
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Rosa, karena sekarang adalah hari ulang tahunnya, seperti biasa ada orang tua dan juga keluarganya ditambah dengan kehadiran teman baru bukan hanya satu tapi dua.
Acara tampak segera dimulai, Erna dan Mona semaksimal mungkin untuk membuat Rosa cucu mereka bahagia.
πππππππ
Di sisi lain, double Z dan Zoya sedang menunggu Richard yang otw ke apartemen mereka. Sebuah bingkisan sudah berada di tangan double Z yang mereka hias kemarin.
"Mommy, apa dia akan suka hadiahnya?" Tanya Zian.
"Jika seseorang mengundang kita maka bukan hadiahnya yang membuat ia bahagia tapi kehadiran kita. Mengerti sayang? Kebahagiaan tidak selalu dari hadiah melainkan sebuah kehadiran."
"Baik Mommy, kami akan mengingatnya."
Ketiganya tengah duduk di ruang tamu setelah sebungkus roti mereka habiskan menunggu Richard. Pria itu sudah siap, tapi ada pasien yang membutuhkan dirinya membuat ia terlambat.
"Mommy, kami bermimpi mengenai Daddy." Zoya langsung mengalihkan pandangan kepada kedua putranya.
"Kalian berdua?" Tanya Zoya memastikan dan dibalas anggukan cepat.
"Oh ya, mimpi apa? Pergi bermain?" Ujar Zoya sambil bercanda.
"Bukan, tapi Daddy....
Suara klakson membuat Zian mengentikan ceritanya dan Zain langsung berhamburan keluar menuju Richard. "Sudahlah, mungkin nanti saja." Ujarnya yang melihat Mommy nya tengah memakai sepatu dan mengajaknya keluar.
Richard dengan setelan biru, terlihat tampan berdiri melihat ketiganya yang akan menjadi bagian hidupnya yang terpenting sebentar lagi.
__ADS_1
"Papa!" Zain berhamburan kepelukan Richard dan langsung segera digendong oleh Richard membuat keduanya tertawa.
"Maaf, Papa terlambat." Ujar Richard meminta maaf.
"Tidak, itu kan tugas penting. Benar kan Mommy? Kepentingan pribadi kita singkirkan terlebih dahulu."
"Iya sayang, dan sepertinya kita masih punya waktu. Acaranya masih berlangsung."
ππππππππ
Acara tiup lilin sudah dekat, namun Risa seperti meninggalkan seseorang dibalik pintu. Membuat Erna memanggil cucunya itu. "Sayang, kau tunggu siapa?"
"Aku menunggu teman ku nek, kenapa belum datang juga?"
"Sayang, lanjutkan saja. Nanti temannya akan datang, jangan khawatir. Benar bukan Alan?"
Semuanya bertepuk tangan dan tersenyum melihat sosok kecil yang menghiasi kehidupan mereka sudah berusia 4 tahun.
"Sekarang, potong kuenya." Mona memberikan pisau pemotong kue yang langsung disambut oleh Rosa dibantu dengan Alice.
Namun ditengah itu, Alan menjauh membuat semuanya bingung dan menatap dirinya. "Ada apa Alan?" Tanya ibunya.
"Aku ke toilet sebentar Bu, tidak tahan. Hanya sebentar." Erna mengangguk dan meminta Alan segera kembali karena Rosa berpikir yang buruk tadi.
"Sebentar ya sayang." Rosa mengangguk setuju.
ππππππππ
__ADS_1
Mobil Richard baru saja sampai, terlihat kediaman bergaya Eropa itu menyambut mereka. "Silakan masuk Tuan dan Nyonya." Terlihat satpam mengarahkan mereka.
Zoya merasakan sesuatu yang akan terjadi saat berada di depan pintu masuk, Richard yang menyadarinya mendekat. "Zee ada apa? Ayo masuk, double Z sudah tidak sabar."
"Ah... I-iya."
"Ayo Mommy, Papa!" Double Z bergandengan tangan masuk bersama Zoya dan Richard.
Ketika mereka masuk terlihat acara potong kue tengah berlangsung, Zoya merasakan detak jantungnya semakin tak karuan. Terlihat sosok anak dengan wanita yang Zoya yakini adalah ibunya dan satu lagi sosok yang tidak terlihat. "Itu anaknya, dan ibunya." Ujar Richard memberi tahu.
"Ayo Zian!!" Ajak Zain melangkah lebih cepat. Semu yang ada di sana sedang fokus dengan pemotongan kue. Zoya berjalan perlahan, entah mengapa langkah kakinya terasa berat.
"Sekarang untuk siapa potongan pertamanya?" Zoya mengenali suara itu.
"Untuk Papa dan Mama, tapi aku ingin Papa dulu." Rosa mendekatkan kue pada Alan melihat putrinya cukup kesulitan ia menundukkan kepalanya dan .....
Langkah kaki itu terhenti ditempatnya melihat sosok pria yang dipanggil Papa itu. Ditambah dengan suara jatuhnya benda membuat semuanya menelepon ke arah pintu masuk.
Bersambung.....
Jangan lupa likeπ
Tinggalkan komentarβοΈ
Dan berikan hadiah ya.π
Terimakasih semuanya π
__ADS_1