
Pria berjas putih itu menjadi penantian semua orang disana. Mereka langsung bangkit segera melihat pintu itu terbuka. "Bagaimana Dokter?" Indra bertanya tak sabaran mengenai keadaan putrinya.
"Begini, sengatan listrik di tubuh pasien membuat pasien mengalami shock berat ditambah dengan karung yang berukuran besar itu menimpa pasien yang mengakibatkan ada keretakan di bagian paha kanannya." Sesaat dokter itu terhenti dengan raut wajah orang-orang yang menunggu kelanjutannya.
"Kami akan melakukan scanning untuk melihat seberapa besar keretakan itu. Tidak ada luka lainnya, untuk saat ini."
"Apa putriku sudah sadar?"
"Belum, pasien mungkin sadar beberapa jam. Semoga saja, kami akan terus memantau perkembangan nya." Alan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dokter. Dan tak lama, dokter itu pergi meninggalkan mereka dengan pikiran yang bermacam-macam.
Lengan Aron mendarat sempurna di pundak Ayah nya yang mendapat beban baru. Tampak Indra menatap wajah putranya dan tersenyum kecil yang tidak bisa menutupi kekhawatiran di kesedihan itu. "Aku yakin, Alta akan sadar. Aku ada disini, anak-anak ayah ada disini."
Indra menatap wajah anak-anaknya bergantian. Rasanya ia ingin menangis karena putri kecilnya tengah terbaring tak sadarkan diri dengan sesuatu dibaliknya. Perlahan tapi pasti dimulai dari Aron pelukan penguat itu terjadi disusul oleh Alan dan Alya berikutnya.
Alice meneteskan air matanya melihat hal itu, Indra menyayangi dan memperlakukan dirinya dengan baik, begitu juga dengan yang lainnya saat Alan menolak kehadirannya. Sepasang mata kecil itu terbuka dan mengerjap melihat Kakek, Papa, bibi dan pamannya yang saling berpelukan.
"Rosa juga ikut!" Pintanya dengan suara khas bangun tidur membuat Alice baru menyadarinya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Sadar akan ketidakhadiran keluarga Indra membuat Zoya bertanya-tanya. Baru saja pintu kamarnya terbuka tidak terlihat diantara orang-orang itu bahkan tidak terlihat atau terdengar suara celotehan Rosa.
"Kemana mereka?" Tidak ingin menduga-duga, Zoya menuju ruangan dimana mertua serta suaminya berkumpul sekarang.
Saat dirinya berniat menuruni tangga, ia dikejutkan dengan kehadiran Richard yang membuat dirinya terkejut. "Aaa!!" Pekik Zoya spontan dengan tangan yang berada di dadanya.
"Ini aku Zee. Ada apa?"
"Kau mengagetkan ku. Kenapa muncul tiba-tiba?"
"Maaf, aku dibelakang mu tadi karena kau melihat ke bawah, jadi kau tidak menyadarinya."
"Mereka ke rumah sakit." Jawaban itu membuat kening Zoya mengerut dan penuh tanda tanya.
"Apa? Apa maksudnya? Siapa yang sakit?" Tanya Zoya dengan cepat.
Richard menggenggam tangan yang berhiaskan henna itu dan keduanya berada di ruang baca, Richard sengaja memilih tempat itu untuk menjelaskan semuanya pada istrinya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi baik masalah apapun yang terjadi didalam kehidupan mereka.
Zoya menutup mulutnya mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh Richard. Antara kaget, tak percaya dan sedih serta bingung melebur jadi satu. "Kita...."
__ADS_1
"Kita akan kesana, setelah Alta sadar. Itu akan lebih baik, sembari menunggu mari kita doakan dia. Hmm?" Zoya mengangguk setuju dan berdoa agar mantan adik iparnya itu segera sadar, meskipun jika terbukti dirinya melakukan rencana jahat untuk nya tapi itu juga belum pasti bukan.
Belum ada malam pengantin seperti orang-orang yang baru saja menyatu dalam ikatan yang suci, bukan berarti hubungan, rasa cinta serta perlakuan Richard berkurang. Richard mendampingi Zoya menjenguk Alta yang sudah sadar, hampir seminggu dan gadis itu menderita kelumpuhan di salah satu kakinya sementara membuat gadis itu sangat terpukul begitu juga dengan yang lainnya.
Richard tidak menuntut haknya hingga waktu yang tepat. Meskipun Richard tidak memiliki ikatan di keluarga Alan, tapi dirinya menganggapnya Indra serta yang lainnya seperti keluarga. Ketika ada kesusahan bukankah saling meringankan, penjelasan yang dinanti oleh semuanya akhirnya diungkapkan oleh Alta dengan rasa penyesalan.
"Maafkan aku. Aku sangat marah dan benci melihat kebahagiaan kalian di atas penderitaan ibuku yang dipenjara, aku sangat sakit hati melihat keadaan ibuku dan ceritanya yang mengatakan kalian sangat jahat. Aku akui, dulu aku tidak suka padamu kak Zoya, sejak kak Alan menikah denganmu, perhatian untukku lenyap begitu saja. Aku sangat kesepian ditambah dengan keadaan kak Aron..." Alta melihat wajah Aron yang berada dibelakang Richard.
"Ibu selalu mengatakan bahwa kak Zoya adalah dalang hilangnya kasih sayang kak Alan pada kami. Karena itu kebencian mu semakin besar pula padamu." Dengan Isak tangis Alta bercerita.
"Kakak tetap menyayangimu Alta. Zoya tidak pernah melakukan itu, bahkan saat upacara kelulusan SMA mu, Zoya mengingatkan Kakak." Alta mengangguk setuju.
"Iya, aku baru menyadarinya. Mungkin setelah ditimpa kesusahan baru mata dan hatiku terbuka dengan jelas." Zoya menggenggam tangan Alta yang berinfus itu dengan lembut.
"Tidak, jangan berpikir begitu. Baik itu musibah atau kebahagiaan, selalu ada alasan nya. Aku juga minta maaf selama menjadi kakak iparmu."
"Tidak, kau sangat baik. Aku baru tau itu... Terlambat memang, seharusnya aku bisa mencegah ibu melakukannya tapi kebencian ku membuat ku tetep diam. Ada penyesalan ketika aku melihat kak Alan menangis ketika kehilangan anaknya. Tapi lagi-lagi karena api dendam membuat rasa kasihan ku terbakar habis." Pernyataan Alta yang ini tentu membuat semua orang tidak percaya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak