Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Penjelasan


__ADS_3

Tubuh keduanya memiliki keinginan masing-masing, ditambah dengan permintaan hati dan penolakan akal dari mereka membuat keduanya saling terdiam sejenak.


Jam terus berdetak sedangkan keduanya masih belum bicara, nenek Ning yang merasa mereka butuh waktu segera pergi dari sana menuju kamar double Z. "Kenapa?" Hanya itu yang keluar dari bibir Alan. Ia ingin tau apa yang membuat Zoya menyembunyikan hal sebesar ini darinya.


"Kenapa Zoya? Berikan aku jawaban, kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku? Kenapa?" Zoya mengigit bibirnya dan jantungnya semakin berpacu kencang.


"Apa yang mas inginkan sekarang?" Zoya tidak ingin berbasa-basi atau ingin mengulik kejadian yang Zoya yakini Alan masih tidak tau apapun.


"Kalian!" Jawab Alan cepat


"Aku tidak akan melarang mas, double Z berhak dan mas juga begitu. Dan jangan pisahkan aku dari mereka atau berpikir begitu."Entah mengapa Zoya merasa sensitif dan berpikiran buruk bahwa Alan akan mengambil double Z darinya.


"Tentu saja tidak. Mas akan membawa mu juga, kita bersama seperti impian kita dulu."


"Aku tidak mau!" Zoya menolak dengan tegas.


"Tidak? Zoya apa yang kau katakan sayang?" Zoya menjauh sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin merebut kebahagiaan wanita lain dan juga anaknya."


"Lalu bagaimana dengan kebahagiaan kita? Atau kau bahagia dengan kehidupan mu tanpa mas?" Alan menatap wajah Zoya dan mencari bola mata yang pernah menatap dirinya.

__ADS_1


"Aku bahagia, aku memiliki double Z. Mereka kebahagiaan ku, dan bukankah mas juga memilikinya? Kita sama-sama memiliki....


"Aku tidak mencintai nya!" Alan sedikit mencengkram bahu Zoya sambil menatap mata Zoya yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak cinta, lalu bagaimana anak itu bisa lahir? Katakan padaku." Mengumpulkan keberanian, Zoya menatap mata Alan yang memerah.


"Dia....


"Aku masih ingat dengan jelas, mas pernah mengatakan dimana pun aku berada, kemanapun aku pergi dan meskipun rintangan berat menghantam kita. Mas akan menemukan dan tetap menggenggam tangan ku."


"Sayangnya, itu tidak berlaku. Keguguran yang ku alami membuat mas menerima permintaan ibu. Kenapa tidak datang seperti yang mas katakan di pesan? Aku sudah bilang aku menunggu semalaman. Nyatanya bukan mas yang datang tapi surat perceraian kita. Tadinya aku tidak percaya tapi, semuanya menjadi jelas di surat itu. Kalau itu tidak benar dan aku yang salah paham sekarang jelaskanlah Mas. Aku akan mendengarkan nya!" Zoya memberikan kesempatan untuk Alan menjelaskan apa yang terjadi empat tahun lalu.


"Zoya....


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Iya, aku akan ke sana tapi Zee belum pulang dari restoran dan pesanku juga belum dibalas oleh nya bahkan dibaca sepertinya ia sangat sibuk di restoran." Ujar Richard.


"Kenapa tidak menyusul saja? Lagian kau tidak punya pekerjaan sementara ini." Gigi putih Richard langsung keluar menyapa mendengar usulan kakak iparnya.


"Ide yang bagus! Aku akan ke sana! Dah semua. Mama aku sayang padamu!" Setelah mendaratkan ciuman manis di pipi mamanya. Richard segera pergi menancap gas mobilnya menuju sang pujaan hati.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Hatiku sedikitpun tidak berpaling darimu Zoya. Meskipun sudah empat tahun, wanita itu memang bersama ku tapi, tidak ada tempat untuknya." Zoya masih diam mendengarkan penjelasan Alan.


Sejenak Alan mengambil napas dengan air mata yang terus mengalir dengan rasa sesak di dadanya. "Sungguh saat itu dada mas sangat sesak, mas kehilangan mu seperti tidak tau arah. Dan untuk tanda tangan itu. Maaf!"


"Karena ibu? Atau yang lainnya? Baiklah... tidak perlu katakan." Zoya tau Alan memiliki rasa bakti yang tinggi pada ibunya membuat ia tidak bisa menolak ditambah dengan alasan yang kuat keguguran Zoya dan drama kecil mertuanya membuat Alan luluh juga.


"Tapi jangan khawatir, jika ibu tau mengenai double Z maka kita akan....


"Bukan kita lagi Mas, bukan. Kita sudah selesai empat tahun itu....


"Perkataan mu seolah tidak mencintaiku lagi Zoya? Tidak mencintai mas lagi? Begitu mudahnya kau mengatakan kita berakhir, tidak ada yang berakhir kita bisa memulai nya lagi. Ada double Z, itu adalah alasan kuat kita bukan?" Ditatap begitu membuat Zoya merasa kacau, hatinya masih tersimpan Alan di sana tapi, mengingat apa yang terjadi tidak semudah itu.


"Tidak! Rasa itu tidak ada lagi!" Alan tidak percaya dengan ucapan Zoya. Sesaat ia tertawa berfikir Zoya tengah bercanda.


"Jangan bercanda, mas tau. Jujur saja, kita akan menemui ibu dan semuanya akan baik-baik saja."


"Tidak! Tidak ada lagi!" Zoya bicara menaikkan nada bicaranya berharap Alan mengerti, ia langsung menurunkan pandangannya dan melepaskan diri dari cengkeraman Alan yang telah mengendur.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak


__ADS_2