
Sepanjang perjalanan udara, Rosa begitu antusias melihat awan yang dilewati kapal besinya. Sedangkan Alice berada di belakang Alan dan putrinya membiarkan Rosa bersama Papanya seusai keinginan putrinya. "Papa, aku tidak sabar rasanya." Alan merasa hangat melihat senyum di wajah putrinya.
"Iya, sebentar lagi kita akan sampai."
"Setelah sampai, kita istirahat dulu sayang, supaya memiliki energi untuk menjelajah nanti." Rosa menatap wajah Papanya setelah mendengar ucapan Mamanya.
"Itu benar, kalau tidak nanti kelelahan dan akhirnya....
"Tertidur! Dan aku tidak mau itu terjadi." Rosa memainkan kancing baju Papanya itu dan itu membuat Alan teringat akan Zoya.
Flashback.....
"Kenapa suka sekali? Nanti bisa copot sayang." Alan berujar sambil memerhatikan Zoya bermain dengan kancing bajunya.
"Tidak akan, aku tidak menariknya, hanya memutar saja. Kalau copot biar aku jahit lagi." Alan merasa kalah, dan membiarkan istrinya itu bermain karena saat ini mereka berdua tengah bersantai di kamar menikmati hujan yang tengah turun membasahi tanah.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Bandara ini terletak di daerah Changi di bagian ujung timur pulau Singapura dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia.
Bandara ini terdiri atas empat terminal dan Jewel Changi, pusat gaya hidup sepuluh lantai yang secara apik menghubungkan Terminal 1, 2, dan 3, serta menggabungkan keindahan seni, arsitektur, dan alam dalam ruang yang sama.
Rosa tak henti hentinya menatap kagum dengan apa yang ia lihat di bandara Changi ini. Sambil menggenggam tangan Papanya, ia terus berceloteh berbagai hal. "Wow, Papa lihat! Air terjun!" Pekik Rosa sembari mendekat ke sana.
Air terjun HSBC Rain Vortex dengan ketinggian air terjun 40 meter. Air terjun ini berada di tengah-tengah Jewel dan dikelilingi oleh taman dan hutan buatan. Terlihat sangat cantik. Air terjun ini mengalir dari puncak kubah kaca dan jatuh dengan indah ke dasar basement. Pantulan cahaya dari kaca menambah eksotisnya dan dramatisnya air terjun indoor ini.
__ADS_1
Juga tatkala gelap alias malam hari, aliran air HSBC Rain Vortex akan berubah menjadi pertunjukan virtual cantik dengan beragam pola dan warna. Pertunjukan cahaya ini juga didukung oleh musik yang menambah kemewahan air terjun ini.
"Bagus bukan, Rosa suka?" Tanya Alan.
"Sangat!" Jawab Rosa semangat.
"Ayo, sekarang kita ke penginapan. Nanti malam kita akan menjelajah jadi harus hemat dan isi energi." Alice mengajak putrinya sebelum si lincah itu berjalan ke zona bermain dan akan lupa waktu.
Mobil yang membawa mereka menuju penginapan yang sudah disiapkan, sebuah penginapan yang terletak di pusat kota dan tentu mempermudah mereka nantinya. Tidak mahal, bukan karena tidak mampu tapi Alan memiliki alasan tersendiri dan tidak dibantah oleh Alice atau Rosa.
"Sekarang Rosa tidur dulu, agar energinya terisi full." Rosa yang mungkin juga mengantuk langsung berbaring karena berangkat subuh membuat matanya menutup cepat.
"Kau ingin sesuatu?" Tanya Alice yang melihat Alan memandangi jendela penginapan.
"Tidak." Singkat itulah jawaban Alan, ia berdiri dengan jantungnya berdetak kencang setelah sampai di sini.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Wastafel yang baru saja dinyalakan langsung terhenti karena kedatangan Zian dengan tergesa-gesa. "Zian, sudah Mommy bilang jangan berlari." Entah berapa kali Zoya mengatakannya tapi sepertinya putranya itu terkadang melanggar.
"Maaf Mommy, tapi ada hal darurat!" Jawab Zian dengan ekspresi yang begitu menyakinkan.
"Darurat? Apa?" Tanya Zoya cepat.
"Sini Mommy!" Zian segera menarik tangan Mommy nya menuju ruang tamu yang tidak begitu besar dan terlihat Zain terbaring di lantai membuat Zoya berfikir yang bukan-bukan.
"Zian!" Zoya segera berlutut menuju putranya dan memeriksa keadaan putranya itu.
__ADS_1
"Mommy..... Ujar Zian lirih.
"Apa yang terjadi sayang? Ada yang sakit? Ayo katakan pada Mommy." Tangan Zoya seger memeriksa tubuh putranya tapi ia tidak merasakan hal aneh.
"Mommy, jantung Zian berdetak kencang sekali, seperti mau meledak . Seolah Zian berlari kencang dan jauh." Tangan Zian mengambil tangan kanan Zoya dan meletakkannya di dada kecilnya. Zoya menajamkan pendengarannya dan ia dapat merasakan dan mendengarnya.
"Zain juga Mommy." Sekarang tangan kiri Zoya yang mendarat di sana dan ia terdiam merasakan nya.
"Apa akan terjadi sesuatu?" Tanya keduanya, tapi Zoya masih diam berfikir. "Karena tadi Zian bermimpi." Zoya jadi penasaran dan segera bertanya.
"Oh ya? Mimpi apa?" Ada sosok pria dengan tinggi tak jauh dari Paman Richard bermata coklat dan merentangkan tangannya ke arah ku."
"Aku juga Mommy!"
"Benarkah? Siapa? Apa wajahnya terlihat?" Zoya tidak menyela ucapan kedua putranya. Mimpi sangatlah beragam apalagi pada anak-anak terkadang itu berasal dari imajinasi mereka.
"Tidak terlihat, karena gelap. Saat kami mendekat....
"Lalu?"
"Mommy datang, jadi tidak jadi!" Zoya hanya menggeleng mendengarnya, sekarang ia yang justru disalahkan oleh putranya padahal ia sudah ketakutan setengah mati.
"Kenapa jadi Mommy yang salah? Zian yang datang dan membawa Mommy ke sini."
"Hehehe, tapi aku ingin mengatakan kalau Zain mengigau dalam mimpinya. Tidak seperti aku, ia berkata Daddy! Daddy! Daddy!" Kata terakhir membuat senyum di wajah Zoya menghilang perlahan disertai jantungnya ikut berdetak kencang.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.