
"Nak, kau mau kemana?" Tanya Rekha pada putranya.
"Aku mau menemui Zoya, ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan."
"Astaga, calon pengantin ini tidak sabar rupanya." Goda Rekha dan Richard hanya berdiri di ujung tangga.
"Setidaknya sarapan dulu." Rekha mengajak putranya duduk dan mengambilkan roti.
Melihat itu, Richard menuruti ibunya. Meskipun mulutnya mengunyah tapi pikirannya berada di tempat lain. Melihat kedatangan Alice malam itu membuat nya berpikir macam-macam. "Kenapa anda mencari Zee jika suami anda menghilang?" Tanyanya.
"Jangan berpura-pura Dokter. Saya yakin, calon istri anda pasti sudah bercerita mengenai dirinya. Bagaimana pun, jika dua orang dari yang memiliki hubungan di masa lalu kembali bertemu menurut Dokter bagaimana? Tolong beritahu padaku, putriku menangis menunggu kepulangan Papanya. Mungkin dia menemui atau kesana, tolong....."
Bel segera Richard tekan, dan tak lama sosok yang ia tunggu keluar juga. "Richard...
"Kenapa tidak menjawab atau membalas pesan ku?" Tanya Richard tanpa embel-embel.
"Duduklah, akan ku jawab."
Baru saja Richard duduk ia melihat Alan di sofa yang sama berhadapan dengannya. Tengah duduk sembari bersandar dengan kemeja yang tidak beraturan dan juga Zoya yang terlihat selesai mandi membuat pikiran nya bergejolak. "Selamat pagi dokter." Sapa Richard.
"Apa yang anda lakukan disini?"
"Mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan." Jawab Alan yang tidak peduli dengan ekspresi wajah dan tatapan Richard.
Meyakini Zoya tidak seperti itu, ia mengambil napas panjang dan berusaha tenang menunggu penjelasan Zoya. "Sejak semalam memang disini, dia terluka. Aku baru saja mengganti perban nya. Ponsel nya tidak ada, aku tidak bisa menghubungi siapapun dan maaf karena lupa mengabari mu. Aku tidak mungkin membiarkan nya begitu saja, dan bisa tolong lihat jahitannya. Aku masih ragu..."
Richard memang melihat ada perban di sana yang tertutupi oleh bantal sofa. Pria itu menyingkirkan pertanyaan nya sejenak dan melihat luka Alan. "Singkirkan bantal nya, aku tidak bisa periksa!"
"Iya, setidaknya sabar lah." Zoya hanya menggeleng melihat keduanya.
"Ini tusukan benda tajam, kenapa bisa?"
__ADS_1
"Kenapa bisa? Tentu saja karena ditusuk."
"Dirampok?" Tanya Zoya.
"Tidak, terkena pagar besi. Semalam aku tidak bisa melihat dengan jelas dan jalannya diperbaiki jadi aku memanjat agar cepat sampai kesini dan tidak perlu memutar. Aku ingin bertemu dengan double Z dan..... Begitulah."
"Dasar! Zee, aku akan jahit lagi. Masih ada yang terbuka sedikit, ini bisa jadi masalah."
"Aku akan ambilkan, sebentar ya." Sekarang tinggal keduanya dan atmosfer disana langsung berubah.
"Batalkan pernikahan kalian!" Pinta Alan membuat Richard menatap sengit dirinya.
"Double Z membutuhkan kedua orang tua yang lengkap dan Zoya tidak mencintaimu. Kau tau bukan?"
"Zoya membutuhkan pria yang tegas dan menerima dirinya bukan hanya suaminya tapi juga keluarga besarnya. Apapun kekurangan Zoya, entah bisa memberikan keturunan atau tidak, bukan sekedar cinta saja." Balasan Richard seolah menyudutkan dirinya.
"Kau...."
"Ya, kami akan baik-baik saja. Aku akan merawat pasien ku dengan baik, bukan begitu?" Ujar Richard sambil menatap Alan.
"Ya, kebetulan aku ingin bertemu dengan double Z." Zoya pergi dengan segera meninggalkan kedua pria itu.
Richard memulai jahitannya, dan Alan sedikit meringis. Disela-sela jahitan itu, Richard memulai pembicaraan kembali. "Kau ingin mengatakan sesuatu tadi, lanjutkan saja."
"Kau bersedia menikahi wanita yang tidak memiliki perasaan padamu dan membesarkan anak bukan anak tapi, anak-anak yang bukan darah daging mu. Kau bisa mendapatkan wanita, gadis manapun aku yakin."
"Perlu anda ketahui tuan Alan, kata tidak itu sebaiknya diganti dengan ada. Meskipun bukan sebesar saat ia bersama masa lalunya tapi aku yakin besarnya akan melebihi itu. Masalah double Z, jika aku mau aku bisa saja menyingkirkan keduanya dengan mudah lalu bertindak seperti super hero untuknya. Tapi aku menerima Zee tanpa melihat masa lalunya atau kekurangannya."
Alan melihat kesungguhan dari ucapan dan ekspresi Dokter itu. "Kalau tidak seperti yang kau harapkan bagaimana?"
"Dalam hidup tentu ada masalah baik kecil ataupun besar. Tergantung bagaimana menghadapinya, semuanya tidak sempurna karena itu kita yang membuat semuanya menjadi sempurna."
__ADS_1
"Dan yang terpenting, apapun yang terjadi nanti aku tidak akan meninggalkan Zee. Meskipun keluarga ku yang memintanya dan itu juga mungkin tidak terjadi kalau pun iya aku akan mempertahankannya."
Alan sedikit tersentak karena Richard menutup kembali lukanya. "Zoya bercerita semuanya padamu?"
"Tidak juga, ia tidak pernah mengatakan hal buruk mengenai mu. Mungkin ada rasa tidak suka yang ku rasakan, apalagi ketika kalian kembali bertemu dan reaksi double Z yang begitu bahagia bertemu dengan Daddy nya. Aku tidak menampik hal itu atau kebenarannya, bukankah setiap resiko akan ada dari keputusan yang kita ambil? Tapi aku percaya pada Zoya."
"Bahkan jika dunia memintanya tidak ku berikan apalagi permintaan mu tuan Alan."
🌟🌟🌟🌟🌟
Erna terlihat bahagia setelah merasa kesal karena ia sehabis bicara dengan suaminya yang meminta segera pulang. Tapi setelah mendapat pesan dari temannya, ia langsung tersenyum senang. "Sebelum aku pergi meninggalkan negara ini, aku akan membuat kau menangis darah Zoya!"
Bersambung.....
Jangan lupa like
Tinggalkan komentar
Dan berikan hadiah 🌹🌹
Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya teman author, cerita nya tak kalah seru loh!!
Nama adalah doa. Hal itu telah diketahui semua orang.
Banyak orang yang memberi nama anaknya sesuai dengan karakter tokoh idola masing-masing. Sama halnya dengan pasangan Reyhan dan Laura yang memberi nama anaknya Salman Alfarisi.
Keduanya berharap kelak putranya mewarisi segala kebaikan yang ada pada diri salah satu sahabat nabi yang di jamin masuk surga itu.
Namun apa jadinya, jika doa tulus itu di kabulkan Allah? Termasuk soal percintaannya.
__ADS_1
Mau tau seperti apa kisahnya? Silahkan ikuti novel ini.