
Mata Erna menelisik putranya yang baru saja pulang. Alan yang melihat kedatangan ibunya yang mendadak bertanya-tanya perihal kedatangan ibunya.
Sejenak ia duduk sembari menikmati minuman yang disajikan Alice di mejanya. "Kapan ibu datang?" Tanya Alan.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Jawab Erna.
"Bukan begitu Bu. Aku hanya ingin tau, kalau ibu bicara aku aku menjemput."
"Tidak perlu, ibu bisa sendiri. Terlalu lama kabar dan kedatangan kalian untuk kembali ke Indonesia. Apa kau sudah melupakan ibu mu ini?" Alan menghela napasnya mendengar sindiran ibunya.
"Kenapa ibu bicara begitu? Bukankah Alice sudah bilang, keadaan Rosa belum memungkinkan. Ibu sudah melihatnya bukan?"
Rosa yang menjadi bahan pembicaraan langsung muncul membuat suasana menjadi kurang baik tadi berubah. Erna meminta cucunya itu mendekat.
"Ayo sayang, sini sama nenek." Ajak Erna membuat Rosa yang duduk di kursi rodanya segera melajukan kursi rodanya dengan cepat.
"Papa sudah kembali." Ujar Rosa yang baru menyadari kedatangan Alan.
"Iya, baru saja. Apa itu sayang?" Alan melirik apa ya berada dipangkuan putrinya.
"Hadiah dari nenek. Nenek bilang agar Rosa segera sembuh dan kita kembali kerumah." Ujar Rosa dengan senang sambil memperlihatkan barang pemberian dari neneknya.
"Kau dari mana?" Tanya Erna.
"Dari pertemuan dengan klien ibu." Jawab Alan santai.
"Begitu ya? Lalu dimana surat atau berkas kerja samanya?" Alan berusaha tenang agar tidak ada yang curiga.
"Ibu ini, sekarang bisa lewat media sosial saja Bu atau dokumen online. Bukankah lebih praktis? Lagipula itu akan memudahkan memperbaiki isinya nanti." Penjelasan Alan tidak salah, dan Erna menerimanya membuat Alan merasa lega.
"Ibu sendiri saja?"
"Memang dengan siapa lagi? Ayahmu sibuk dengan perusahaan, adik-adik mu tidak bisa ikut apalagi dengan Aron."
Disela pembicaraan Alice datang dengan membawa kue atau cemilan. "Silahkan ibu." Erna tersenyum menanggapi Alice.
"Kau duduklah juga. Aku sangat bersyukur memiliki mu sebagai menantu ku, tidak seperti...." Alan melirik ibunya mengetahui sosok yang dimaksud.
"Aku ke kamar dulu." Alan langsung pergi, niatannya untuk mengatakan tentang double Z diundur.
Dengan segera Alan melepaskan kemeja yang tengah menutupi tubuhnya dengan wajah memerah. Ia tidak mengerti apa dan kenapa ibunya mendadak begitu tidak suka pada Zoya. Bukankah ibunya setuju dan menerima hubungan mereka selama 6 tahun.
"Kenapa ibu bicara begitu? Aku....
__ADS_1
Mendadak pintu terbuka membuat tubuh Alan yang setengah terbuka terlihat oleh Alice. "Ada apa? Kau tidak bisa mengetuk?" Cerca Alan sembari menutupi bagian atasnya.
Alice masih belum menjawab, tatapannya masih terpaku melihat tubuh Alan yang sangat menggoda dan atletis itu. "Alice!" Sentakan Alan membuat lamunannya buyar.
"Ibu mengajak makan diluar. Maaf, aku pikir kau..."
"Baiklah, kau bisa pergi. Lain kali ketuk pintu sebelum membuka sembarangan!" Terlihat Alan kesal karena perbuatannya.
"Apa salahnya? Bukankah aku berhak? Tubuhnya sungguh sangat... " Alice tidak dapat berkata-kata pikirannya melayang kemana-mana.
Semenjak pernikahan mereka, bisa dihitung berapa mereka tidur bersama kalau bukan karena paksaan. Alice sempat dan yakin akan kehadiran Rosa yang akan membuat hubungan mereka membaik dan seperti keluarga lainnya.
"Perjanjian itu." Gumam Alice.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Richard datang dengan gagahnya. Pakaian biru navy membuat dirinya terlihat lebih tampan dan keren. Senyum tak henti-hentinya bersemayam di bibirnya, ketukan pintu membuat suasana hati Richard lebih bahagia.
"Papa!" Sorak double Z menyambut kedatangan Richard.
"Kesayangan Papa. Kalian terlihat bersinar seperti bulan purnama." Double Z tertawa cekikikan mendengar ucapan Richard membuat Richard bertanya.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tidak tapi, ucapan Papa lebih cocok untuk diberikan pada Mommy. Karena...." Tak lama terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai keramik membuat suara tersendiri.
"Richard." Panggil Zoya tapi, tidak ada balasan karena mata pria itu masih menatap dirinya membuat Zoya menjadi salah tingkah dan berusaha menahan ekspresinya agar tetap normal.
"Richard!" Sekali lagi Zoya memanggil yang akhirnya membuahkan hasil.
"Iya, maaf. Aku tidak bisa berkata-kata kau seperti rembulan tidak! melebihi rembulan." Zoya tersipu mendengar nya tapi, ia tidak memperlihatkan nya. Sungguh wanita sangat ahli dalam menyembunyikan.
"Nak Richard sudah datang rupanya. Apa Zoya terlihat...."
"Cantik, bersinar dan mempesona." Nenek Ning tertawa mendengar ucapan Richard yang ceplas-ceplos dibawah kesadarannya.
"Kalau begitu bagaimana kalau segera berangkat." Tawar nenek Ning yang disetujui oleh Richard.
"Ah ya. Terima kasih si mengingatkan aku menjadi lupa. Mari Zee, dan Double Z kesayangan Papa."
Richard menunduk menyesuaikan tinggi dengan double Z. "Papa dan Mommy pergi sebentar Ok?"
"Ok. Pokoknya Papa harus membawa Mommy dan membawa Mommy pulang dalam keadaan baik." Ujar Zian.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Mommy pergi sebentar, jangan nakal oke?"
"Oke Mommy. Apa kami boleh menghubungi Daddy?"
"Tentu saja tapi, lihatlah waktunya." Saran Zoya untuk kedua putranya.
"Siap Mommy!" Double Z bertindak seperti prajurit yang mematuhi perintah atasannya membuat Zoya dan Richard tersenyum.
Setelah berpamitan keduanya pergi, di dalam mobil Zoya dan Richard terdiam beberapa saat dan tak lama mereka bercakap-cakap. "Apa ada acara di rumah?" Tanya Zoya sembari melihat jalanan.
"Tidak tapi, ada kakek ku. Ia ingin bertemu, kau bisa kan?"
"Kakek?"
"Iya. Kakek ku baru saja datang dari Gujarat. Ia mendengar mengenai kedekatan kita jadi, ia ingin bertemu denganmu. Percayalah kakek ku sangat baik." Richard bicara begitu karena mungkin Zoya berfikir mengenai sosok kakek nya.
"Lalu kenapa kita pergi sekarang? Dan tidak kerumah mu lagi?" Richard tersenyum mendengarnya.
"Karena aku ingin menghabiskan waktu bersama bulan yang bersinar terang ini." Zoya tersenyum begitu saja karena ucapan Richard yang mengandung gula.
"Baiklah, Dokter." Zoya mulai merasa nyaman dengan Richard meskipun baru 30% Richard menempati posisi dihatinya.
🌟🌟🌟🌟
Hati Rosa terasa bahagia apalagi dengan kedatangan neneknya dan mereka akan makan malam bersama. Sebelum berangkat Alan membaca pesan dari kedua putranya, kebahagiaan Alan berkali-kali lipat rasanya.
"Alan ayo kita pergi. Jangan sibuk dengan ponsel terus." Ujar Erna memerhatikan putranya yang sibuk dengan benda pipih itu.
"Iya Bu." Alan mengirimkan pesan bahwa ia akan pergi dan meminta kedua putranya bersabar selama beberapa waktu.
Mereka memilih restoran seafood yang terkenal dengan pemandangan yang indah dan pelayanan yang baik. Alan dan keluarganya duduk di meja yang berada dilantai dua.
Ditengah menunggu pesanan, mata Erna yang mengamati restoran terhenti di sebuah meja yang cukup jauh darinya tapi, berhadapan dengannya dan tentu saja membuat ia terkejut karena melihat sosok yang membuat darahnya menjadi mendidih.
"Zoya..."
Bersambung......
Jangan lupa like 👍
Tinggalkan komentar 🙏
__ADS_1
Berikan hadiah 🎁
Serta Favorit ❤️