
Sebelum membaca boleh berikan vote nya agar author makin semangat.😊😊😊😊😊
Baru saja pintu dibuka, Zoya sudah disambut dengan aksi double Z yang membuat Jili kewalahan. Bahkan sekarang wanita China itu terbaring d sofa dengan rambut amburadul. "Astaga, Jili!" Zoya segera mendekat dan mendengar suara Mommy nya double Z langsung menunduk.
"Syukurlah kau datang. Kedua putramu seperti ingin menyiksa ku! Lihat, rambut ku yang baru saja habis ke salon sekarang terlihat begitu kacau!" Jili menunjukkan rambutnya yang begitu kacau tidak terlihat seperti dirawat lagi, entah apa yang kedua putranya lakukan.
"Apa dan kenapa double Z lakukan?" Zoya menatap kedua putranya menunggu bibir kecil itu mengeluarkan kata.
"Karena salah bibi." Tunjuk keduanya ke arah Jili. "Memangnya bibi berbuat apa?" Tanya Zoya lagi.
"Bibi menyembunyikan sesuatu, dia tidak membiarkan kami melihatnya. Padahal itu ada dalam kamar kami, berbohong merupakan sikap yang buruk. Mommy yang mengatakan, jadi....
"Kami tanya dan bibi terus mengelak. Lalu, kami tidak sengaja membuat bibi jatuh hingga terkena tepung dan bahan dapur lainnya, kami minta maaf." Zain bicara karena melihat Zian yang terlihat takut keduanya memiliki perbedaan dalam sikap serta gaya bicara.
Jili yang mendapat tatapan berikutnya, mengambil napas sejenak sembari memberikan kode kepada Zoya. "Yang itu, laci dan isinya." Cukup penjelasan tak seberapa itu sudah membuat Zoya paham.
Ia melihat ke arah kedua putranya, dan bersimpuh lalu memeluk keduanya membuat double Z langsung membalas dan berucap lirih. "Maafkan kami Mommy, dan juga Bibi Jili. Kami tidak bermaksud begitu."
"Tidak apa, tapi lain kali bicara baik-baik dan jangan langsung mengajak Bibi berlari. Kasian bibi Jili nanti terbang karena terlalu elastis dan kencang." Jili yang mendengar ejekan tersirat itu hanya diam dengan tersenyum begitu juga dengan double Z yang mengangguk dan tak lama ikut tersenyum.
Zoya menepuk pundak dan membersihkan rambut keduanya karena terkena cukup banyak tepung. "Ayo, sekarang mandi dulu. Mommy akan bereskan....
"Tidak! Kami yang salah, jadi biar kami. Mommy duduk saja pasti lelah." Zoya tersenyum haru mendengarnya dan kembali memeluk tubuh kedua malaikat hidupnya.
"Baiklah, setelah berbuat kebaikan. Maka double Z akan mendapatkan hadiah." Dan langsung disambut sorak gembira keduanya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di sudut ruangan terlihat kertas sudah berhamburan serta vas bunga yang pecah. Ditambah dengan tatapan merah dari sosok pria yang sepasang tangannya bertumpu pada kursi kayu dan terlihat memerah karena begitu kuat. "Aku....
__ADS_1
"Aku apa? Hah!" Alan langsung berbalik dan menatap tajam Alice membuat wajah cantik itu mengeluarkan keringat dingin.
"Ibu macam apa kau! Bahkan kau tidak bisa melihat putrimu berlari ke jalan dan tertabrak! Hah! Di mana matamu!" Alice meremas tangannya dengan bibir yang terasa dikunci.
Bukan hal pertama Alan begitu marah, tapi sekarang kemarahannya berbeda membuat Alice harus berhati-hati berucap. "Aku baru saja membelikan air, aku memintanya menunggu sebelum tapi....
"Kau meninggalkan nya sendiri? Di tempat keramaian? Di mana otakmu!" Sungguh Alan rasanya ingin melayangkan tamparan agar wanita itu sadar.
"Maaf.... Aku juga tidak ingin ini terjadi. Aku sangat takut, jangan salahkan aku. Tidak ada seorang ibu yang ingin anaknya terluka." Akhirnya air mata Alice jatuh juga, dengan tubuh yang bergetar ia bersimpuh di lantai marmer yang dingin itu.
Alan memejamkan matanya berusaha menahan amarahnya memuncak lagi. Mendengar pemeriksaan dokter Rosa mengalami cidera pada kakinya lebih tepatnya patah tulang. Rosa yang melihat penjual es krim langsung berlari dan tidak melihat jalan, alhasil pembangunan yang tak jauh darinya terutama mobil besar tengah mengangkut kayu berukuran sedang
Dari arah belakang sebuah mobil langsung menyalip lalu karena kaget melihat seorang anak. Pengendara itu tidak tepat dalam menginjak rem. Alhasil Rosa tertabrak dan kondisinya mengalami patah tulang.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, setelah melakukan X-ray patah tulang yang dialami Rosa tidak begitu parah. Kami sudah memasangkan gips. Memang nanti akan ada keluhan, tidak nyaman dan sebagainya tapi itu tidak berlangsung lama hanya lima minggu dan saya rasa orang tuanya ada disini pasti Rosa bisa melewatinya karena ada dukungan yang ia butuhkan." Alice mengangguk kecil dan hatinya merasa lega setelah mendengarnya.
"Richard." Jawabnya, tak lama ia pamit pergi meninggalkan Alice yang menunggu Alan meredamkan emosinya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suara TV terdengar dengan siaran yang tengah berlangsung. Double Z asyik memakan kue yang dibawa Zoya. "Mommy, kenapa Paman Richard tidak datang?"
"Paman Richard sedang bertugas, ada anak yang harus ia obati." Zian mengambil satu potongan lagi dari meja. "Apa lama?"
"Tidak, mungkin. Mommy tidak tau pasti, kenapa?"
"Kami rindu. Biasanya Paman Richard akan duduk sambil menonton bersama." Zoya mengeluarkan ponselnya dan segera mendekati kedua putranya.
"Kita hubungi, Mommy rasa setidaknya ada waktu." Double Z segera mengangguk dan tangan Zain bergerak dengan cepat menekan panggilan dan tak lama panggilan terguncang memperlihatkan wajah Richard yang tengah bersandar di kursinya. "Paman!"
__ADS_1
"Oh, double Z Paman. Paman sangat merindukan kalian." Richard segera bangun dan duduk dengan baik tak lupa merapikan rambutnya menyadari Zoya berada di sana.
"Kami juga, kapan Paman akan kemari?" Richard tampak berpikir dan melihat jadwalnya. "Sepertinya tidak bisa, ada jadwal operasi....
Belum selesai Richard berujar terlihat wajah yang tadi gembira perlahan murung. "Tapi, kita bisa menghabiskan waktu bersama di rumah sakit sebentar, contohnya di taman atau kafe di sini?" Tawaran Richard membuat senyum keduanya kembali terbit dan segera menghujam Zoya dengan pertanyaan dan tidak sabaran.
"Maaf, aku matikan. Dan tunggu disana Dokter." Ingin sekali Richard tertawan melihat ekspresi Zoya yang kelimpungan saat ini karena ucapannya.
"Aku tidak sabar, dan nanti kau serta Double Z akan menghiasi lantai rumah sakit dan setiap sudutnya dengan kedatangan dan tawa kalian." Richard menatap pigura mereka berempat sambil tersenyum senang.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Aku akan mengambil beberapa barang Rosa di penginapan." Ujar Alice yang melihat Alan duduk mengelus tangan putrinya yang tertidur. "Hmmm, pergilah."
"Ayo Mommy kita segera ke rumah sakit! Nanti waktu istirahatnya habis!" Zoya segera tancap gas menggunakan mobilnya menuju rumah sakit tempat Richard berkerja.
"Rumah sakit health Family." Jawab Alan di tempat duduk kayu yang diatapi pohon rindang. Saat ini ia tengah menelpon bersama Jim. Matanya melihatnya sekeliling dan tiba-tiba ia terdiam dengan tatapan tajam ke koridor. "Alan kau dengar aku?" Tanya Jim di sebrang telfon.
"Zoya!" Tidak peduli dengan panggilan itu, Alan langsung mengambil langkah seribu dan memastikan itu adalah Zoya nya. Ia tidak pernah salah mengenali sosok yang menjadi penunggu dihatinya.
"Sepertinya ini ruangannya." Zoya segera membuka pintu tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tubuhnya dan dengan cepat ia berada dalam dekapan seseorang.
"Siapa kau! Lepaskan aku! Tolong!" Zoya berontak dari sosok itu.
"Kau tidak mengenali ku? Sayang?" Sungguh tubuh Zoya membeku dan jantungnya maraton saat ini.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1