
Di rumah sakit tepatnya di ruangan bernuansa abu-abu terlihat sosok dengan jas putihnya uring-uringan entah karena apa.
Membuat suster yang datang ingin memberikan laporan dibuat kebingungan. "Dokter, ada apa? Apa dokter sakit?" Tanyanya membuat Richard menoleh.
"Iya, ada masalah besar. Dan aku harus segera pergi, berikan cepat!" Ujarnya meminta laporan yang dibawa suster itu.
"Ini dokter." Richard langsung menuliskan resep setelah membaca laporan dari segera memberikannya.
"Ini, berikan pada keluarga pasien. Minta tebus dan ikuti anjuran ku."
Suster itu menerima dan segera pergi dari sana. Richard yang merasa sudah selesai langsung tancap gas keluar namun, saat ia melangkah di lorong terlihat sosok kecil yang memanggil dirinya membuat ia terhenti.
"Dokter! Paman dokter!" Panggilnya membuat Richard menoleh.
Terlihat anak berusia 4 tahun itu berusaha melangkah dengan alat bantu ditemani oleh Mamanya yang terlihat khawatir. "Sayang hati-hati!" Peringatnya tapi tidak diindahkan.
"Paman dokter!" Richard tersebut melihat salah satu pasien kecil nya.
"Mawar manis, ada apa?" Tanya Richard dengan sapaannya.
Mendengar itu, terlihat senyuman terbit dan membuat gigi kecil itu terlihat. "Paman dokter, aku mau berikan ini. Maksudnya undangan."
"Pesta ulang tahun?" Beo Richard.
"Iya, aku mau berikan pada anak Paman dokter. Si kembar tapi tidak menemukan mereka." Ujar Rosa.
"Sebentar lagi ulang tahun Rosa, ia bilang ingin mengundang kedua putramu. Rosa sangat excited sekali." Ujar Alice menjelaskan maksud putrinya.
__ADS_1
"Tentu saja, double Z pasti senang dan akan datang." Richard menerima kartu undangan itu dari tangan mungil Rosa
"Double Z?" Ulang Alice.
"Iya, aku memanggilnya dengan itu. Ngomong-ngomong bagaimana dengan kakimu?"
Richard melirik kaki kanan Rosa. "Sudah lebih baik, sebentar lagi akan sembuh. Terima kasih banyak dokter." Ucap Alice dengan tulus sambil tersenyum.
"Itu berkat kemauan dan keinginan Rosa juga. Baiklah Paman terima dan sampai jumpa lagi."
"Terima kasih Paman, dadah!" Rosa melambaikan tangannya dan dibalas oleh Richard.
Langkah kembali Richard ambil dan bergegas menuju mobilnya yang berada di parkiran. "Aku harap semuanya berjalan dengan baik! Zee, aku datang!"
πππππ
Zoya tidak menutupi apapun, Rekha khawatir bukan main, bagaimana jika ayahnya tidak setuju. Padahal dirinya dan Richard akan menjelaskan nanti tapi ayahnya bertanya langsung tidak sabaran.
"Janda beranak dua rupanya. Aku suka kejujuran mu, dan aku sudah mendapatkan keputusan nya. Apapun nanti hasilnya aku yakin kau akan menerimanya dengan baik, terlihat dari dirimu."
Zoya akan menerima apapun keputusan itu, dia tidak menutupi apapun karena baginya dalam menjalani hubungan harus dilandasi oleh kejujuran.
Meskipun Richard menerima dirinya dan juga double Z apakah keluarga nya juga begitu, tentu saja tergantung. Dan cukup belajar dari masa lalunya, Zoya tidak ingin terulang kembali.
Sungguh dia tidak ingin hal itu, dia ingin pria dan keluarga pria itu menerima dirinya baik itu kelebihan dan kekurangannya. "Aku memutuskan kau...."
Semuanya hening menunggu jawaban yang keluar dari bibir pemilik wajah keriput itu, Rekha hanya berdoa semoga ayahnya menikah karena jika tidak bagaimana nasib Richard nanti.
__ADS_1
πππππ
Netra Alan membulat membaca pesan yang dikirimkan oleh Jim kepadanya. Tanpa menunggu lagi ia segera menghubungi pria itu.
Melihat panggilan dari Alan, Jim segera mengangkatnya dan tak lama terdengar suara yang mengandung banyak rasa. "Jelaskan!" Ujar Alan.
"Kau sudah membacanya, aku hanya ingin mengatakan ada seseorang yang datang menemui Zoya dan sepertinya ia mengatakan sesuatu yang besar. Aku sedang menggeledah kediaman kalian dan mungkin akan segera melaporkan nya. Apa kau mencurigai seseorang?"
"Aku tidak bisa berfikir dengan jelas."
"Alan, mungkin ada seseorang yang memang menginginkan Zoya pergi darimu dengan dalih anak. Dan...."
Jim yang berada di dapur melihat sesuatu dan itu mengalihkan perhatiannya. Ia segera menuju kesana dan terlihat sebuah bungkusan obat di tempat sampah yang mulai berbau.
"Jim? Ada apa?" Tanya Alan
"Aku hubungi lagi nanti, ada seseorang yang datang dari perusahaan." Bohong Jim yang ingin memastikan itu.
"Baiklah, aku tunggu!"
Panggilan terputus, Jim menggunakan sarung tangan dan mengambil bungkusan obat itu. " Aku harus segera memeriksa ini ke laboratorium."
Bersambung.....
Jangan lupa like π
Tinggalkan komentarπ
__ADS_1
Berikan hadiah π