
Meksipun laju kuda besi itu tengah melewati kebisingan, tetap saja penghuni nya masih terdiam. Bahkan, sang pengemudi masih diam sambil melirik wanita yang berada disebelahnya dengan wajah memerah.
"Kenapa istriku diam?" Mendengar itu, wajah cantik itu langsung menatap dirinya.
"Istri? Siapa?" Balasnya dengan sengit
"Tidak mau? Tapi tadi ada yang mengatakan aku suaminya. Atau wanita itu...."
"Kau mau menikah dengannya? Iya?" Sungguh Richard ingin tertawa, tapi ia menahan sebaik mungkin. Sungguh Zoya seperti buah yang berisi bom sekarang yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Double Z tertidur setelah melakukan kegiatan yang membuat energi mereka terkuras beberapa persen dan diliputi kebahagiaan. Sehingga sepasang kekasih itu sibuk dengan perdebatan yang diawali dengan pertanyaan wanita ketat mengenai tempat duduk.
Seketika laju mobil itu berhenti dan membuat Zoya terus menatap dokter anak itu. "Kau mau turun kan aku?"
Bukannya menjawab, Richard memegang pipi tembem Zoya dan membuat wanita itu terpaku. Sepasang mata mereka saling menatap satu sama lain diiringi dengan detak jantung.
"A...apa?" Tanya Zoya gugup.
"Aku hanya ingin menikahi mu Zee, apa masih belum jelas? Kau cemburu? Aku senang dengan itu, bukan berarti aku suka dengan wanita atau gadis manapun yang mendekat padaku. Aku sudah mengunci hatiku untukmu, dan tak akan bisa beralih pada siapapun, apapun yang terjadi. Mengerti?"
Entah mengapa mata Zoya langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Richard dan tatapan yang begitu tulus. Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya dan tak lama wajahnya tengelam di dada bidang Richard.
"Aku hanya mencintaimu Zee, hanya kau. Jadi...... Kita bisa menikah?"
__ADS_1
"Hmmm." Hanya itu yang terdengar yang membuat hati Richard semakin berbunga-bunga.
"Besok?" Sesaat setelahnya mengatakannya, Richard merasakan pukulan kecil di dadanya membuat ia berpura-pura sakit.
"Tidak begitu!" Wajah Zoya tersenyum haru dengan masih memerah.
"Peluk aku lagi!" Pinta Richard.
Lagi-lagi Zoya membenamkan wajahnya dalam dekapan Richard. Akhirnya, gerbang ikatan hati mereka segera meluncur dan tidak akan lama lagi. Saat adegan dekapan itu, sepasang mata kecil tiba-tiba terbuka dan menatap dengan kesadaran yang belum pulih.
"Mommy? Papa? Apa ada festival pelukan?" Tanyanya dengan polos membuat keduanya saling menatap dan Zoya berniat melepaskan pelukannya tapi ditahan oleh Richard membuat manik Zoya membesar.
"Iya, Zian mau ikut?" Tentu saja semakin membuat mata Zoya melotot dan Zian langsung mengangguk setuju dan bergabung dalam dekapan otot besar Richard.
"Ayo, sini Papa peluk! Kita berpelukan!" Zoya merasakan perasaan nya menghangat dan tersenyum dibalik rambut hitam nya. Zian terlihat menikmati dekapan hangat Richard.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pintu bewarna coklat itu terlihat terbuka menampilkan sosok wanita yang berdiam menyambut kedatangan suaminya. Tak lupa dengan senyuman manis dan cekatan mengambil tas serta melepaskan jas hitam itu. "Bagaimana di kantor? Kau mau ku pijit?" Tawar Alice membuat Alan hanya tersenyum kecil.
"Baik, seperti biasanya. Aku mau mandi air hangat saja. Apa Rosa sudah tidur?" Setiap kembali atau pergi, Alan akan menanyai putri kecilnya itu.
"Ia sedang bermain dengan paman dan Bibi nya. Ayah sedang pergi ke perusahaan rekan nya." Alice menjawab sambil menyiapkan air hangat untuk suaminya.
__ADS_1
Kamar mandi yang berukuran besar dan berwarna putih perak itu terlihat elegan dan mewah. Saat dirasa cukup, Alice segera memberitahu Alan, tapi ia tidak bisa lanjut melihat tubuh bagian atas yang tegap itu.
Jantung Alice rasanya berlari kencang, wajahnya menjadi memanas karena pemandangan indah dari belakang ini. Seperti yang diketahui, sudah lama sekali tidak ada kontak fisik atau semacamnya karena tembok masa lalu.
Alan yang berbalik menjadi kaget melihat Alice yang berada dibelakangnya. Ia jadi gugup sambil menutupi tubuh nya dengan handuk membuat Alice tersadar. "Air nya sudah siap."
"Ya, terima kasih. Aku akan mandi segera." Kecanggungan terjadi antara keduanya. Alan bukannya tidak tau, tapi ia cukup sadar akan tindakannya selama ini.
Alice menggelengkan kepalanya menatap Alan yang sudah hilang dari pandangannya. "Astaga, jantung ku!"
Dibalik pintu kamar mandi itu, Alan merasakan aliran air yang menyentuh kulit nya. Sambil menutup matanya ia mencoba merilekskan pikiran nya, akan bayangan masa lalu yang tidak bisa kembali lagi dan fokus akan masa depan yang sudah ia janjikan.
"Alice tidak salah, aku tidak bisa mendiamkan nya. Tapi... Bagaimana reaksi nya nanti?" Sungguh perlahan Alice ia tempati dihatinya, tapi mungkin belum seutuhnya.
Ia teringat akan ucapan kedua putranya yang begitu bersemangat mengatakan bahwa Papa akan tinggal bersama mereka sebentar lagi. Alan tau artinya, pernikahan Zoya akan segera berlangsung, ia merasa senang ada yang mencintai dan akan menjaga serta membahagiakan wanita yang masih melekat dalam hatinya dan kedua putranya.
"Alan!" Pria itu tersentak saat mendengar panggilan Alice.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Aghhhh! Alan!" Teriakkan Alice membuat Alan langsung bangkit dari jacuzzi nya dan ketika ia membuka pintu ada seseorang yang mendorong nya dan...
Brak! Brak!
__ADS_1
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak