
Pagi menyelimuti kota itu, dengan udara yang masih terasa sejuk dan juga tenang. Bahkan jalanan masih belum terlihat dipenuhi oleh kendaraan. Mobil bewarna abu-abu itu akhirnya berhenti di depan halaman rumah yang mewah.
Satu persatu penghuni di dalamnya melangkah keluar. Jim, segera memasukkan mobil ke dalam garasi, sedangkan yang lainnya melangkah masuk.
Baru saja pintu terbuka, suasana sudah langsung berubah suram. Tatapan dari penghuni di dalam begitu kentara. Diantara nya seorang gadis cantik langsung berhamburan menuju ayahnya. "Ayah!" Panggilnya seraya membenamkan wajahnya di kedalam dekapan cinta pertama nya.
Tidak ada jawaban dari pria paruh baya itu, selain memeluk tubuh kecil putrinya yang sudah remaja. "Selamat datang kembali, ayah dan yang lainnya pasti lelah. Ayo masuk, Alya...." Aron tersenyum kecil dengan menjaga jarak dari posisi mereka dan memberikan pengertian pada adiknya.
Perlahan Alya mengendurkan pelukannya, dan berlanjut pada Alan kakaknya. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, dan tidak ada yang bicara apapun. Alice baru saja meletakan Rosa ke kamar untuk tidur. Dan yang lainnya juga begitu, hingga beberapa jam kemudian, terlihat untuk sarapan pagi para pelayan sudah menyampaikan makanan.
Berharap penunggu rumah turun satu persatu, keinginan mereka terkabul. Terdengar langkah kaki yang mendekat dan sosok penghuni muncul.
Pelayan segera menyajikan makanan, semuanya perlahan sudah duduk. Saat makanan siap disantap, Indra mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Dimana Alta? Ayah belum melihatnya semenjak sampai." Baik Alya dan Aron hanya diam sejenak, hingga Alya membuka suara.
"Dia ada di kamarnya Ayah, tapi...." Indra menghela napasnya, sudah pasti putrinya itu mendengar apa yang terjadi pada Erna ibu mereka. Dari saudaranya yang lain, Alta lah yang paling dekat dengan Erna.
"Panggil dia, ini akan dibicarakan. Ia bertindak seperti anak-anak!"
"Setidaknya biarkan dulu ayah, mungkin setelah sarapan selesai." Usul Alan yang mengerti akan sikap adiknya itu.
__ADS_1
Tidak ada perbincangan yang khusus seperti sebelumnya, hanya ada suara garpu dan sendok yang beradu. Hingga suara Rosa terdengar menggema di lantai atas membuat Alice segera bangkit.
πππππππππ
Di kamar bernuansa merah maroon itu, sepasang mata sudah terlihat membengkak dan hitam karena tidak terpejam ditambah dengan pancuran air yang mengalir deras. Bukan hanya itu, hatinya juga terluka mendengar bahwa ibunya dipenjara karena mantan iparnya.
"Ibu...." Panggil nya pelan. Hingga pintu kamarnya terdengar diketuk, ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh nya.
"Alta! Buka pintunya!" Kaki gadis itu segera menuju pintu dan terlihat ayahnya sudah berdiri di sana.
"Alta....."
πππππππ
Sedangkan di Singapura, saat ini Zain terlihat normal tidak ada masalah seperti sebelumnya. Hanya saja, ia tidak bicara banyak atau cerewet seperti dulu. "Mommy, nanti hubungi Daddy ya?" Pinta Zian yang tengah duduk menunggu Zoya melipat pakaian.
"Tentu saja." Zain hanya menjadi pendengar.
Tak lama terlihat kedatangan Richard dengan sesuatu ditangannya membuat Zian langsung tersenyum senang dan penasaran akan itu. "Papa! Apa itu?" Tanya Zian tak sabaran.
"Hadiah untuk double Z Papa!" Mulut Zian terbuka lebar saat melihat apa yang berada dibalik kantong belanjaan itu.
__ADS_1
"Wah! Puzzle detektif!"
"Terima kasih Papa! Zain lihat...." Tunjuk Zian pada saudara kembarnya.
Richard mendekati Zain yang masih belum bergeming dari posisinya, biasanya anak itu akan berhamburan seperti saudara kembarnya. "Lihat, Zain pasti suka." Manik Zain menatap tangan Richard yang mengambil sesuatu untuknya tapi wajahnya tidak menunjukkan apapun.
Zoya melihat keadaan putranya, semoga tidak ada masalah, karena Richard masih terasa asingnya bagi Zain. "Wah, buku cerita. Bukankah kesukaan Zain?" Zoya berujar sambil mendekatkan buku itu.
"Zain suka?" Richard terdiam menunggu reaksi Zain, masih belum ada pergerakan darinya. Hingga Zoya pun merasa sedikit sedih karena putranya tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.
Richard perlahan menarik kembali tangannya dari pandangan Zian, tapi tiba-tiba....
"Suka.... Papa?" ucapan itu tentu membuat ketiganya merasa tidak dapat bergerak selain ekspresi wajah mereka.
Bersambung....
Jangan lupa like π
Tinggalkan komentar βοΈ
Dan berikan hadiahnya ya, terimakasih banyakππππ
__ADS_1