Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Tindakan


__ADS_3

Perlahan kelopak mata kecil itu terbuka, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu "Mommy..." Panggil nya dengan lirih.


Tidak ada sahutan, ia mencoba bangkit tapi tangannya terasa sakit. "Mommy! Mommy! Mommy!" Teriakkan yang berulang kali itu membuahkan hasil terlihat pintu terbuka menampilkan sosok pria dengan rasa khawatir.


"Sayang, kau sudah bangun. Katakan pada Daddy mana yang sakit?" Alan merasa lega melihat putranya sudah sadar.


"Daddy, tangan Zian sakit. Mommy mana? Zain dimana? Bibi Jili?" Pertanyaan beruntun itu membuat lidah Alan kelu.


"Zian jangan terlalu bergerak. Tangannya masih sakit." Terlihat Richard masuk dengan membawa obat.


"Papa, mana Mommy dan Zain? Aku bermimpi orang jahat membawa mereka. Zian sangat takut...."


Terlihat ketakutan dan kebingungan melanda Zian, melihat itu.... Alan memeluk putranya.


"Tenang Daddy disini...." Sejenak Zian merasa tenang dengan pelukan Daddy nya tapi tidak bertahan lama.


"Katakan dimana Mommy? Mommy! Mommy! Aaaaa... Orang jahat itu membawa Mommy dan Zain! Mommy!" Sepertinya ingatan Zian sudah pulih membuat ia langsung histeris memanggil Zoya.


"Zian tenang, Mommy dan Zain akan ditemukan. Jangan khawatir, sayang jangan bergerak. Astaga!" Alan panik melihat luka putranya kembali mengeluarkan darah.


"Zian.. lihat dan dengar Papa. Zian!" Richard menatap bola mata coklat yang sudah berbinar-binar karena air mata itu.


"Mommy dan Zain sedang bermain petak umpet. Kita akan menemukannya, Zian ingat Mommy bilang... Selama jantung Zian berdetak maka...."


"Mommy dan Zain akan baik-baik saja. Jika satunya merasa sakit yang lain juga begitu. Dimana pun kami berada maka..."


"Mommy akan menemukan kita. Dan sekarang Zian yang akan menemukan Mommy dan Zain. "


"Ingat... Ketika Nemo masuk ke saluran air dan hampir tersedot. Apa yang ia lakukan?"


"Ia berhenti berteriak dan bersikap tenang. Perlahan ia bergerak dengan tenang melawan arusnya dan berhasil keluar."


"Benar, jadi kita juga begitu. Hmmm?" Alan melihat putranya kembali tenang dan Richard tengah mengobati kembali luka putranya.


"Daddy...."Alan mendekat dan merasakan tangan kiri putranya menyentuh wajahnya.


"Kita akan menemukan nya kan?" Tanya Zian dengan penuh harap.


"Iya, kita akan menemukan nya. Jangan khawatir, ada... Papa Richard juga kan?"


"Iya."


Beberapa saat kemudian, Zian kembali tertidur, kondisinya yang belum pulih membuat ia kembali beristirahat.


Di sudut ruangan, terlihat kedua pria itu saling berpikir untuk langkah selanjutnya. "Apa yang kau rencanakan?" Kening Richard mengerut mendekat pertanyaan Alan.


"Kau sendiri bagaimana?" Bukannya menjawab ia justru melempar pertanyaan.


"Tidak bisakah kau menjawab?"

__ADS_1


"Akan ku jawab, tapi sebelum itu.... Pergilah ke rumah mu dan lihat orang-orang di sana."


"Apa maksudnya?"


"Ibumu pelakunya.....


Buuugh! Buggh! Buggh!


Alan langsung memukul karena merasa tak terima akan ucapan Richard. "Apa maksud mu! Kau menuduh ibuku?"


Richard yang mendapat bogem mentah langsung bangkit dan balik mencengkram kuat kerah Alan. "Apa pikiran mu belum terbuka? Aku yakin kau sudah dengar dari bawahan mu. Ibumu yang menjadi dalang keguguran Zoya!"


"Kau pikir aku percaya? Ibuku tidak seperti itu!"


"Kalau begitu, kenapa kau tidak lihat rekaman ini! Ban*sat!" Richard mendorong Alan hingga terjatuh dan mengeluarkan sebuah flashdisk di hadapannya.


Alan masih terpaku dengan napas memburu. "Aku sudah bergerak mencari keberadaan mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka terluka sedikitpun. Kau tau kenapa Zee tidak menceritakan alasan kepergiannya? Karena ia tau reaksi mu! Kau dikendalikan olehnya!"


Setengah mengatakan itu Richard segera berlalu meninggalkan Alan yang masih terpaku. Hingga langkah kaki datang menghampiri Alan. "Tuan..."


"Putar ini... Sekarang!" Jim mengangguk dan segera membantu Alan berdiri.


"Anda berdarah?..."


"Cepat lakukan!" Pikirannya kacau sekarang, ia yakin ibunya bukan sosok seperti itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Jejak mereka berakhir disini. Pemukiman yang sudah lama ditinggalkan dekat sungai. Sesuai perintah mu, Papa sudah meminta mereka bergerak."


Pria bermanik persis sepertinya itu terlihat duduk dengan sebuah iPad ditangannya. Pria berusia 59 tahun itu adalah Manesh, Papa Richard seorang perwira tinggi angkatan darat.


"Terima kasih Papa." Richard mengubungi Papanya meminta bantuan mencari keberadaan Zoya dan Zain."


"Ngomong-ngomong kau sudah mengatakan pada pria itu mengenai ibunya. Kau yakin ia tidak akan bertindak gegabah? Atau menyulitkan kita?"


"Tidak, aku yakin. Meskipun ia tidak tegas tapi menyangkut double Z, matanya akan terbuka akan itu."


"Dan calon istrimu yang merupakan masa lalunya."


"Ya, aku tau itu. Sungguh, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka."


"Jangan khawatir, besok kita akan mendapatkan berita baik. Papa yakin wanita itu akan kesana. Tugasmu, bekerja sama dengan pria itu."


"Hmmm, aku berikan ia waktu untuk menikmati kejutan yang akan membuat ia serangan jantung."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Baru saja Alice memasak, terlihat Erna turun dengan pakaian yang bukan gayanya. "Ibu mau kemana?" Tanya Alice.

__ADS_1


"Ibu mau pergi."


"Ibu, kita akan kerumah sakit. Alan baru saja mengubungi ku, ia disana dalam perawatan. Aku dan Rosa sedang bersiap-siap." Mendengar penuturan menantu nya, Erna tidak melanjutkan langkahnya.


"Kenapa kau tidak bilang? Bagaimana dan apa yang terjadi pada Alan?" Panik, cemas tentu saja. Erna khawatir akan putranya yang menghilang semalaman.


"Karena itu aku akan kesana."


"Ibu ikut!" Alice hanya mengangguk mendengar jawaban ibu mertuanya.


"Aku akan memanggil Rosa." Setelah mendengar langkah kaki Alice menjauh, Erna menghubungi seseorang.


"Aku akan datang besok, urus mereka terlebih dahulu. Terserah kalian apakan."


"Tapi madam, anak ini tidak mau berhenti menangis."


"Lakukan sesuatu! Aku bayar kalian untuk itu!" Tanpa menunggu jawaban, ia segera mematikan nya dan mengumpat.


"Dasar! Itu saja tidak becus!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di rumah berbahan kayu dan mulai dihinggapi rumput liar terlihat sosok yang tengah duduk sambil mengeluarkan asap dari hidung nya. "Gimana bos?"


"Pukul saja dia! Atau berikan obat tidur." Perintahnya.


"Bagaimana dengan ibunya?"


"Wanita itu ya, hmmmm." Tampak ia sedang berpikir sejenak tak lama sebuah senyuman tersinggung di wajahnya.


"Pindahkan dia keruangan ku. Aku punya rencana untuknya."


Bersambung....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiah 🌹🌹🌹


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author, ceritanya seru loh !!!!



pilih bacaan yang sesuai umur.


Alesia Dallas seorang gadis yang tinggal bersama dengan adik dan ibunya, ayahnya pergi meninggalkan mereka demi wanita lain.


Alesia sebagai anak tertua bertekad akan mengubah kehidupan keluarganya, ia terlahir dari keluarga kalangan biasa namun hidupnya tetap bahagia meski kesusahan.

__ADS_1


di usianya yang sangat muda ia di terima di salah satu perusahaan ternama, saat bekerja di sana Alesia selalu menjauh dari masalah apapun. namun tidak menyangka ia malah terjebak dalam obsesi dan cinta dari direktur tempat ia bekerja. bagaimana kisah mereka? akankah Alesia dapat terlepas dari obsesi dan cinta atasannya atau justru sebaliknya Alesia malah mencintai atasannya? yang penasaran yuk langsung simak aja.


__ADS_2