
Gerakan tangan Alice terhenti ketika panggilan itu berakhir sendiri. "Syukurlah, ia tau jam berapa sekarang!" Gerutunya lalu berlalu meninggalkan kamar Alan dengan senyuman tipis.
Zoya bernapas lega mengetahui ponselnya mati dan hal itu membuat panggilan yang dilakukan double Z terhenti. "Mommy, ponselnya mati. Tidak dapat menghubungi Daddy..." Wajah double Z terlihat ditekuk.
"Tidak apa, besok saja ya. Lagipula lihatlah bulan sudah berselimutkan awan dan kesunyian."
"Benar, pasti Daddy sudah tidur. Kami terlalu senang jadi terlambat tidur, maaf Mommy kami lupa."
"Hmm, kalau begitu sekarang tidurlah." Anggukan kecil double Z diiringi dengan kantukan mereka.
Zoya memberikan segelas susu hangat untuk kedua putranya, bergantian double Z meminumnya hingga rasa kantuk yang sudah menyerang akhirnya membuat mereka tertidur.
Pakaian yang tadinya berserakan sekarang sudah dirapikan kembali oleh Zoya, kedua putranya sudah terlelap. Perlahan Zoya mendekati ranjang dan menarik benda persegi panjang yang berbahan lembut itu menutupi tubuh double Z hingga dada.
"Selamat malam dua malaikat ku." Kecupan manis mendarat di kening keduanya. Setelah dirasa cukup Zoya akhirnya pergi menuju kamarnya.
πππππ
Keesokan harinya, di kediaman Richard pagi indah Dokter tampan itu dihiasi oleh ocehan sang Kakek membuat telinga Richard terkontaminasi bakteri syarat calon menantu. "Pokoknya dalam minggu ini, kakek ingin menemuinya!" Baru saja Richard mendudukkan bokongnya di kursi meja makan ia langsung diultimatum.
__ADS_1
"Astaga Ayah, setidaknya biarkan putraku makan dengan tenang." Ujar Rekha melihat wajah putranya yang lelah karena ulah ayahnya.
"Tenang? Tenang bagaimana? Aku harus melihat wanita itu, bibit bebet dan bobotnya. Harus jelas, dan tentunya harus bisa mematuhi aturan keluarga kita."
"Ayah tenang saja, aku sudah melihatnya.."
"Itu kan sudut pandang mu, aku ingin melihat dari sudut pandang ku." Pria berjanggut putih itu tetap kukuh dengan pendapatnya.
Rekha memberikan kode pada Richard dan langsung ditangkap oleh putranya dengan baik. "Baiklah kek, akan aku bawa. Sabar ya, aku sedang sibuk di rumah sakit dan dia juga memiliki kesibukan kek. Jadi...."
"Oke tapi, Minggu ini."
"Iya, sekarang ayo kita nikmati nasi biryani yang lezat ini." Richard menyendok nasi kuning itu kedalam piringnya dan akhirnya wajah kakeknya yang tadi tegang akhirnya sedikit rileks.
"Makan yang banyak Ayah." Rekha ikut duduk dan tak lama mereka makan bersama.
πππππ
Rosa senang melihat Papanya sudah bisa bangkit dari ranjang itu bertanda sakit yang menyelimuti tubuh Papanya sudah pergi. "Papa, Rosa senang Papa sudah sembuh. Jangan sakit lagi." Alan menyambut pelukan putrinya.
__ADS_1
"Karena Rosa, jadi Papa cepat sembuh." Alice yang baru saja selesai menyiapkan makanan langsung menuju keduanya.
"Ayo kita makan dulu, supaya sakit tidak bisa mendekat lagi."
"Yes Mama." Rosa menjadi penghangat ditengah kebekuan hubungan kedua orang tuanya yang tidak ia lihat.
Alan langsung melihat ponselnya terlihat ada panggilan yang tak terjawab. "Zoya." Dengan segera Alan kembali menghubungi dan tak lama panggilan terhubung membuat Zoya yang baru saja selesai mandi melihatnya.
"Mas Alan." Tombol hijau itu digeser ke atas dan ketika terdengar suara yang menyahut membuat jantung keduanya berdetak.
Bersambung....
Jangan lupa like π
Favorit β€οΈ
Vote π«
Dan Komentar ya π
__ADS_1
Serta hadiahnya ya π
Terimakasih semuanyaβ¨β¨β¨β¨β¨β¨