
Ditengah keramaian itu tidak membuat Erna ingin bicara atau tertarik. Sekarang ia terlihat melamun bak orang putus cinta, pikirannya melalang buana ke dua sosok kecil itu. "Aku tidak mungkin salah liat. Penglihatan ku masih normal. Tapi..... Bagaimana bisa? Dia tidak mungkin bisa...."
"Jeng! Kok disini?" Suara Mona mengagetkan wanita itu. Erna berusaha menghilangkan ketegangan di wajahnya.
"Aku merasa sedikit pegal setelah berdiri cukup lama. Jadi aku duduk sebentar." Ujarnya.
"Dari tadi aku cariin ternyata disini. Yuk, kita foto keluarga, semua sudah menunggu." Ujar Mona.
"Iya." Erna segera melangkah dan menepis itu untuk sementara meksipun tidak bisa ia hilangkan dari pikirannya.
Bahkan ketika sesi foto ia memandangi wajah putranya itu yang tersenyum dan ketika tidak terlihat oleh Rosa ada perubahan di sana.
"Apa Alan sudah tau? Kalau iya, apa dia sengaja? Apa yang ia pikirkan?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Zoya mengerutkan keningnya melihat kedua putranya langsung menuju kamar mereka. Setelah memberikan ritual sebelum tidur, double Z segera masuk ke kamar mereka.
"Mungkin mereka mengantuk." Ujar Richard.
"Kau ingin kopi? Atau apa?" Tanya Zoya menuju meja dapur.
"Aku ingin kau cerita, kalau kau memang bersedia dan siap. Aku hanya bisa menebak versi ku ketika di sana." Zoya memang yakin Richard sudah mengendus ketidakberesan disana
"Kalau aku jelaskan, bagaimana reaksi mu? Apa masih sama?" Entah mengapa Zoya menanyakannya.
__ADS_1
"Kau meragukan ku? Aku bisa cari tau sendiri dan kau tau reaksi ku Zee. Apa kau masih meragukannya?"
"Entahlah, aku...."
"Aku menerima semua masa lalu mu, aku tidak peduli akan itu. Bukankah sudah kita bahas?" Perlahan Richard menggenggam tangan Zoya, perlahan wajah keduanya saling berhadapan dengan mata yang saling memandang.
"Tadi itu ibu maksudnya mantan ibu mertuaku, juga adik ipar. Aku tidak tahu pasti sebelumnya ia menerima ku dengan baik, tapi setelah itu semuanya berubah. Apalagi...." Zoya tidak melanjutkan ucapannya tanpa diminta air matanya turun.
Suara isakan mulai terdengar, Richard memeluk tubuh yang mulai bergetar itu. Entah apa kelanjutannya sehingga Zoya tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Tidak apa, sudah tidak perlu lanjutkan. Aku disini."
Elusan di punggung dan bahu Zoya membuat wanita itu menjadi rapuh seketika, tangisan yang sebelumnya ia tahan akhirnya keluar juga. "Rasanya sakit sekali.... Sangat...." Richard merasakan jasnya basah karena air mata itu.
"Menangis lah Zee, menangis lah! Keluarkan saja semuanya, jangan ditahan." Richard mengeratkan dekapannya agar suara Zoya tidak terlalu dengar oleh kedua putranya.
"Aku tidak pernah menduga, kesedihan dan kebahagiaan ku sengaja direnggut tanpa alasan yang jelas. Dua kali... 2 kali aku kehilangan bayiku.... Ba-bayi- ku Richard." Mata Richard membola mendengar nya, ia tidak salah dengar.
"Ya, aku kehilangan mereka karena..." Setelah mengatakan itu tangisan Zoya kembali terdengar, sekarang Richard mengerti sikap Zoya dan keputusan nya.
"Sekarang ada aku. Aku berjanji... Bukan! Aku Richard akan membuktikan padamu Zee. Aku akan buktikan, bukan janji yang bisa ku ingkari. Kalau kau masih menangis maka menangis lah. Tapi setelah itu jangan menangis lagi." Mata Zoya terpejam merasakan jari-jari Richard menghapus air matanya.
"Kita akan menikah secepatnya kau mau?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Jim yang berada di Indonesia langsung terpekik kaget mendengar ucapan Alan. "Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura Jim! Aku ingin kau datang dan bantu aku gagalkan pernikahan Zoya. Aku tidak mau itu terjadi!"
"Tapi....
"Aku tunggu tiga hari dan kau harus kesini!"
"Tuan aku punya berita yang akan membuat...
"Aku tidak ingin apapun yang akan kau katakan! Cepat....
"Saya membawa bukti mengenai kejadian kepergian Nyonya Zoya tuan ." Amarah Alan terhenti seketika, bibirnya yang ingin mengumpat langsung tertahan mendengar ucapan Jim.
Tidak ada jawaban dari Alan membuat Jim melanjutkan ucapannya. " Saya akan datang kesana secepatnya. Tuan harus tau mengenai ini, selamat malam Tuan."
Selamat malam yang dikatakan Jim tidak akan membuat Alan tertidur, pria itu kembali menghubungi Jim. Tapi Jim tidak mengangkat nya membuat pria itu semakin tak karuan.
Merasa pasokan udara yang menipis, Alan menuju balkon kamar. Sekarang bukan hanya masalah putranya atau calon suami Zoya melainkan rahasia yang akan segera terungkap bukankah itu yang ia inginkan.
Namun sayangnya semuanya diwaktu yang tidak tepat, alan berharap pagi segera datang ia ingin menemui kedua putranya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Tu-tuan?" Jim mematung tak percaya saat melihat sosok pria yang berada dihadapannya memegang pistol yang siap menembak dirinya.
"Kau pikir kau bisa pergi Jim?" Ujarnya dengan senyuman.
__ADS_1
Siapa pelaku sebenarnya?
Bersambung...