Temukan Kami Daddy

Temukan Kami Daddy
Masih Sama


__ADS_3

Matahari tampaknya masih malu-malu menampakkan dirinya. Sinarnya masih tertutup oleh awan, jam menunjukkan pukul 6 pagi. Sepasang mata itu terbuka perlahan, meskipun terasa lem merekat di sana tapi ia memaksanya sehingga netra nya perlahan melihat sekeliling.


Ini bukan kamar atau ruangan miliknya, beberapa saat tatapannya tertuju ke atas, hingga perlahan ke samping. Di sana terlihat sosok yang tengah tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala nya tengah rebah di ranjang.


"Zoya..." Sebuah senyuman terbit di wajahnya menatap kecantikan yang dulu menemani paginya dan setiap hari.


Merasakan kepalanya sedikit pusing, dan tangannya meraba-raba menuju pusat lukanya. Selimut itu ia singkirkan sedikit sehingga terlihat perban yang menutupi lukanya.


"Ssstt." Meringis sakit di sana tapi perlahan hilang karena sosok sebelahnya. Ia mendekat menatap wajah yang tertidur pulas itu.


Ketika tangannya ingin menggapai pipi lembut itu, sang pemilik tampak bergerak dan ia memejamkan matanya.


"Astaga, sudah pagi!" Zoya segera bangkit setelah pelan setelah melihat Alan yang masih tertidur.


Dengan cepat, Zoya sudah menghilang dari sana, Alan yang merasa aman membuka matanya. "Kau masih peduli sama seperti dulu."


Setelah mencuci muka, Zoya melihatnya ponselnya yang sudah begitu banyak pesan dan panggilan. "Akhirnya kau mengangkat panggilan ku juga! Kau kenapa tidak datang?" Tanya Jili.


"Maaf, aku ketiduran. Apa double Z...."

__ADS_1


"Mereka menangis beberapa kali dan cukup lama untuk tidur. Tadinya aku berniat mengantarkan mereka karena kau tidak menjawab panggilan ku. Tapi, mengingat jalan dan juga waktu aku putuskan tidak."


"Maaf, kau pasti kesulitan."


"Bukan begitu Zee, aku tidak masalah hanya saja double Z menangis bukan mencari mu tapi Daddy nya. Sejak semalam mereka terus merengek memanggil, aku tidak memiliki nomor telepon nya. Jadi aku menghubungi mu, ternyata sama saja." Ditengah Jili bercerita, Zoya menatap ruangan yang menjadi tempat Alan tertidur.


Sepertinya ikatan double Z dan Alan begitu kuat, seolah-olah mereka merasakan apa yang dirasakan oleh Daddy mereka . "Sekarang mereka masih tidur?"


"Hmmm, aku akan mengantarkan mereka nanti."


"Kalau begitu, terima kasih ya."


"Kenapa tidak memanggil ku." Ujar Zoya sambil mendekati meja tempat air yang tersedia.


"Karena Mas bisa, ini tidak sulit."


"Nyatanya tidak, lukanya belum sembuh. Jangan terlalu banyak bergerak."


Alan menatap minuman pemberian Zoya." Ini air lemon, bagus untuk menetralisir minuman keras."

__ADS_1


Alan hanya diam karena ia memang menyentuh dan meminum minuman keras itu. "Terima kasih."


"Apa yang terjadi? Terutama luka itu? Apa ada kaitannya dengan kami?" Tanya Zoya yang sudah tidak bisa menahan pertanyaan itu lagi.


"Kenapa? Apa itu merepotkan? Dan..." Zoya tidak bermaksud begitu tapi sepertinya Alan bereaksi lain.


"Bukan begitu, lukanya lumayan besar. Tidak ada ponsel, keluarga mas pasti khawatir apalagi Rosa. Minuman keras itu tidak baik untuk kesehatan, jika ada masalah selesaikan dengan baik. Tidak perlu seperti ini, bagaimana pun juga kepulangan mas ditunggu oleh keluarga. Mereka pasti sangat khawatir dan tidak tenang." Zoya berbicara panjang lebar, dan Alan hanya melihat dengan senyuman kecil.


Zoyanya masih sama, cerewet dan peduli. Bedanya jika dulu ketika mereka masih bersama, Zoya tidak akan pernah jauh darinya. "Mas dengarkan?"


"Zoya, jika mas meninggalkan semuanya apa kita bisa bersama lagi?" Satu pertanyaan Alan membuat Zoya terdiam seketika.


Bersambung....


Jangan lupa like 👍


Tinggalkan komentar ✍️


Dan berikan hadiah 🌹🌹🌹

__ADS_1


Terima kasih banyak 🙏🙏🙏


__ADS_2