Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Laporan Hati


__ADS_3

Oh ya, bagi yang tertarik dengan genre kerajaan fantasi wanita kuat yuk mampir ke karya baru author yang berjudul" Modernisasi Queen"


🌹🌹🌹🌹🌹Selamat membaca🌹🌹🌹🌹


Pikiran buruk kembali menghantui Zoya, apakah ayah mertuanya ini meminta putranya. "Maksud Ayah?" Tanya Zoya tergugu.


"Tenanglah nak, aku tidak mengambil mereka seperti pikiran mu. Ayah hanya meminta untuk menghabiskan waktu bersama mereka nantinya. Atau mungkin membawa mereka ke Indonesia, Alan mungkin senang dengan hal itu."


Akhirnya hati Zoya merasa lega begitu juga dengan Richard yang hampir marah tapi ia bersikap tenang mendengarnya. "Tentu saja, mereka cucu ayah." Balas Zoya yang membuat Indra tersenyum senang.


"Kalau begitu, ayah akan kembali. Mungkin Alan sudah sadar atau belum. Ayah akan datang lagi." Zoya mengangguk mendengar ucapan Indra.


"Paman jangan khawatir, malam nanti atau besok ia sudah sadar. Yang terpenting jangan banyak bergerak." Richard yang memeriksa kondisi Alan membuat Indra merasa lega karena putranya tidak mengalami hal yang serius.


"Syukurlah. Ayah pergi dulu." Pria itu perlahan pergi dan sekarang tinggal Zoya dan Richard yang tengah saling diam menunggu siapa yang mau bicara.


Richard belum bicara tapi mengecek keadaan double Z yang membuat Zoya memantau pergerakan pria itu. "Bagaimana hasil visum nya? Aku tau itu sudah keluar." Sontak pergerakan Richard terhenti.


Tidak ada jawaban, hanya tatapan yang Richard berikan. Zoya jadi berpikir buruk mengingat apa yang menimpa dirinya. "Apa seperti dugaan ku? Katakan saja? Aku terima." Bicara dengan rasa kuat tapi air matanya kembali turun sungguh tidak sinkron sekali.


Segera Richard memeluk dirinya membuat tangisan Zoya yang awalnya kecil langsung menjadi di pelukan itu. "Katakan, aku tidak mau ada kebohongan."


"Apa yang kau pikirkan? Hasilnya sudah keluar tapi tidak seperti yang kau pikirkan. Rahim mu bersih Zee, mereka tidak menyentuhnya." Sontak mata yang berkaca-kaca itu langsung mencari kejujuran di mata Richard.


"Kau tidak bohong? Aku tidak ingin hiburan semata yang bertolak belakang dengan kenyataannya."


"Aku tidak berbohong, kalau tidak percaya. Lihatlah." Richard memberikan surat hasil visum nya dan Zoya segera membukanya, sepasang netra nya membaca sampai habis untaian kata-kata itu.


"Terima kasih." Zoya kembali membenamkan wajahnya ke dekapan Richard yang disambut dengan senang oleh dokter tampan itu.


"Aku sudah bilang jangan ada lagi air mata kesedihan. Aku ingin kebahagiaan yang mengisi dirimu. Jangan lupakan itu, hmmm?" Terasa hangat dan lembut Zoya rasakan kecupan itu mendarat sempurna di keningnya.

__ADS_1


Zoya memejamkan matanya merasakan kelembutan itu, ia kembali terisak karena perlakuan Richard. "Kalau aku mendengar tangisan lagi, maka aku akan mencium nya."


"Dasar!"


"Agh!" Richard berteriak kesakitan karena pukulan lembut Zoya di dadanya membuat keduanya kembali tertawa kecil.


"Aku mencintaimu Zee."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di ruangan lain, terlihat Alice datang bersama Rosa setelah mendengar kabar kedatangan Indra di Singapura. "Ayah." Ucap Alice sambil melangkah.


"Kakek!" Pekik Rosa senang.


"Bagaimana kabar cucu cantik kakek ini?" Indra menyentuh hidung kecil Rosa membuat dirinya terkekeh.


"Ayah baru datang?" Tanya Alice, ia berniat terbang kembali ke Indonesia tapi ketika mendapat panggilan dari mertuanya ia segera kesini bersikap tidak ada masalah.


"Itu...." Alice memandangi putrinya.


"Sayang, kakek baru saja melihat ada yang menjual eskrim di sana. Bagaimana kalau pergi bersama Paman Jim?" Mendengar kata eskrim membuat telinga kecil itu langsung kesenangan.


"Sungguh? Kalau begitu aku akan kesana. Mana Paman Jim? Paman....." Rosa segera berlari menuju Jim yang menyambut dirinya.


Setelah Rosa pergi kembali lagi dengan percakapan mertua dan menantu ini. "Katakan, ada apa?"


"Aku ingin pulang, aku tidak bisa bertahan lagi rasanya. Di pikiran Alan hanya ada dua putranya dan mantan istrinya, aku tidak bisa lagi mentolerir karena Rosa juga terlibat."


Indra akui, wanita ini memiliki kejujuran yang tinggi.


"Lalu kau ingin bagaimana? Apa Alan bertindak tidak tahu apa-apa? Atau menelantarkan anaknya? Kau seorang ibu Alice, kau orang tua. Kau mengerti bagaimana Alan, sekarang kita singkirkan Zoya dari sini. Kita membahas kedua putranya, bagaimana pun mereka adalah putra Alan."

__ADS_1


"Apakah kau pernah berpikir, bagaimana perasaan Alan mengetahui ia memiliki dua putra dan sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati? Ia tidak mengesampingkan dirimu dan Rosa. Seharusnya kau tidak mengambil kesimpulan seperti itu. Bagaimana kalau kau berada di posisi Zoya?" Alice langsung menatap Indra setelah cukup lama berpaling.


"Ayah tidak pernah mendoakan keburukan untuk kalian, meksipun rumah tangga mu tak seperti yang kau harapkan. Jika Alan memang tidak menginginkan dirimu atau Rosa ia akan menceraikan mu, melakukan tindakan buruk padamu tapi tidak ia lakukan. Alice, mungkin Alan belum bisa mencintaimu tapi ia kau memiliki posisi dihatinya dengan porsi sendiri. Daripada melihat dan merasakan tindakan Alan sekarang, kau lupa dengan tindakan baik nya atau putraku tidak pernah melakukan itu? Katakan sejujurnya."


Alice termangu mendengarnya, ia menatap Alan yang terbaring di ranjang nya. Ingatannya tertuju pada dimana kehamilan dan proses tumbuh Rosa. Alan bersikap baik dan hangat hanya saja ia tidak menerima tidur bersama tapi bukan berarti ia tidak melakukan tanggung jawab dan kasih sayang pada dirinya dan putrinya.


Alice terisak mengingatnya. Alice yang sedang tertidur merasakan sentuhan di dahinya membuat ia segera tersadar dan terlihat Alan datang dengan pakaian kantor nya. "Aku dengar kau tidak enak badan, ayo kita ke rumah sakit."


"Al, aku ingin bakso." Saat itu dirinya tengah hamil memasuki bulan ketiga.


"Kau mau yang mana? Makan dimana?" Alan tidak peduli dengan dokumen yang menunggu untuk diurus.


"Aku mau yang gerobak dan makan di sana."


"Terima kasih, dia cantik sekali. Aku menemainya Rosa, seperti bunga mawar dan semoga perilakunya memancarkan kebaikan seperti wangi yang begitu harum."


"Maaf...."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Mommy...." Zoya yang merasa mendengar suara yang memanggilnya langsung menoleh ke arah kedua putranya dan ia langsung turun dari ranjangnya melihat Zian sudah sadar.


"Zian!"


Bersambung.....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiahnya ya

__ADS_1


__ADS_2