
Sesuai ucapannya, Richard segera menuju apartemen Zoya setelah sarapan pagi. Hal itu membuat semua anggota keluarganya menatap dirinya membuat Richard berfikir ada yang salah dengan dirinya.
"Apa ada yang aneh? Kenapa semuanya menatap ku begitu? Aku tau aku tampan..."
"Hubungi celananya, sepertinya otaknya sudah geser!" Mendengar ucapan kakeknya Richard segera melihat bawahannya dan ternyata ia masih menggunakan celana boxer.
"Aghhhh!" Richard berteriak malu sambil menutupi bawahnya dengan sepasang tangannya dan segera naik ke atas.
"Hhahaha!" Sontak saja semuanya ikut tertawa tak terkecuali dengan Rekha.
"Lihatlah tingkah putramu itu."
"Dia cucu ayah." Ujar Rekha.
Sedangkan di kamar, Richard ngos-ngosan karena berlari terutama perutnya terasa berguncang setelah makan.
Karena terlalu bersemangat, Richard lupa memakai celananya. "Pahaku ternodai!" Ujarnya menatap dirinya di cermin.
Richard tidak rela jika ada yang melihat paha miliknya yang hanya ditujukan kepada Zoya. Meksipun tadi yang melihat Mama dan kakeknya tetap saja ada beberapa pelayan wanita tadi.
Semuanya berusaha menormalkan wajah mereka ketika melihat Richard turun dengan pakaian yang lengkap. "Aku mau pergi dulu." Richard segera pergi dengan wajah senormal mungkin.
ππππππππ
Zoya tengah membuatkan sarapan untuk kedua putranya, terlihat omelette dengan susu yang menjadi menu hari ini.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan terlihat Alan dengan senyuman manisnya. "Selamat pagi." Sapa Alan, Zoya tentu merasa terkejut dengan kedatangan pria itu jam segini.
"Selamat pagi, masuklah." Ujar Zoya, baru saja Alan masuk terlihat kedua putranya tengah sarapan.
"Daddy!" Pekik Zian yang tentu membuat Zain ikut menoleh.
Keduanya terpekik senang melihat sosok yang mereka rindukan. Alan membuka tangannya menyambut kedua putranya yang ia rindukan itu. " Sayang Daddy." Ujar Alan sambil mendaratkan kecupan manis di pucuk kepala putranya.
"Habiskan sarapannya dulu." Ujar Zoya yang ikut datang dan mengambil minuman hangat.
"Ini, silakan minum." Zoya meletakkan teh hangat itu untuk Alan.
"Terima kasih."
"Daddy sudah sarapan?" Tanya Zian pada Daddy nya.
"Sudah." Kedua putranya kembali makan dengan lahap.
"Zoya, bisa bicara?" Alan terlihat membuka percakapan dan menatap mata Zoya berharap wanita itu setuju.
Zoya melihat kedua putranya sejenak dan tak lama ia mengangguk setuju. "Tentu, kita bisa bicara di sana."
__ADS_1
Zoya dan Alan segera bangkit dari tempat duduk mereka. "Sayang, Mommy dan Daddy ke belakang sebentar. Habiskan sarapannya ya."
"Ya Mommy."
Sekarang kedua insan yang pernah menjalin hubungan itu terlihat duduk berhadapan satu sama lain. Keduanya berada di teras yang terdapat di belakang bagian apartemen Zoya. "Katakanlah, aku dengarkan." Zoya memulai pembicaraan setelah cukup hening.
"Mas ingin bicara mengenai double Z, mas ingin mempertemukan mereka dengan.. "Alan tampak hati-hati bicara, tidak ingin ada perdebatan lagi. Dan terlihat Zoya diam mendengarkan dengan seksama.
"Dengan Ayah dan ibu. Apa boleh?"
"Aku tidak melarangnya tapi, aku akan bersama mereka. Aku ikut dengan mereka."
"Baiklah. Mas tidak keberatan."
"Kapan?" Tanya Zoya, bukan tanpa alasan ia menerima.
"Saat....
"Mommy, Papa datang!" Sorak double Z membuat pembicaraan keduanya terhenti sejenak.
Alan merasa tidak suka dengan kedatangan Richard saat ini. "Zee...." Bak Dejavu Richard kembali datang di saat keduanya tengah bicara.
"Maaf aku. Akan menunggu kalian bisa lanjutkan." Richard membawanya double begitu menjauh dari sana.
"Saat apa?"
Lagi-lagi ada gangguan sekarang dari dering ponselnya. Alan mencoba hiraukan tapi Zoya merasa itu penting." Angkat saja, mungkin penting." Alan akhirnya mengangkat dan terlihat panggilan dari Alice.
"Papa diluar sayang, kenapa?" Alan mengecilkan suaranya takut double Z mendengar.
"Bisa pulang dulu, ada yang penting Alan." Sekarang suara Rosa berganti dengan suara Erna.
"Tapi Bu..."
"Sekarang!" Perintah Erna membuat Zoya hanya tersenyum kecut melihat Alan tidak berkutik pada ibunya.
Panggilan terputus, Alan menghela napasnya dan menatap Zoya sesaat. " Mas pergi dulu, sepertinya ada yang penting."
"Ya, aku tau itu. Bukankah selalu begitu?" Terdengar ejekan tapi itulah faktanya.
"Untuk kapannya mas akan datang, bisakan?"
"Bisa saja, tapi hubungi terlebih dahulu. Takutnya tidak bisa."
"Baiklah." Setelah itu Alan menemui putranya, terlihat double Z tengah mencuci piring membantu Richard tak lupa dengan tawa mereka.
"Papa! Itu geli!" Ujar Zian ketika di mengarahkan busa sabun.
__ADS_1
"Sayang!" Panggilan itu membuat aktivitas ketiganya terhenti. Zoya Amirin memanggil keduanya karena melihat Alan yang bungkam dan terpaku ditempatnya.
"Mommy, Daddy ada apa?"
"Daddy mau pergi, ayo salam dulu." Ucapan Zoya membuat wajah keduanya terlihat murung.
"Kok pergi lagi? Padahal aku mau bermain bersama Daddy."
"Aku juga." Ingin rasanya Alan membawa kedua putranya tapi, ia menghargai Zoya.
"Nanti Daddy datang lagi dan kita bisa bermain sepuasnya. Daddy janji." Alan mengeluarkan jari kelingkingnya mengikat janji dengan kedua putranya.
"Janji Daddy kami pegang, janji seorang pria harus ditepati."
"Tentu saja."
Tak lama Alan segera pergi dari sana, Richard terlihat selesai dengan cuci piring nya. " Ia datang pagi-pagi sekali."
"Kau juga begitu, dokter?" Balas Zoya.
Zoya cukup kaget saat merasakan tangannya disentuh dan dibawa Richard ke sofa. "Ada apa?" Tanya Zoya melihat aksi dokter tampan itu.
"Apalagi, tentu saja mengenai pernikahan kita. Jangan berpura-pura, kau tau kan?"
"Iya."
"Jadi bagaimana?" Richard ingin tau reaksi dan perasaan Zoya yang sebenarnya.
"Aku terima tapi, aku sudah bilang kalau..."
"Ya, dan aku akan merubah itu. Aku akan menaiki puncak hatimu dan bersemayam di sana. Jadi kau mau menikah denganku kan?" Sekarang Richard terlihat bersikap seperti gestur tubuh melamar.
"Yes!" Richard tersenyum dan spontan memeluk Zoya double Z yang datang dan melihatnya ikut berpelukan juga sambil bertanya.
"Papa ada apa ini?"
"Kita aku menjadi satu dan tinggal bersama, double Z senang?"
"Senang!" Ditengah kebahagiaan itu terlihat tatapan mata dengan wajah yang tidak senang. Dan segera ia berlalu dari sana dengan kemarahan dan pergi meninggalkan apartemen itu.
Sedangkan di sisi lain, terlihat Jim baru saja mendapatkan laporan hasil lab, dengan segera ia membuka nya dan membuat matanya membulat sempurna.
Bersambung....
Jangan lupa likeππ
Tinggalkan komentarπ
__ADS_1
Dan berikan hadiahnyaπ
Serta vote juga π«