Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Reuni Besar


__ADS_3

Acara ulang tahun itu berjalan dengan lancar bahkan Rosa menuju sepasang anak kembar. "Terima kasih sudah datang." Ujar Rosa dengan senyuman, dirinya sekarang berbalut dress Elsa yang membuat dirinya cantik dan manis.


"Hmm, selamat ulang tahun."


"Kenapa kalian menggunakan masker?" Ya, Rosa merasa kebingungan ketika melihat double Z menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kami sedang pilek." Jawab Zian diangguki Zain.


"Aku berharap semoga lekas sembuh. Ayo, makan hidangannya, kalian pasti suka." Tawar Rosa.


"Apa itu Papa mu?" Tanya Zian sambil menunjuk ke arah sekumpulan orang-orang.


"Ya, tampan kan? Dan itu Mama ku." Jelas Rosa dengan gembira.


"Apa kau memiliki saudara?" Tanyanya lagi membuat Rosa menggeleng cepat.


"Tidak, dan aku tidak mau! Nanti Papa jadi sayang pada adik bukan padaku! Tidak boleh ada yang mengambil Papa ku." Rosa bicara dengan kesal karenanya.


"Bukankah kau bilang kalau seperti kami terlihat menyenangkan?"


"Benar, tapi aku teringat kalau memiliki adik itu tidak menyenangkan. Semuanya nanti jadi miliknya! Kalau kalian kan sama besar. Jadi sepertinya tidak masalah. Oh ya, ngomong-ngomong dimana Mommy kalian?"


"Ada, bersama Papa kami."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Tatapan Erna langsung tertuju pada Zoya wanita yang tak akan pernah membuat dirinya tenang. Bahkan Alice juga turut memandangi Zoya yang merupakan wanita dihati pria yang ia cintai.


"Wah, lihat. Siapa tamu tak diundang ini?" Ejek Erna.


"Mantan kakak ipar ku ibu." Jawab Alta. Gadis berusia 20 tahun itu sejak dulu tidak menyukai dirinya.


Setelah acara potong kue, Zoya segera menyingkir dan membuat Erna belum menyadari dirinya. Sayangnya ketika Alice mengenali Richard semuanya jadi begini.


Bahkan Alan pun menjadi tak karuan karena melihat kedatangan Zoya dengan sosok pria itu kemari.


"Aku datang karena diundang oleh menantu mu Nyonya, apa dia tidak memberitahu mu?" Erna memandangi Alice meminta penjelasan.


"Aku mengundang dokter yang merawat Rosa Bu, dan juga anak kembarnya tapi aku tidak tau dengan...."


"Aku datang dengannya nyonya Alice dan terimakasih atas undangan nya, aku harap putrimu menyukai hadiahnya." Zoya memberikan hadiah yang ia bawa, tapi tidak ada yang mau mengambil hingga.....


"Kau sudah berikan Zee." Wanita bermulut cabe itu langsung menoleh pada pria tampan berperawakan Eropa.


"Aku baru saja mau berikan." Ujar Zoya, Alice dengan cepat menerima hadiah itu sambil tersenyum canggung.


"Anda Dokter yang merawat cucuku?" Tanya Erna.


"Ya, aku datang bersama anak kembar dan juga calon istriku." Mata semuanya membulat mendengar itu.

__ADS_1


"Calon istri?" Beo mereka.


"Ya, kenapa?" Tanya Richard yang merasa aneh dengan tatapan semuanya.


"Ah, bukan apa-apa tapi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan alangkah baiknya mencari tau asal usul dan kesehatan calon kita. Takut nya membawa pengaruh yang buruk atau kesialan."


Richard menangkap sesuatu disini, sepertinya dugaannya benar setelah melihat mantan suami Zoya ia yakin ini adalah keluarganya. "Terima kasih atas sarannya tapi aku sangat tau mengerjapkan itu. Ayo, kita cari double Z, kami permisi." Erna berserta yang lainnya hanya melihat kepergian tanpa berbuat apa-apa.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Ibu, pelet apa yang digunakan oleh nya? Apa dia sengaja? Dan mana kak Alan?"


"Alice dimana suami mu? Cepat cari dia!" Ujar Erna yang takut putranya itu berbuat sesuatu.


"Iya Bu." Seketika Alice jadi ikut cemas karena tidak mau ketakutannya menjadi kenyataan.


Richard tidak bertanya tapi ia dapat melihat sesuatu yang disembunyikan oleh Zoya. "Aku akan mencari double Z, kau tunggu disini. Minumlah, tenangkan dirimu."


Zoya mengangguk setuju dan duduk di salah satu kursi. "Astaga, aku tidak menyangka semua ini. Berikan aku kekuatan berada di sini."


"Zoya!" Baru saja seteguk air Zoya minum sekarang masalah berikutnya datang, Alan menarik tangannya membuat ia kelimpungan.


"Lepaskan! Apakah maksud ini?" Tanya Zoya.


"Apa maksudnya? Harusnya mas yang tanya apa maksudnya kau datang kesini? Dengan pria itu? Dan juga double Z! Apa kau yang kau pikirkan?"


"Zoya apa kau tau, bagaimana reaksi double Z?"


"Lalu aku harus apa? Sepertinya mereka memang harus tau bahwa mereka memiliki saudari."


"Bukankah ini yang kita bahas?"


"Benar, dan ini akhirnya. Bahkan aku mendapatkan sambutan manis dari ibu mas dan yang lainnya terutama istri mas. Aku pikir Siska ternyata bukan."


"Mas sudah tau, mereka senang kan? Kalau begitu temui ayah dan yang lainnya. Mas ingin kita kembali."


Apa katanya, kembali? Zoya ingin tertawa rasanya. Sungguh pria yang pernah menjadi bagian hidupnya itu memiliki sikap seenaknya tanpa berpikir. "Baik, apa dengan mertua juga? Pasti orang tua Alice juga disini kan? Kita bisa menikah sekarang! Apa mas sanggup?"


Alan terdiam mendengar tantangan Zoya. Bagaimana ia akan melakukannya "Kenapa? Bingung? Tidak tau?"


"Mas, kita memiliki jalan sendiri-sendiri. Kita hanya masa lalu, kita terikat hanya karena double Z, aku akan segera menikah. Mas memiliki istri yang cantik dan juga Rosa yang manis, bahkan juga double Z, apakah masih kurang?"


"Zoya....."


"Jangan bicara tentang cinta. Tolong, jika mas memang mencintai ku, ini tidak akan terjadi. Tidak akan! Tolong jangan persulit diriku, apa aku harus memohon?" Zoya mulai mengatupkan kedua tangannya.


"Zoya, apa yang kau lakukan? Jangan begini..."


"Lalu bagaimana? Apa aku tidak berhak bahagia? Richard pemuda yang baik, bahkan juga keluarga nya, aku....

__ADS_1


"Itu sekarang, bagaimana nanti saat dia memiliki anaknya sendiri? Apa akan tetap sama?"


"Aku memiliki pertimbangan sendiri, jangan ragukan itu, bahkan aku bisa membesarkan kedua putraku."


"Zoya apa tidak ada sedikitpun rasa? Enam tahun kita bersama, apa semuanya hilang? Atau ini hanya caramu membalas masa lalu?" Mata Alan terlihat berair dan setetes air mata jatuh di pipinya.


Zoya bisa melihat ada cinta untuknya, cinta yang sama saat mereka bersama sayangnya Alan tidak bisa bersikap tegas seperti yang ia butuhkan. "A....


"Papa!" Keduanya kaget saat terlihat Rosa diikuti oleh double Z dan juga Richard ditambah Alice di sana.


"Zee, aku mencarimu." Ujar Richard.


"Honey, kenapa kau disini?" Tanya Alice.


"Aku bertanya dimana toilet tapi ia tengah mencari anaknya jadi ada miss komunikasi." Jelas Zoya.


"Wah Mommy kalian cantik. Hai bibi, aku Rosa teman double Z." Zoya tersenyum dan menatap wajah mungil itu mata yang sama seperti Alan yang diwarisi kedua putranya.


"Hai Rosa, selamat ulang tahun dan kau juga sangat cantik. Bibi sudah memberikan hadiah kepada Mama mu."


Rosa langsung menatap Alice "Iyaa sayang, hadiahnya sudah dengan Mama."


"Papa, sudah berkenalan dengan double Z anak Paman dokter." Alan menatap kedua putranya yang memakai masker dengan mata yang tidak senang seperti biasanya.


"Ini Papaku!" Rosa mendekap Alan , Alice merasa penasaran dengan kedua anak itu apalagi dengan tatapan mata suaminya.


"Selamat malam." Alan terasa tercabut dihatinya melihat ada kekecewaan di sana.


"Ngomong-ngomong nyonya Alice, kami harus segera pulang." Richard yang melihat situasi tidak baik langsing meminta pamit.


"Ya, terimakasih atas kehadirannya dan kedua putramu....


"Mereka pilek Mama." Jawab Rosa.


"Selamat malam." Tanpa memandang atau tersenyum Alan melihat kepergian putranya dibawa oleh pria asing.


Erna yang tidak tinggal diam sejak tadi mencuri pandang, hingga terlihat kepergian Zoya. "Apa yang kau lihat Erna?" Tanya Indra membuat ia gelagapan menyembunyikan kedatangan Zoya.


"Tidak ada, aku mencari Rosa. Aku kesana dulu!" Erna segera pergi dan Indra tak ambil pusing dengan tingkah istrinya, ia baru saja selesai menelpon dengan Jim.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Mommy maskernya aku lepas."


"Aku juga sangat gerah!" Zoya hanya diam melihat kedua putranya menuju tong sampah di halaman, Erna yang penasaran dengan sosok pria dan anak kembar yang menerima mantan menantunya itu langsung tak berkata apa-apa, matanya membesar dengan penerangan yang jelas ia dapat melihat rupa keduanya.


"Tidak mungkin!"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2