
Makanan yang dipesan oleh Richard akhirnya datang, terlihat Zoya begitu senang. "Hanya makanan tapi bisa membuatmu senang, apa semudah itu?"
"Iya, hal yang kecil saja sudah membuat kita bahagia. Kenapa tidak bersyukur untuk itu?" Zoya mengambil sendok dan mulai makan.
"Ini, ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar."
"Tidak mau memfoto nya dulu? Seperti yang lainnya, aku bisa menunggu."
"Tidak, aku tidak seperti itu." Zoya langsung memasukkan nasi itu kedalam terowongan menuju perutnya.
Richard memandangi Zoya sejenak dan tak lama ia ikut makan segera. Hal itu menjadi perhatian yang utama bagi Erna, ia melihat senyum yang terkembang di wajah Zoya membuat ia tidak suka.
'Dasar wanita gampangan. Sepertinya ia menjadi simpanan. Lihat saja nanti!' Erna makan seperti yang lainnya tapi hatinya tengah mengumpati seseorang.
Erna hanya bisa melihat Zoya tidak dengan Richard karena terhalang oleh orang lain. Ketika hati sudah mengiri dengki maka apapun yang baik berubah menjadi buruk.
"Siapa yang Ibu lihat?" Pertanyaan Alan sontak melihat Erna berusaha agar putranya itu tidak melihat wanita yang masih mendiami hatinya.
"Tidak ada, Ibu kira teman Ibu. Ternyata bukan, salah orang. Lupakan saja, ayo kita makan lagi." Ujar Erna dan Alan mengiyakan.
Beberapa waktu kemudian, Zoya merasa ingin ke kamar mandi. "Richard, aku ke toilet sebentar ya."
__ADS_1
"Iya, hati-hati." Ujar Richard dan Zoya segera melangkah pergi. Tentu saja itu tidak luput dari pandangan Erna.
Melihat ada kesempatan, ia turut ke sana." Ibu ke toilet sebentar." Ujar Erna sembari melangkahkan kakinya dengan cepat.
Di toilet yang tidak terlalu banyak orang hanya ada dua termasuk Zoya. Setelah selesai ia segera mencuci tangannya dan sambil bercermin memperbaiki riasan atau rambutnya.
Tak lama salah satu pintu toilet terbuka memperlihatkan sosok wanita segera keluar dan tinggallah Zoya seorang. Saat asyik berkaca Zoya dikejutkan oleh sosok yang terpampang di kaca.
"Apa kabar Zoya?" Erna menyapa mantan menantu nya itu. Zoya bercampur kaget dan cemas mengingat pertemuan dia dengan mantan mertuanya yang melorehkan luka padanya yang tidak akan bisa ia lupakan.
Tidak ini meladeni, Zoya berniat pergi namun tangannya ditarik. "Sombong sekali kau ini. Apa karena menjadi simpanan setelah dicampakkan oleh putraku? Astaga! Aku lupa tentu saja. Apa yang akan membuat pria lajang menerima wanita yang cacat seperti mu."
Zoya memejamkan matanya sembari mengambil napas sebanyaknya untuk mengahadapi Erna. "Dicampakkan? Anda yakin Nyonya Erna? Karena aku yang pergi meninggalkan putra mu. Dan satu lagi anda bilang aku cacat? Sepertinya anda perlu melakukan observasi lebih mendalam lagi dan jangan menyimpulkan dari pertemuan pertama." Erna mengeram mendengar ucapan Zoya tadi berani padanya.
"Jika aku wanita pembawa keburukan kenapa anda yang memiliki seribu kebaikan mau menemui dan bicara dengan pembawa keburukan seperti ku? Anda tidak takut kena imbasnya? Dan anda wanita terhormat tidak perlu bicara dengan wanita murah seperti ku, bukankah itu membuang waktu saja? Dan aku yakin lebih bersyukur karena bercerai dari putra anda. Aku menemukan kebahagiaan yang bahkan tidak anda miliki atau pun putramu. Selamat malam!" Zoya segera pergi sebelum ia mengeluarkan kata-kata atau tindakan di luar kendali nantinya.
Erna menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya melihat mata yang tidak pernah berani menatap dirinya sekarang sudah memberikan balasan mata tajam dan balasan yang menohok. "Aku akan membuat keberanian mu itu menjadi tangisan. Sampai kapanpun aku tidak akan rela kau bahagia dengan putraku atau siapapun!"
ππππππ
Richard merasa lega saat melihat Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sedangkan Zoya berfikir jika Erna disini pasti ada Alan juga dan ketika ia mengedarkan pandangannya terlihat sosok Alan bersama gadis kecil yang berusia 4 tahun tengah bergelayut manja dan sosok wanita keturunan Eropa di sebelahnya ikut tersenyum juga.
__ADS_1
"Benar dugaan ku."
"Zee, kenapa lama sekali?" Tanya Richard
"Maaf, aku sakit perut. Mungkin karena terlalu pedas. Jadi, bisa kita pulang saja?"
"Kita ke rumah sakit? Apa begitu sakit? Aku...." Richard terlihat cemas akan keadaan Zoya.
"Tidak perlu, kita pulang saja." Zoya berharap Richard segera setuju sebelum mantan ibu mertuanya atau istri Alan melihatnya, itu akan menjadi masalah.
"Baik, kita pulang." Dengan segera kedepan meninggalkan restoran dan Erna menangkap Zoya sudah pergi dari sana.
"Mari kita lihat kekuatan dan ketangguhan mu Zoya."
Bersambung...
Jangan lupa likeπ
Tinggalkan komentar π
Berikan rate bintang lima 5οΈβ£
__ADS_1
Dan hadiahnya π