
Meskipun hari sudah mulai cerah, tapi tak membuat perasaan Zoya cerah seperti hari ini. Sejak bangun tidur, ia merenung memikirkan apa yang akan ia lakukan. Sebisa mungkin, ia harus menyembunyikan double Z dari Alan. Bukannya ia jahat, tapi permasalahan di masa lalu membuatnya begitu waspada sekarang.
"Richard benar, aku butuh waktu beberapa tahun lagi. Aku harus kuat! Tidak boleh lemah! Meskipun ia berada dihadapan ku aku harus kuat." Zoya menyemangati dirinya dan menguatkan hatinya yang masih lemah ketika berhadapan dengan Alan.
"Bagaimana bisa seseorang yang buta akan keadaan akan bisa melindungi seseorang disekitar nya. Bagaimana mungkin seseorang yang terikat bisa memberikan kebebasan untuk seseorang yang bersama dengannya." Kata-kata itu selalu melekat bak lem yang kuat di ingatan Zoya.
Pintu terbuka, terlihat sepasang kaki mendekati Zoya yang sibuk dengan pemikirannya. "Zee."
"Kau butuh sesuatu? Ah ya, kau harus segera berangkat ke rumah sakit." Zoya mengambil sepiring roti dengan butter kacang kepada Richard. "Aku belum berangkat, kau lupa." Richard duduk sambil mengolesi rotinya dan menggeleng kecil melihat reaksi Zoya atas ucapannya.
"Aku...
"Mandilah, mungkin pikiran mu akan segar seperti disiram air hujan. Kau terlihat kusut dan kacau, kita akan menjemput double Z." Tanpa bicara lagi, Zoya segera menuju kamar mandi dan menyiramkan air ke tubuh serta pikirannya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Aroma strawberry tercium dari pintu kamar yang memperlihatkan sosok kecil dengan rambut hitamnya yang sudah diikat rapi. "Papa!" Rosa segera berada di pangkuan Papa nya yang tengah duduk.
"Oh, putri kecil Papa. Hmm, wangi sekali." Alan menghirup aroma strawberry yang mengelilingi tubuh Rosa membuat sosok kecil itu terkekeh geli karena tingkah Alan.
__ADS_1
"Papa, hentikan. Geli, hahahaha." Alice dari meja makan melihat interaksi keduanya.
Di meja persegi itu, tersaji berbagai makanan dengan aroma yang begitu lezat mengundang selera siapapun juga. Bahkan Rosa segera melahap makanan yang ada di sana diikuti oleh Alice dan Alan. "Pelan-pelan sayang, nanti tersedak." Ujar Alice yang diangguki oleh putrinya.
"Ya, halo?" Alan segera beranjak dari meja makan yang membuat tatapan Alice mengikuti tubuh kekar itu hingga ke jendela yang terbuka. Alan berdiri di sana sambil menelpon, pembicaraan nya dapat di dengar Alice. "Sungguh? Baiklah, kita bertemu nanti. Terima kasih." Dengan wajah berseri Alan kembali dan Alice bersikap tidak tau apapun.
"Papa terlihat senang. Apa ada sesuatu??" Pertanyaan Rosa tentu membuat Alice tak sabar menunggu jawabannya.
"Iya, Papa akan bertemu seseorang nanti. Ia sangat penting, Rosa bisa pergi dengan Mama menghabiskan waktu bersama sembari Papa pergi. Ok?"
"Perusahaan?" Tanya Alice spontan membuat Alan terpaksa menjawab karena berada dihadapan putrinya.
Sesuai perkataan Alan, pria itu segera bergegas pergi menuju tempat yang hanya ia tau. Sedangkan Alice dengan percaya dan tidak menemani putrinya sekarang.
Mobil yang dikendarai Alan segera meluncur ke sebuah apartemen, sebuah senyum perlahan keluar dan semakin melebar. Sebelum turun, ia memastikan tidak ada siapapun yang akan mengikutinya. Setelah merasa yakin, ia keluar menatap bangunan dengan nomor yang berbeda serta beberapa lantai. "Permisi, nomor 17 di mana ya?" Alan segera bertanya pada satpam yang berada disana.
"Anda tinggal lurus saja, dan hanya perlu menghitung atau melihat nomor yang anda cari, rasanya kamar itu berhadapan dengan lift." Satpam itu menjelaskan dan Alan mengucapkan terimakasih, tapi sebelum ia melangkah lebih jauh ia terhenti.
"Jika anda mencari penghuninya, dia baru saja pergi sebelah menit yang lalu."
__ADS_1
"Pergi? Apa lama?" Alan tidak mungkin bertanya kemana tujuannya karena itu bukanlah hal yang pantas atau diketahui oleh satpam.
"Seperti biasanya, paling lama malam nanti. Atau kemungkinan cepatnya sore nanti." Jawabnya.
"Apa anda tau ia bekerja di mana atau yang lainnya?" Satpam itu tampak berfikir sejenak mengingat penghuni apartemen ini tidaklah sedikit.
"Sepertinya pegawai, tapi anda bisa bertanya pada.... Astaga! maaf, mereka juga pergi karena hari raya Imlek. Aku tidak tahu banyak, jika anda butuh kenapa tidak telepon saja?"
"Baiklah, terima kasih banyak." Alan segera beranjak dari sana dengan kekecewaan.
Keinginan Alan yang ingin kembali ke mobilnya justru berbalik dan menuju nomor 17. Perasaan nya tak karuan saat sampai di pintu yang terkunci itu, matanya menelisik pintu yang bewarna sama dengan pintu lainnya. Tapi sebuah hiasan dinding menggantung di sana menarik perhatian Alan. "Aku semakin yakin, kau memang di sini."
Alan berniat kembali lagi kesini sesuai ucapan satpam. Orang suruhannya setidaknya sudah memberikan informasi yang sangat ia butuhkan. Saat melihat suasana di sekitar apartemen itu, paha atasnya terasa ditabrak oleh seseorang. "Aduh!" Pekiknya yang terjerembab ke kumpulan daun dari pohon diatasnya.
"Astaga!" Alan yang melihatnya langsung membantu sosok kecil berjenis kelamin laki-laki itu. Namun saat tangannya akan menyentuh pundak kecil itu sebuah suara mengagetkannya. "Jangan sentuh saudara ku!" Pekiknya membuat Alan terpaku ke arah nya.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1