Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Teman Dekat?


__ADS_3

Sebelum membaca boleh berikan vote serta hadiahnya. Terima kasih banyak ❤️❤️❤️ Selamat membaca


Pagi ini perasaan Zoya terasa lebih baik, ia tidak terlalu memusingkan masalah Alan yang berada di sini. Yang jelas, ia tidak perlu ke rumah sakit atau tempat umum sementara agar tidak bertemu dengan Alan.


Sekarang pemikiran Zoya mulai tertuju semalam saat Richard menatap dirinya dengan beberapa pertanyaan. "Apa sekarang lingkaran nya sudah cukup setengah?" Zoya sedikit bingung dengan lingkaran yang ambigu baginya.


"Maksudnya?" Tanya Zoya tidak mengerti.


"Lingkaran pengisian cinta ku. Apa sudah cukup setengah? Aku harap sudah karena sebelumnya double Z melengkapinya."


"Richard....." Mata Zoya membulat saat melihat wajah Richard terlihat begitu dekat dengannya. Ditambah tubuhnya ikut bereaksi, dapat Zoya rasakan telunjuk Richard menyentuh lembut bibirnya.


"Jangan jawab sekarang, aku bisa lihat nanti. Yang jelas aku sangat senang dengan ini, kau tidak seperti saat kita bertemu."


"Sepertinya sudah waktu untuk pulang, kalau tidak nanti Mama mu akan berfikir aku menahan putranya di sini, atau pasien mu kebingungan mencari dokternya." Zoya bangkit dan mengambil jas serta topi Richard yang tergantung di sebelah pintu masuk.


"Biar saja, asal.... Kau tidak kebingungan karena aku selalu ada untukmu."


Hati Zoya terasa hangat, wajahnya perlahan bersemu merah. Ia berusaha menutupinya tapi, Richard tentu bisa tau. "Sudah, ayo pulang.”


"Baiklah, tapi setelah ini. Kau tidak akan mengatakannya lagi, karena kita akan tinggal bersama. Kau, aku, double Z serta kebahagiaan baru kita. Kau mau kan Zee? Aku harap hatimu tidak berubah dan lingkaran pengisian cinta ku tidak berkurang meskipun dengan kedatangan dia." Richard menutup pintu membiarkan Zoya terpaku dibaliknya.


Mungkin benar, kehadiran Richard sudah menempati bagian hatinya. Pria itu mengisi sesuatu dan membuat kehidupannya bewarna, bahkan juga double Z. "Mommy, apa Daddy datang?" Pertanyaan putranya membuat Zoya kaget.


"Daddy? Kenapa bilang begitu?" Tanya Zoya, sepertinya putranya bermimpi karena terlihat Zian menujunya dengan pakaian tidurnya.

__ADS_1


"Iya, aku lihat Daddy menuju kesini. Dengan boneka Nemo yang besar." Ujar Zian dengan tangan membuka besar.


"Mungkin saja, bagaimana kalau mandi. Agar Zian segera wangi, karena Mommy harus ke restoran dan ....."


"Nenek akan datang, dan kami harus wangi atau tidak.... Omelan Nenek dengan satu jam lamanya akan menghiasinya telinga kami." Zoya tertawa kecil karena itu sudah biasa terjadi.


"Iya, ayo bangunkan Zain. Mommy memasak dulu."


"Baik Mommy." Zian kembali ke kamarnya dan Zoya melanjutkan kegiatan masaknya berharap Alan tidak akan muncul lagi.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Lagi-lagi Alice menahan diri melihat Alan sudah bersiap pergi sesuai perkataannya. Rosa pun terlihat setuju dan tidak masalah, sungguh putrinya itu sangat pengertian mungkin karena pemikiran polosnya itu. "Apa Papa akan pulang lama?" Tanya Rosa sambil mengunyah rotinya.


Cup! Cup! Cup!


"Semangat Papa, aku akan berdoa semoga semuanya lancar."


"Terima kasih sayang. Papa sangat menyayangimu." Alan turut mengecup pipi tembam putrinya membuat Rosa terkekeh geli.


"Aku pergi." Alan bahkan tidak menatap wajah Alice, hanya berpamitan pada Rosa lalu menghilang bak angin. Mobil Alan melaju menuju apartemen Zoya, ia yakin akan bertemu dengan wanita yang masih bertahta di hatinya itu.


Sepanjang perjalanan, Alan tak henti-hentinya tersenyum. Ia yakin akan ada kabar baik untuknya, Zoya akan mau ikut bersamanya. Ia akan menjelaskan apa yang terjadi empat tahun ini begitu juga dengan Zoya.


Alan segera memakirkan mobilnya dan langsung keluar menuju unit 17. Tangannya sudah tak sabar mengetuk pintu dan satu ketukan pintu sudah membuat perasaan nya tak karuan. "Astaga, aku seperti pertama kali mengajaknya berkencan saja." Gumam Alan sembari mengetuk pintu untuk ketukan yang kedua.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ketukan kedua terdengar langkah kaki yang mendekat, dan ketika pintu terbuka. Alan melihat sosok wanita tua yang membuka dan menatapnya dengan seksama. "Kau cari siapa?" Tanyanya pada Alan.


"Aku... Mencari....."


"Nenek! Kacamatanya ketinggalan...." Terdengar suara kecil dibelakangnya membuat Alan penasaran karena seperti pernah mendengarnya.


Alan terpaku melihat sosok anak laki-laki yang menuju dirinya dan wanita tua itu. "Paman, kau ke sini? Mau tanggung jawab ya?" Sayangnya Alan masih bungkam karena sibuk meneliti dirinya.


"Tanggung jawab?" Ulang wanita tua itu.


"Iya Nek, Paman ini menabrak kejutan untuk Mommy tapi, Bibi Jili melarangnya."


Kacamata itu terlihat digosok sejenak oleh wanita tua itu sambil bertanya lagi pada pria dihadapannya yang terlihat buram.


" Kau temannya Zee. Dia baru saja pergi, hanya ada aku dan kedua anaknya." Kata terkahir membuat bibir Alan terkunci serta tubuhnya gemetar bukan main.


"Anak Zoya?" Tanyanya setelah berhasil mengeluarkan tenaga untuk berucap.


"Wah, sepertinya kau teman dekatnya. Kau bahkan tau nama pang....." Wanita tua itu langsung bungkam setelah dapat melihat dengan jelas wajah pria dihadapannya dan matanya membulat sempurna.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya.

__ADS_1


__ADS_2