Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Semuanya melebur menjadi satu


__ADS_3

Tatapan Alan terkunci pada sosok yang ia cari, ia rindukan selama ini. Ia tidak mau berkedip sedikit pun karena takut semuanya akan lenyap bak bayangan. Bibirnya terus menyebut nama Zoya sambil melangkah pelan. Tapi kakinya terasa begitu berat melangkah, tapi ia tidak peduli dan tetap menuju wanita yang terdiam di hadapannya.


"Zoya....


"Papa!" Pendengaran Zoya langsung menajam mendengar kata itu. Matanya yang berembun langsung menatap sosok kecil yang ia bantu itu.


Dengan bantuan cahaya kembang api, Zoya melihat sosok gadis kecil itu yang memeluk kaki Alan dengan terus memanggil Papa. Pikirannya yang tadi terasa buntu langsung tersadar ditambah dengan putaran kejadian itu. Dengan cepat dan gemetar Zoya melangkah pergi dari sana dan berlarian di tengah kerumunan orang menikmati kebahagiaan. "Zoya!" Alan ingin mengejar tapi putrinya membuat ia tidak bisa berkutik. Jika ada Alice, mungkin akan berbeda.


"Papa, kaki Rosa sakit." Keluh putrinya yang mulai menangis.


"Ayo, kita obati." Dengan segera Alan menggendong putrinya dengan mata yang tidak lepas memandangi bayangan Zoya yang sudah menghilang.


'Sekarang kau bisa lari, tapi nanti. Tidak lagi, aku akan menemukan mu, Zoya.' Itulah gumaman dihatinya terus menerus.


Orang-orang yang sibuk dengan kebahagiaan mereka bersama orang terkasih justru berbanding terbalik dengan Zoya. Hatinya sungguh kacau, begitu juga pikirannya yang terus-menerus berperang, cemas, takut, rindu semuanya jadi satu. "Tidak! Mereka tidak boleh bertemu! Aku tidak mau kehilangan anak ku lagi. Tidak.... Aghh!" Zoya terpekik kaget saat sebuah tepukan di pundaknya saat ia berbalik ia melihat Richard.


Richard yang mencari keberadaan Zoya sejak tadi, akhirnya menemukan wanita itu tapi dengan keadaan yang kacau. Begitu banyak keringat di wajahnya serta badannya sedikit gemetar seolah ada sesuatu yang mengancamnya. "Zee, are you ok?" Tanya Richard


"Bawa aku pulang!" Hanya itu yang Zoya katakan. Richard ya merasa Zoya mengalami sesuatu segera membawanya kedalam pelukannya tidak peduli Zoya memarahi nya nanti.


"Bawa aku pulang.... Tolong...." Zoya tidak marah, tapi terus bergumam hal yang sama.


"Iya, kita pulang." Jawab Richard berharap Zoya tenang.


"Double Z, dimana? Mana kedua putraku?" Richard cukup kaget mendengar ucapan Zoya dengan teriakan, tubuhnya yang tadi tenang berubah seketika membuat Richard kembali menenangkan nya. "Mana putraku!"


"Mereka pergi bersama Nenek Ning dan jili ke kediaman mereka, tenanglah! Ada apa dengan mu Zee?" Zoya menatap mata biru itu mencari kejujuran disana.


"Sungguh?" Lirih Zoya dengan napas sesak.


"Kau juga ada di sana tadi, kenapa dengan mu?"

__ADS_1


"Aku.... Dia, aku... Sesak napas Zoya semakin menjadi, membuat ia tak pernah jatuh pingsan dari Richard panik seketika dan segera membawanya pergi.


🌟🌟🌟🌟


Alice tidak mengerti dengan sikap Alan yang mengajak mereka pulang padahal belum waktunya. "Alan, kenapa tiba-tiba?"


"Apa kau tidak lihat? Kaki Rosa sakit." Jawab Alan.


"Sudah sembuh Papa, aku hanya kaget tadi. Aku mau ke sana la...


"Tidak! Kita pulang, kau harus istirahat. Papa sangat khawatir, kita lanjutkan nanti." Alan menekan amarah dan kegundahan hatinya agar Rosa tidak takut.


"Papa sangat takut." Alan menciumi rambut putrinya sambil terus memeluk Rosa dalam pelukannya. Alice memandangi Alan dengan seksama dan yakin ada sesuatu yang terjadi.


Kecurigaan Alice semakin menjadi, setelah melihat Alan menghubungi seseorang. Ia menajamkan pendengarannya tapi begitu jelas dan sayang sekali percakapannya berakhir. "Apa yang kau lakukan?"


"Maaf, aku pikir kau di mana. Aku baru saja buatkan kopi hitam." Ujar Alice sembari meletakkan kopi di meja.


"Kenapa? Apapun itu, bukan urusanmu. Ingat perjanjian kita! Dan ya, aku akan disini selama dua minggu lagi."


"Oh ya? Rosa pasti akan senang....


"Hanya aku." Ucap Alan memutus pemikiran wanita itu.


"Hanya kau? Kenapa?"


"Ada urusan, dan aku sudah bilang kau tidak perlu tau.".


"Tapi Rosa nanti bertanya. Aku harus jawab apa?"


"Harus jawab apa? Kau sangat ahli dalam bicara apalagi jika disatukan dengan ibuku. Kalian sangat hebat, jadi kenapa harus bingung?" Alice terdiam mendengarnya, dan Alan terlihat tak peduli akan hal itu, ia justru menikmati kopinya.

__ADS_1


'Aku akan membawa mu pulang, dan kita akan merajut impian kita yang tertunda.' Alan menatap langit malam yang membentang di matanya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mata itu perlahan terbuka, Richard segera terbangun dan bernapas lega melihatnya. "Syukurlah, kau sudah sadar. Ini minumlah." Richard memberikan segelas air untuk Zoya dan ia menerimanya, air di gelas itu lenyap dalam sekali tandas.


"Terima kasih." Sekarang Zoya mulai terlihat tenang, tapi tetap saja kegelisahan di matanya tertangkap oleh Richard.


"Aku senang kau sudah tenang. Walaupun aku tidak tau, apa yang terjadi. Tapi sebagai teman atau dokter kau bisa berbagi. Tidak baik menyimpan kegelisahan itu bisa membuat mu sakit, dan Double Z jadi cemas nanti." Richard berujar dengan lembut membuat Zoya menatapnya sejenak.


"Dia di sini." Balasan singkat itu tentu langsung dipahami oleh Richard.


"Jangan risau, mungkin ia hanya berlibur dan berfikir kau juga begitu."


"Aku takut, ia membawa double Z ku."


"Tidak akan terjadi, ada aku dan yang lain." Richard tersenyum sembari tangannya mengelus rambut Zoya.


"Tapi jika aku boleh memberikan saran. Kau tidak bisa seperti ini terus, sebaiknya selesaikan masa lalu itu. Mungkin kau berfikir tentu saja itu sangat mudah diucapkan karena aku tidak mengalaminya. Tapi percayalah, hatimu akan dipenuhi dengan ketidaksenangan, gelisah dan mungkin double Z juga begitu nanti. Dan kau juga tau, double Z merindukan Daddy Marlin nya. Jika kau tidak bisa berdamai dan menguatkan dirimu jangan libatkan mereka. Atau mungkin kau menunggu beberapa tahun lagi, tidak masalah aku mendukungmu dan ingatlah selalu, aku bersamamu jangan berfikir kau sendirian seperti saat kau datang kemari." Tangan kanan Richard menghapus air mata yang mengalir di pipi Zoya.


Dering ponsel Richard membuat dokter itu segera mengangkatnya. "Ya Bibi. Hmmmm, tidak masalah. Double Z bisa menginap di sana sepertinya Zee kurang sehat karena angin malam. Baik, sampaikan salam kami pada double Z."


"Sekali lagi terima kasih." Zoya kagum Richard bisa mengatasi situasi dengan baik.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." Zoya menutup matanya dengan perlahan dan Richard yang merasa Zoya sudah berada di alam mimpinya terlihat mengetikan sesuatu di ponselnya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Tuan, kami menemukan informasi penting tentang nya." Senyum di wajah tampan itu langsung keluar ditengah kegelapan malam.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak atas dukungannya ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2