
Kembali lagi untuk ketiga kalinya tapi bukan di tempat kurungan itu melainkan rumah sakit dengan pengawasan ketat. Indra tidak mengabari siapapun datang kemari dan kedatangannya langsung disambut oleh pihak kepolisian. "Tuan Indra, akhirnya anda datang."
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Indra sambil melirik ke dalam.
"Mari Tuan, ada dokter yang akan menjelaskan." Indra menurut saja, ia masuk ke dalam ruangan dokter itu.
"Dengan keluarga pasien?" Ia bicara menatap Indra.
"Iya, saya suami nya."
"Silakan duduk tuan, kita akan membicarakan nya." Tak buang waktu Indra segera duduk dan segera dokter itu membuka kacamata nya dan mengambil sesuatu.
"Begini tuan Indra, saya akan menjelaskan apa yang saya temukan dari pemeriksaan saja. Pasien dibawa kemari dalam keadaan terluka, masalahnya matanya tertusuk potongan besi. Kami melakukan penanganan segera, tapi mata kanan itu mengalami kerusakan selain menahan sakit beberapa waktu kedepan. Saya sampaikan dengan berat hati, mata kanan istri anda mengalami kebutaan permanen."
Indra memastikan pendengarannya tidak salah, bukankah ia baru saja menjenguk istrinya itu. Bagaimana mungkin bisa ia mengalami hal ini. Begitu banyak pertanyaan dibenak pria berusia 56 tahun itu.
"Tidak bisa dioperasi Dokter?" Meksipun rasa kekecewaan menusuk hati nya tapi rasa cinta itu masih ada dan tidak ingin suatu buruk terjadi pada Erna.
"Tidak bisa tuan, potongan besi itu mengenai saraf penting pada penglihatan itu. Jika dilakukan operasi persentasi kegagalan dan lebih buruk lebih banyak dari pada keuntungan nya."
__ADS_1
Indra keluar dengan dinanti salah satu polisi, Indra menatap polisi itu dan mengerti akan tatapan Indra ia menjelaskan. "Begini tuan Indra, setelah kepergian anda sekitar beberapa jam kemudian. Tersangka Erna bertengkar dengan tahanan satu sel nya, saat itu sedang ada arus listrik yang bermasalah bagian belakang dan perlu ditangani. Saat kami kembali tahanan lain berteriak melihat keadaannya, kami mengintrogasi tahanan lain sebagai pelaku dan ia mengakuinya karena Erna lebih dulu memancing keributan."
Dalam ruangan itu, Indra menatap tubuh istrinya yang terbaring dengan mata kanan nya yang dilapisi perban dan beberapa goresan di wajah nya. Indra mencoba menyentuh wajah itu, tapi sepertinya Erna mulai bergerak.
Matanya terbuka, kesadarannya mulai terkumpul. Ia melihat Indra di hadapannya dan ketika ia bersuara ia merasakan sakit yang teramat di mata kanan nya. Tangan itu meraba dan merasakan ada sesuatu yang membungkusnya.
"Apa yang terjadi dengan mataku? Katakan!" Bukannya bertanya dengan baik, Erna jutsru berteriak histeris.
"Erna, tenanglah..."
"Katakan! Apa yang terjadi?"
"TIDAK!"
ππππππππππ
Zain kembali berteriak saat didekati oleh Rosa membuat Zoya dan Zian berhasil memenangkan nya. Hanya kedua orang itu yang diterima oleh Zain, setidaknya itu adalah pembuka yang bagus bukan. "Sayang, ayo makan dulu. Lihat, Mommy bawakan apa?"
Netra Zain melirik tempat makan itu yang terlihat menggugah seleranya. "Aku lapar Mommy." Zoya duduk disebelah putranya dan mulai menyuapi putra kecil nya itu.
__ADS_1
Zoya dan yang lainnya merasa sangat bersyukur, Zain sudah makan dengan baik tidak seperti sebelumnya. Dokter menyarankan agar tidak bersikap gegabah dan perlahan mengenalkan diri pada Zain.
"Enak sekali mommy." Ujar Zian yang diangguki oleh Zain.
Sekarang Zain terlihat berbeda dari sebelumnya, ia hanya bicara sedikit dan juga tersenyum. "Mommy, siapa itu?" Tunjuk Zain mengarah pada Alan yang berada dihadapannya dengan jarak tertentu.
"Itu...."
Bersambung......
Jangan lupa like π
Tinggalkan komentarβοΈ
Dan berikan hadiahnya π
Maaf update nya dikit lagi sakit, mohon pengertiannya ππ
Terima kasih semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1