan tumbang setelahnya."


"Zoya, pasti begitu banyak kesulitan yang kau alami. Maaf untuk itu..."


"Dan terima kasih karena sudah mengajak double Z jalan-jalan."


"Itu adalah tugas Mas. Jika bisa, tidak hanya sekedar tapi, selamanya."


Zoya tapi membalas, lantunan lagu yang bersenandung menceritakan tentang cinta sejati membuat suasana menjadi canggung bagi Zoya.


"Kau tau Zoya, kehidupan yang mas jalani tidak sebaik dan secerah itu. Tidak seperti saat bersamamu Zoya."


"Cobalah mengingat masa sekarang tanpa kehadiran ku. Itu juga sangat cerah apalagi , sosok kecil manis itu. Bukankah itu menjadi hal yang terpenting dalam hidup mas bukan?" Alan tidak menyangka Zoya akan membalas ucapannya dengan sederhana tapi mematikan baginya.


"Lalu apa kau juga bahagia atau mencintai pria itu? Bagaimana pendapat keluarga nya? Anggaplah dia menerima tapi bagaimana dengan pendapat orang tuanya? Terutama adanya double Z." Zoya tidak menjawab pertanyaan Alan melainkan mengucapkan lain.


"Kita sudah sampai." Zoya keluar dan mengambil Zian dari mobil. Alan menahan diri nya untuk tidak bicara yang mungkin akan disesali nanti.

__ADS_1


"Biar Zian denganku." Alan menggendong Zian sedangkan Zain di gendongan Zoya. Mereka segera masuk setelah pintu dibuka.


"Kau belum menjawab pertanyaan mas, apa double Z akan segembira itu dengan pria yang menjadi pilihan mu?"


"Richard memiliki posisi tersendiri di hati double Z. Jangan tanyakan itu, apa mas mencoba mempengaruhi mereka?"


"Tidak, kalaupun iya. Sudah aku lakukan, kenapa harus menunggu?"


🌟🌟🌟


"Zee, Richard memberikan ini tadi. Karena kau sedang pergi jadi...." Jili salah tingkah karena mengira Zoya sendirian tidak bersama mantan suaminya.


"Maaf, aku tidak tau. Kalau begitu aku letakkan disini saja." Jili segera pergi meninggalkan kedua orang itu.


Manik milik Alan mencuri pandang kotak pemberian Richard. "Pikirkan Zoya, jangan karena kesalahan dari Mas. Kau memutuskan untuk memilih pria itu, karena Daddy double Z sudah datang dan menemukan kalian." Tubuh Zoya tersengat karena elusan Alan di pucuk kepalanya.


Zoya tidak mengatakan apapun, pikirannya kosong sekarang. Zoya tidak berfikir Alan akan melakukan itu, tatapannya melihat Alan yang perlahan pergi dari apartemennya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Aku ingin...." Alan tidak melanjutkan ucapannya melihat siapa yang membuka pintu.


"Ibu...."


Bersambung.....


Jangan lupa like 👍


Tinggalkan komentar 🙏


Serta hadiahnya 🎁

__ADS_1


Juga favorit ya.


__ADS_2