
Meskipun jam sudah menunjukkan tengah malam lewat, tapi mata itu masih terjaga bahkan tidak bisa terlelap begitu juga dengan gemuruh di dadanya yang siap mengalirkan air mata melihat keadaan buah hatinya.
Meskipun Zain terlihat terlelap, tapi dalam sejam sekali ia akan bangun dan berteriak dengan tubuh menggigil dan ketakutan. Entah apa yang dilakukan oleh orang-orang itu pada putranya.
Zoya hari siap siaga ketika putranya terbangun dan dilelapkan kembali. Karena Zain terus berteriak dan memejamkan matanya. Membuat sentuhan tanpa melihat memudahkan Zoya, dan tentunya Zain merasakan sosok Mommy nya yang mendekap dirinya.
"Biar aku yang jaga, kau tidurlah. Ini sudah lewat tengah malam Zee, aku tau seorang ibu tidak akan bisa tidur dengan pulas dengan keadaan putranya yang begini. Tapi jika kau sakit bagaimana? Apa yang Zian pikirkan nanti, saudara dan Mommy sakit, ia akan merasakan juga." Richard baru saja kembali dari kamar tempat Zian dirawat, melihat kondisi Zain membuat mereka memutuskan untuk memisahkan keduanya.
"Aku takut...." Lirih Zoya menatap putranya.
"Ada aku, kita akan menjaganya. Zee, suatu hal yang berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama, bukankah begitu? Jika Zain bangun dan aku tidak bisa menanganinya aku akan membangunkan mu. Setidaknya kau bisa pejamkan mata sejenak, kau belum sembuh total."
ππππππππ
Richard duduk di kursi yang cukup panjang untuk mereka berdua dan dengan pelan Richard membawa kepala Zoya bersandar di bahu nya. Tanpa melepaskan genggaman tangan dari putranya Zoya menatap wajah Zain yang tengah tertidur hingga matanya yang lelah dengan tubuh dan pikiran nya membuat ia terpejam perlahan.
Mendengar deru napas yang teratur, Richie melirik ke arah Zoya dan terlihat wanita cantik itu sudah terlelap. "Tidurlah, aku akan menjaga kalian. Aku berjanji Zain akan kembali seperti semula dan juga senyum di wajah mu Zee."
πππππππ
Sedangkan di ruangan lain, wanita berambut pirang itu terbangun dan mendapati sosok yang sulit ia dekati sekarang berada di sebelahnya. "Ayah benar, aku akan tetap bersamamu. Aku hanya menunggu sedikit lagi hingga berhasil duduk di salah satu bangku dihatimu. Aku tidak akan bersikap egois dan akan bersamamu. Karena kau juga menerima masa lalu ku, Alan."
Karena kondisi yang masih belum stabil, Alan tertidur setelah membagi beban melihat keadaan putranya. Alice yang berada bersamanya menjadi sosok pendengar yang baik yang dibutuhkan Alan. Bagaimanapun seorang pria yang menjadi seorang ayah tidak bisa berkata baik-baik saja meksipun ia menyembunyikan semuanya sendiri.
ππππππππππ
Sinar mentari menerpa jendela dan memancar masuk kedalam ruang perawatan itu. Zian yang terbangun langsung melihat sosok dengan gigi ompong yang tersenyum padanya. "Selamat pagi brother." Ujarnya membuat Zian mengerutkan keningnya.
"Kau disini? Dan kau bilang apa? Bro... "
__ADS_1
"Brother karena kita saudara bukan?" Meksipun bingung Zian mengangguk saja karena ia mencari keberadaan Mommy nya.
"Mommy?" Panggilnya.
Terlihat ada yang datang tapi bukan Mommy nya melainkan Nenek Ning dan sosok wanita yang ia kenali. "Mama, Zian sudah sadar." Lapor Rosa pada Alice.
"Ayo, sarapan dulu. Supaya kau cepat sembuh." Zian tidak menjawab ia melihat kesana-kemari mencari keberadaan Mommy nya.
"Mommy mu di ruangan Zain." Setidaknya ucapan nenek Ning membuat ia tenang.
"Aku mau kesana." Cicit Zian.
"Tentu, kita bisa pergi bersama. Daddy mu juga akan kesana."
"Bib..."
"Kalau Rosa memanggil Daddy mu dengan Papa, Kenapa kau tidak memanggil ku dengan Mama? Hmmm?"
Alice mengangguk setuju disertai senyuman membuat Zian yang awalnya canggung menjadi sedikit santai. "Mama?"
"Ya, setidaknya kau terbiasa nanti."
ππππππππ
Pembatas yang terbuat dari kaca dihiasi oleh lubang berdiameter kecil yang hanya bisa menyampaikan suara secara nyata menjadi pertemuan Indra dan Erna. "Apa yang kau lakukan sebenarnya Erna? Katakan sejujurnya." Tapi bukannya jawaban justru tawa besar yang terdengar.
"Kenapa? Apa anak itu jadi gila?"
"Kau tidak takut hukuman disini? Ini bukan negara yang bisa disuapi dengan lembaran angka dan kau bisa bersih."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, dengan kesengsaraan wanita itu. Aku merasa di surga kemenangan, kau tidak tau, luka di hatiku ini!" Tunjuk Erna dengan berapi-api.
"Apa obat yang ku berikan tidak bisa menyembuhkan nya? Apa kehadiranku, sikap ku dan cintaku tidak bisa menyembuhkan nya? Lalu apa arti kebersamaan kita selama ini?"
"Kau seperti singgahan bagiku. Hanya itu, aku tidak mencintaimu. Hatiku sudah mati karena penolakan itu, anak-anak yang ku lahirkan hanya mengobati separuh saja. Hatiku kembali sakit saat melihat Yusuf bersama istri dan anaknya itu! Mereka tersenyum bahagia! Aku tidak suka!"
Indra tersenyum getir mendengar nya, hujan cinta yang ia berikan tidak mampu mengubah kebencian yang telah mengakar itu. Erna sangat ahli berkamuflase didepannya, ia jadi teringat akan ucapan ibunya. "Kau menikahi seekor ular Indra. Sampai kapanpun ia tidak akan berubah!" Itu adalah pertemuan terakhir nya dengan sang ibu saat Alan berusia 10 tahun, sebuah perdebatan terjadi kembali antara ibunya dan istrinya setelah itu ibunya meninggal beberapa hari kemudian karena sakit jantung nya.
"Aku tidak pernah menyesali pertemuan dan keputusan ku menikahi mu. Aku hanya menyesali tidak baik memadamkan api yang menyala dalam dirimu. Perbuatan ini semakin menyadarkan ku akan dirimu, kau tidak berpikir akan akibat nya. Kau hanya memuaskan dendam mu saja, sidang mu akan segera dimulai karena akting gila mu tidak berlaku dan pasal yang menjerat mu semakin bertambah." Tidak ada jawaban dari Erna ia hanya menatap Indra dengan datar.
"Pergilah, akhirnya kau menyadari kebodohan mu. Aku tidak membutuhkan siapapun, aku lelah bersandiwara mencintai mu selama ini, hubungan kita hanya ku anggap sebagai singgahan dan pelampiasan saja."
"Aku berdoa semoga hatimu melunak dan jaga dirimu." Indra melangkah pergi meninggalkan sosok yang menghiasi hari-harinya itu.
Erna kembali kedalam sel nya, dan disana ia dipertemukan dengan tahanan lain karena sebelumnya ia diberikan sel khusus. "Minggir!" Sentaknya pada seorang wanita bertubuh kurus yang menghalanginya duduk.
"Hei kau! Ini sel, bukan kamar mu!" Ujar yang lain merasa kesal dengan sikap Erna.
"Lalu kau mau apa?"
"Wah, sepertinya kau bukan dari negara ini. Kalau begitu kita harus menyambut nya dengan baik." Erna yang awalnya tidak peduli langsung tersentak saat melihat tahanan yang berjumlah lima orang itu mendekati dirinya dann........
Bersambung.....
Jangan lupa likeπ
Tinggalkan komentarβοΈ
Dan berikan hadiahnya yaππΉπΉπΉ
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!