Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Berpacu dengan waktu


__ADS_3

Ruangan yang tidak terlalu besar dan lembab itu terlihat dua sosok seorang wanita dan anak laki-laki. Tangisan dan juga teriakkan dari anak laki-laki membuat sosok disebelahnya perlahan bangun.


Begitu matanya terbuka, terlihat anaknya berderai air mata. "Zain!"


"Mommy!" Zoya yang mencoba bergerak, tidak bisa menggerakkan badannya karena ikatan yang mengelilingi tubuhnya.


Bahkan juga dengan Zain yang bersebrangan dengan dirinya, terlihat ikatan itu menyakiti putranya. "Tenang sayang, Mommy disini. Jangankan menangis hmm." Zoya tersenyum agar putranya merasa tenang.


"Mommy tangan Zain sakit. Mommy Zain takut...." Terlihat mata yang biasanya memancarkan keceriaan itu berubah menjadi ketakutan.


"Kita akan pergi dari sini. Mommy bersama Zain." Zoya melirik ikatan dan ruangan yang ia tempati sekarang.


Ingatannya tertuju pada kejadian penculikan dirinya. Zoya yakin, ini bukan komplotan biasa. Terlihat dari cara mengikat dan tempat yang terdengar jauh dari pemukiman. Zoya dapat mendengar suara aliran air disini.


Zain yang melihat Mommy nya tersenyum dan perlahan mendekat merasa tenang. Ia yakin akan itu, selama ia bersama dengan Mommy nya semua nya akan baik-baik saja.


Zoya yang perlahan terus mengerakkan kursi yang menahan tubuhnya akhirnya sampai disebelah putranya. Meskipun tangan dan kakinya mengalami lecet karena ikatan yang kencang.


"Tenang sayang, lihat Mommy disini." Zoya mendekatkan wajahnya membuat Zain melakukan hal yang sama. Kening mereka menyatu dan Zoya menggerakkan hidung nya menyentuh hidung putranya membuat Zain tersenyum.


"Mommy siapa yang membawa kita kesini? Apa mereka orang jahat?"


Itu juga yang terlintas dipikiran Zoya. Tapi sayangnya ia tidak tau pasti mengenai dalang yang menculik dirinya. Zoya melihat sekeliling, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Saat ia sedang melakukan penyisiran ia dikejutkan dengan pintu yang terbuka.


Zain yang melihatnya menjadi takut dan menatap Mommy nya. "Wah, kalian sudah sadar rupanya dan baguslah akhirnya kau diam juga. Kau tau, tadinya aku ingin menyekap mulutmu agar tidak menangis terus."


Mendengar ucapan itu, tentu saja Zoya membesarkan matanya dan melihat tajam pria itu. "Mommy..." Lirih Zain akan perawakan pria itu.


"Kau hanya berani pada anak-anak dan wanita. Dasar lemah!" Ujar Zoya membuat pria itu tersenyum menyeringai.


"Wah, kau sangat berani. Cantik...." Zoya terus menatap pria itu.


"Mata indah mu itu bisa sakit jika terus menatap begitu. Aku ...." Belum selesai pria itu berucap terdengar sahutan dari luar.


"Bagaimana?"


"Keduanya sudah sadar boss!" Tak lama terlihat sosok dengan anting dan tato di tubuhnya perlahan mendekat ke arah Zoya dan putranya.


"Bagaimana tidurnya nyenyak? Aku harap kalian suka dengan tempat ini."


"Apa yang kau inginkan?"


"Wanita yang unik, bukannya takut. Tapi sejak awal aku melihat perlawanan disini."


Dia memberikan kode pada pria disebelahnya membuat Zoya memasang ancang-ancang pada putranya. "Tenang saja, ini hanya makanan. Kalian pasti lapar, terutama anak tampan ini."


"Aku tidak mau! Makanan dari orang jahat!" Ujar Zain.


"Wah, tadi kau sangat takut. Sekarang kau seperti Mommy mu."

__ADS_1


"Bawa saja kembali, kami tidak membutuhkan nya! Katakan apa tujuanmu?"


"Baiklah, kalau begitu.... Aku tidak sabar untuk pertunjukan ku." Zoya merasa tidak enak sekarang, entah mengapa seringai pria itu berbeda dari sebelumnya dan tatapannya.


"Jangan menyentuh putraku!" Seketika pria itu tertawa besar.


"Aku tidak membutuhkan putramu, tapi... Kau. Mumpung yang membayar ku belum datang, ia memberikan sepenuhnya apa yang akan ku lakukan pada kalian."


"Menjauh dari kami!"


"Mommy!" Pekikan Zain membuat mata Zoya melebar.


Terlihat pisau itu menggores tangan putranya. "Binatang!" Pekik Zoya yang berusaha mendekati putranya.


"Mendekat, maka satu goresan lagi! Aku tidak main-main!" Zoya berhenti menatap pisau yang begitu dekat dengan Zain.


"Berhenti! Apa yang kau inginkan?"


"Kau cantik. Aku ingin tau bagaimana rasanya wanita eksotis seperti mu." Zoya merasakan deru napas pria itu yang menerpa rambut nya.


"Berbuat sesuatu, maka kau akan lihat putramu tiada."


"Mommy!" Teriakkan itu kembali menggema membuat orang-orang disekitarnya langsung menuju kesana.


"Mommy.... sakit!" Zian menangis sambil memegang tangan dan dadanya. Terlihat pria berjas putih datang dan menenangkan nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Papa!" Rosa berhamburan menuju pelukan Alan.


Alan hanya tersenyum "Aku baik-baik saja, maaf baru mengabarkan tapi jangan khawatir ada Jim disini."


"Kau pergi kemana?" Tanya Erna.


"Hanya keluar ibu, tapi..... Ngomong-ngomong Ibu mau kemana? Apa ada acara?" Erna baru sadar ia belum mengganti pakaiannya.


"Ibu mau keluar tapi... Tiba-tiba dapat kabar darimu, jadi Ibu sangat khawatir akan dirimu sayang. Ibu sangat cemas, bahkan Rosa tidak berhenti menangis begitu juga dengan Alice yang khawatir padamu."


"Aku sudah baikan, besok sudah mulai pulang. Sepertinya semuanya kurang istirahat, jadi sebaiknya istirahat lagipula ada Jim disini."


Saat asyik berbincang, ponsel Erna berbunyi membuat semua mata tertuju ke sana. "Kalau begitu, ibu pulang ya. Ibu lupa minum obat asam urat ibu."


"Jim bisa ambilkan....."


"Tidak! Ibu bisa sendiri. Alice akan tidur disini bersama Rosa untuk menjaga dirimu jangan menolak. Hmmm."


"Iya, Jim akan mengantarkan ibu, jangan menolak."


"Baiklah."

__ADS_1


Erna segera menaiki mobil yang dibawa oleh Jim. Sepanjang perjalanan wanita paruh baya itu terlihat sibuk dengan ponselnya.


Saat dalam perjalanan mobil terhenti membuat Erna menoleh pada Jim. "Apa yang terjadi?"


"Sepertinya ban nya kempes nyonya. Butuh waktu...."


"Astaga! Aku bisa kambuh kalau begitu. Sudah! Aku naik taksi saja !" Tanpa menunggu jawaban Jim, Erna pergi dari sana.


Jim hanya melihat tak lama mengeluarkan ponselnya. "Sesuai perkiraan Tuan."


Manik hazelnut itu melihat ada pergerakan di iPad nya. "Dapat!"


"Jalan!" Terlihat beberapa mobil beriringan pergi ke arah barat.


"Lakukan apapun yang kalian mau, aku akan datang ke sana!" Isi pesan itu.


Wajah pria disebelahnya berubah saat melihat wajah pria yang memandangi iPad itu ikut berubah. "Ada apa Pa?"


"Kita harus cepat, berpacu dengan waktu!"


🌟🌟🌟🌟🌟


Pukulan dan tamparan mendarat sempurna di wajah cantik itu. "Kurang ajar! Aku akan membuatmu tersiksa dan tidak akan lupa!" Pria bertato itu menarik rambut Zoya karena tindakan Zoya yang meludah dan mengigit tangannya.


"Pegangi dia! Aku akan mengeksekusinya disini. Biar putranya itu melihat apa yang terjadi pada Mommy nya."


"Biadab! Menjauh dariku!"


"Mommy!"


Bersambung.....


Jangan lupa like


Tinggalkan komentar


Dan berikan hadiahnya ya.


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author. Ceritanya seru loh!!!



"Bantu aku menghilangkan phobia sialan ini! Maka aku akan memberimu bayaran mahal!"


Beyza Ishik tidak pernah menyangka, saat majikannya Elder Gulbar memohon bantuan untuk menghilangkan Phobia anehnya.


Semua berawal ketika Elder pulang ke kediamannya dengan kondisi mabuk. Lalu tidak sengaja mencium Beyza, maid muda yang baru saja bekerja seminggu lalu.


Elder yang selama hidupnya tidak bisa berciuman karena Phobia, merasa ada kesempatan untuk menghilangkan Phobia anehnya. Terlebih lagi, orang tuanya menuntut dia untuk segera menikah.

__ADS_1


Namun, masalah timbul ketika Beyza tidak bisa mengontrol perasaannya pada Elder, majikan yang sudah memiliki kekasih.


Akankah cinta seorang Maid bisa terbalas?


__ADS_2