
Bayangan wanita terlihat menuju sebuah kamar, tangannya perlahan membuka knop pintu dan terlihat ruangan yang cukup remang. Senyum terkembang di wajah cantiknya saat melihat sosok yang ia lihat sudah tertidur pulas. Tangannya terulur mencoba menggapai wajah tampan yang memikat hatinya itu.
Hatinya sangat senang hari ini, karena waktu yang terkuras oleh permintaan gadis kecilnya, membuat pria yang menggelora di hatinya sekarang tertidur dan tidak pergi. Netra hitam Alice terus menatap wajah Alan dengan keinginan menyentuh wajah itu.
"Taukah dirimu Alan. Aku ingin selalu seperti ini, bisa memandangi wajah mu yang terlelap apalagi di sampingku di ranjang yang sama. Tidak ada siapapun, bahkan wanita itu, aku berharap ia tidak akan pernah kau temukan karena aku ingin bersamamu." Alice menopang dagunya dengan tangan lentiknya dan tatapan matanya yang tidak berhenti menatap Alan.
Merasakan tidak ada pergerakan Alan dalam tidurnya, Alice memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah Alan. Ia menggerakkan tangannya sepelan mungkin, hingga akhirnya tangannya mendarat sempurna di pipi Alan.
"Tampan, kau sangat tampan dan sempurna." Tangan Alice beranjak dari pipi Alan menuju kelopak mata pria itu.
"Dan kelopak mata ini menyembunyikan manik coklat yang membuat ku mabuk setiap menatapnya dan membuat ku tersihir olehnya meskipun kau tidak menatap diriku dengan cinta." Alice melakukan dengan perlahan agar Alan tidak terbangun, sungguh ia tidak ingin ini berakhir.
Tatapan hitamnya menuju benda kenyal yang membuat ia penasaran akan rasanya. "Bibir ini, aku ...... Tergoda dan penasaran Alice menjadi satu hingga ia mendekatkan wajahnya mengantikan tangannya disana. Sekarang ia hanya ingin merasakan bagaimana benda kenyal itu menyatu dengan miliknya.
Tapi saat wajahnya berjarak satu senti Alice melihat pergerakan Alan dan membuat ia menarik kembali wajahnya. "Jangan bangun." Alice berharap cemas, sungguh Alan akan mengamuk jika ia ketahuan.
"Sebaiknya aku pergi." Baru selangkah beranjak, Alice terhenti dengan suara dari Erna.
'Tidak ada pilihan lain selain kau mengandung kembali.' Alice berbalik menatap Alan yang terbaring.
"Ya, aku akan melakukannya. Aku tidak ingin Alan pergi dari ku." Sorot mata Alice berubah dan tangannya bergerak cepat mengambil dan melakukan sesuatu di temaram lampu.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Lampu terlihat menyoroti sosok bergaun hitam yang panjang dan indah. Bukan hanya lampu, tapi juga tatapan mata yang melihatnya begitu takjub karenanya.
"Mommy... Beautiful!" Double Z bersorak gembira dengan mata yang berbinar-binar menatap Zoya dengan kecantikannya.
"Wow, dress yang indah. Sungguh terlihat mempesona di tubuhmu Zee." Jili terlihat mendekat sembari merapikan gaun di tubuh Zoya.
"Sepertinya ini berlebihan..... Zoya menatap dirinya di cermin yang memperlihatkan kecantikan dirinya berbalut gaun hitam itu.
"Bukan! Tapi cocok, dan selera Richard sangat bagus. Aku yakin ia tidak akan berhenti menatap dirimu bahkan kau akan menjadi bintang di sana." Jili tak henti hentinya melontarkan pujian.
"Tapi......
Melihat keantusiasan kedua putranya, Zoya hanya duduk diam. Ia tidak melewatkan pertikaian kecil yang terjadi diantara keduanya masalah pilihan aksesoris. "Sudah, biar bibi yang berkerja. Bibi akan jadi Ibu peri yang membuat Mommy kalian luar biasa lagi!" Jili mengambil alih tapi ia tidak menolak pilihan double Z karena keduanya memilih pilihan yang bagus.
Zoya hanya duduk sesekali membalas ocehan kedua putranya dan menatap dirinya di cermin. Cermin persegi itu menampilkan kecantikan dirinya, dress hitam yang terlihat kontras dengan kulitnya membuat ia bersinar.
Entah mengapa tatapannya mulai terlihat dalam dan sebuah bayangan terpancar dari cermin dihadapannya. "Kau sangat cantik. Aku jadi tidak rela pergi dan membawa mu ke sana, semua orang bisa melihat mu nanti." Alan menyentuh pundaknya sembari berbisik di telinga Zoya yang baru saja dipasangi anting.
"Tidak baik. Mereka mengundang kita, jangan berfikir begitu." Zoya mengelus rambut Alan yang berada di samping kirinya, keduanya sudah berpakaian serasi bewarna biru navy.
__ADS_1
"Aku suka rambutnya digerai, kau terlihat lebih cantik." Alan melepaskan sanggul rambut Zoya dan membuat rambut hitam bergelombang itu jatuh menjuntai.
"Sekarang sempurna, kau sangat cantik. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga." Bayangan keduanya begitu mesra ditampilkan di cermin bulat dan sinar lampu ya membuat suasana romantis di sana.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Selesai! Sekarang kau sudah siap pergi ke pesta." Mendengar suara Jili, Zoya tersadar.
Zoya mengamati rambut dan perhiasan yang ia pakai, terlihat nyaman dan bagus. Tapi tangannya mencoba menggapai rambut hitam nya yang membuat Jili menyahut. "Hei, apa yang kau lakukan?" Jili menghentikan pergerakan tangan Zoya.
"Rambutnya disanggul saja.....
"Tidak!" Zoya kaget mendengar penolakan dari ketiganya yang serempak membuat Zoya mengalah dengan jantung yang berdetak karena oktaf ketiganya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Apa yang kau lakukan? Cekalan tangan serta sentakan keras membuat Alice kaget bukan main dan ia terpaku dengan tatapan tajam Alan.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.