
Semenjak pertemuan Erna dan Zoya membuat wanita itu tidak akan berhentikan memikirkan rencana untuk membuat Zoya terus sengsara. Entah apa motifnya sehingga kebencian yang besar tersimpan di mata wanita berusia 58 tahun itu.
"Ibu, Ayah baru saja menelpon kenapa tidak diangkat?" Alan masuk kedalam kamar ibunya.
"Oh ya? Sepertinya ibu lupa menada deringkan ponsel Ibu. Biar Ibu telepon kembali." Erna melihat riwayat panggilan dari suaminya.
"Alan!" Panggil Erna membuat niat Alan untuk keluar terhenti.
"Ya Bu? Ada apa?"
"Ibu mau tinggal disini beberapa lama lagi. Sudah cukup lama juga Ibu tidak liburan." Alan mengerenyitkan dahinya mendengar penuturan ibunya.
"Maksudnya? Bukankah ibu ingin segera kembali pulang?"
"Tadinya begitu tapi, tidak jadi. Kita bisa tinggal di apartemen milik ayahmu Alan. Daripada di penginapan, toh Rosa belum sembuh benar. Dan ibu juga berniat untuk mengadakan acara ulang tahun Rosa, bukankah sebentar lagi?"
Alan menatap ibunya yang begitu excited menjelaskan rencananya di sini. "Alan kau dengar Ibu kan?"
"Iya Bu, aku dengar. Masalahnya kenapa tiba-tiba saja? Lagipula kita bisa merayakan ulang tahun Rosa setelah ia sembuh dan di Indonesia saja. Itu jauh lebih bagus bukan?"
"Pokoknya Ibu mau disini, ibu akan menghubungi ayahmu dan keluarganya Alice, sesekali kita rayakan di tempat yang berbeda."
"Terserah ibu saja. Alan ikut Ibu saja." Alan kembali ke kamarnya, baru saja mendudukkan bokongnya di ranjang, ia melihat pesan dari kedua putranya.
"Aku akan menemui mereka lagi, aku sangat merindukan mereka." Alan merebahkan tubuhnya sembari membalas pesan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Richard yang baru saja sampai langsung disambut oleh kakeknya yang tengah berdiri dengan tongkat panjangnya. "Akhirnya kau pulang juga. Bagaimana?" Richard ingin berteriak keras, ia ingin merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk setelah kegiatannya di luar tapi ketika sampai ia justru diwawancarai.
"Kakek, setidaknya biarkan aku masuk dulu. Menyetir mobil seharian membuat tanganku hampir copot." Keluh Alan berharap belas kasih kakeknya.
"Jawab dulu!"
"Iya, lusa ia datang." Sayangnya mata kakeknya tampak menelisik kejujuran cucunya itu.
"Aku bersumpah!"
"Baiklah, kalau tidak.... Awas saja!" Ancam kakeknya.
Richard akhirnya bernapas lega langsung saja ia mandi dan bergegas istirahat menuju dunia mimpi bersama Zoya dan keluarga kecilnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Alan sudah menghilang dan muncul di apartemen Zoya mengunjungi kedua putranya. Senyum Pepsodent menghiasi wajahnya menanti pintu terbuka menampilkan double Z. "Selamat pagi..."
Alan tidak bisa melanjutkan ucapannya melihat sosok dihadapannya, tampak Zoya dengan rambut yang masih basah dengan pakaian yang cukup pendek dan tak berlengan membuat Zoya berfikir itu adalah nenek Ning segera mengangkat handuk dan menutupi tubuhnya.
"Maaf, a...."
"Daddy!" Kecanggungan yang terjadi langsung hilang setelah kedatangan double Z yang berhamburan kedalam pelukannya.
Zoya yang melihat hal itu segera masuk kedalam kamarnya mengganti pakaiannya.
"Alan perlahan masuk bersama kedua putranya, meskipun raganya bersama double Z tapi pikiran Alan masih tertuju pada kejadian singkat tadi yang membuat ia teringat akan masa lalu yang indah.
"Masak apa?" Wanita itu terpekik karena dekapan yang tiba-tiba muncul dari belakang nya.
"Mas, aku sedang memasak nasi goreng." Jawab Zoya.
"Wangi sekali." Alan menghirup aroma tubuh istrinya membuat Zoya kegelian.
"Mas, hentikan. Aku sedang memasak." Ujar Zoya berharap Alan akan bertindak.
"Hari ini pemandangan nya sangat indah. Ketika melihat wajahmu yang cantik menyegarkan mata dan hatiku serta aroma tubuh mu yang menenangkan. Mas berharap selamanya akan begini."
"Begini! Aaaaaa!" Alan terkejut saat melihat kedua putranya sedang berselisih dalam memainkan mobil-mobilan yang ia berikan.
"Daddy! Zian jahat!" Zain langsung mengadu pada Daddy nya dan menangis di sana."
Zoya yang mendengar tangisan kedua putranya langsung keluar tanpa menyisir rambutnya.
"Astaga, Zian? Zain? ada apa ini?" Zian langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Mommy nya.
Hingga double Z masih-masing berada dalam dekapan orang tuanya. " Zoya, mas ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja."
"Begini, mas ingin membawa double Z menemui...."
"Menemui siapa? Mas jangan berfikir membawa double Z dariku!"
"Tidak pergi jauh Zoya. Masih di Singapura, kebetulan ibu mas kesini dan yang lain juga. Jadi bagaimana kalau double Z dipertemukan dengan mereka, mereka pasti akan senang begitu juga dengan double Z bertemu kakek dan nenek nya."
Zoya tidak mengerti pemikiran Alan yang begitu mudahnya mengatakan tanpa memikirkan akibatnya. " Mas ingin membawa double Z?"
"Iya." Jawab Alan dengan senang berfikir Zoya akan setuju pastinya.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan mas katakan pada istrimu? Ini adalah kedua putraku yang selama ini ku cari." Alan terdiam mendengarnya.
"Begitu? Lalu mereka akan tepuk tangan atas hal itu. Mereka akan menerima double Z dari depan tapi dalam hati siapa yang tau?"
"Apa kau berfikir kelurga mas seperti penjahat?" Tanya Alan tak habis pikir dengan ucapan Zoya.
"Aku tidak mengatakannya, mas yang bilang. Apa mas tidak berfikir bagaimana reaksi istri mas atau anak perempuan itu?"
"Dan yang terpenting bagaimana reaksi double Z? Ketika mereka tau mereka harus berbagi Daddy mereka dengan yang lain atau sebaliknya?"
"Apa kau ingin mengajarkan double Z bersikap egois? Anak-anak akan menerimanya. Mas akan menjelaskan...
"Menjelaskan bagaimana? Mereka akan mengerti jika diberitahukan pelan-pelan. Sama seperti mereka menerima Richard dan memanggilnya dengan Papa. Aku tidak pernah mengajarkan itu pada mereka, dan memaksa mereka menerima Richard. Aku tidak seegois itu!"
"Tidak egois? Kau memisahkan Ayah dengan anaknya tanpa memikirkan perasaan ku! Kau pergi begitu saja dan menyembunyikan hal sebesar ini! Kau egois Zoya!" Alan tersulut emosi mendengar penuturan Zoya yang seolah benar.
"Ya aku egois! Karena aku berhak bahagia dan hidup tenang dari orang-orang yang bertopeng! Aku egois karena ingin menyelamatkan kehidupan putraku! Aku egois untuk mempertahankan mereka meskipun harus melakukan tindakan yang tidak benar bagi orang lain!" Air mata Zoya mengalir seiring dengan penuturan yang sudah bersemayam selama ini dihatinya.
Alan tidak berkata apa-apa mendengar dan melihat ekspresi dan ungkapan Zoya. Selama mereka menjalani hubungan dan rumah tangga tidak pernah ia melihat Zoya seperti itu. "Apa maksudnya? Menyelamatkan? Dari siapa?"
Zoya tersadar akan ucapannya yang hampir saja mengungkapkan sebenarnya. " Katakan Zoya!" Tuntut Alan segera.
"Mommy.… Daddy...." Double Z tiba-tiba saja datang membuat Zoya dan Alan menormalkan ekspresi mereka masing-masing.
"Ada apa sayang?" Tanya Zoya pada kedua putranya.
"Kami mendengarkan Mommy dan Daddy ribut-ribut. Apa terjadi sesuatu?" Tanya double Z.
"Tidak sayang, Daddy dan Mommy sedang membicarakan apa yang sebaiknya Daddy berikan untuk kalian tapi, Mommy kalian ini tidak mau kalah." Alan berbohong dengan rapi.
"Kalau begitu biar kami bantu. Pasti cepat selesai."
"Ah ya, ini dia pilihannya." Alan mengeluarkan ponselnya memperlihatkan beberapa model mainan untuk kedua putranya.
"Jangan berfikir Mas akan melupakan percakapan ini Zoya."
"Lupakan saja, karena jika mas tau, mungkin mas tidak dapat melakukan apapun juga." Setelah itu Zoya pergi dari sana meninggalkan Alan yang dilanda kebingungan.
"Jim, cari tau apa yang terjadi saat kepergian Zoya. Cari kemanapun juga atau apapun itu! Aku ingin tau!" Alan menghubungi Jim segera.
Bersambung.....
Jangan lupa like 👍
__ADS_1
Tinggalkan komentar 🙏
Berikan hadiahnya 🎁