
Netra Jim masih membaca untaian kata-kata di hasil laporan itu. Antara tidak percaya, tak menyangka dan kecewa ia rasakan. "Ini gila! Bagaimana jika Tuan Alan tau?"
Segera saja Jim menghubungi Dimas untuk menjelaskan lebih detail. "Ya Jim? Kau sudah dapatkan laporan nya?"
"Iya, dan aku ingin kau menjelaskan dengan sederhana."
"Baik, kita bertemu di rumah sakit." Setelah itu Jim segera bergegas menuju rumah sakit.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sedangkan di sisi lain, kebahagiaan menyelimuti Richard, jawaban iya Zoya sungguh hal yang paling ia nantikan setelah tiga tahun.
Ia berjanji akan membuat wanita itu bangga, dan tidak akan teringat kembali dengan masa lalunya. "Papa, apa maksudnya kita akan tinggal bersama selamanya?" Tanya Zian.
"Iya, tentu saja. Double Z senang?" Tanya Richard yang ingin tau perasaan keduanya.
"Senang! Tapi bagaimana dengan Daddy? Bukankah Daddy yang tinggal bersama kami?" Richard tersentak mendengar pertanyaan yang terbit dari bibir kecil itu.
Zoya tak jauh dari sana ikut tersentak mendengar pertanyaan kedua putranya,
Perlahan ia mendekat dan membuat kedua putranya menatap dirinya. "Sayang, Mommy dan Daddy tidak tinggal bersama benar tidak?"
"Benar." Jawab keduanya.
"Karena Daddy tinggal di rumahnya dan Kalian bersama Mommy, meksipun begitu bukankah kalian bisa melihat Daddy dan bersamanya juga? Daddy akan menjaga saat kalian bersamanya, mommy akan menjaga kalian saat double Z bersama Mommy."
"Apa seperti Papa Richard sebelumnya?"
"Iya, seperti itu."
"Apa rumah Daddy sangat jauh, sehingga kita tidak tinggal bersama?"
"Iya, sangat jauh karena itu Daddy baru menemukan double Z, dan lihat. Daddy sering mengunjungi bukan? Bukankah Daddy sangat sayang?"
"Benar, dan kami juga sayang Daddy. Tapi apakah nanti kami berdua bisa mengunjungi rumah Daddy?"
"Tentu saja bisa, double Z bisa sampaikan pada Daddy, ok?"
"Baiklah!" Zoya senang kedua orang mengerti dengan penjelasan nya, ia menyampaikan nya dengan sederhana sehingga kedua putranya mengerti bahwa dia dan Alan tidak akan tinggal bersama lagi.
"Lihat! Papa bawakan undangan ulang tahun untuk kalian." Richard mengeluarkan kartu undangan yang diberikan oleh Rosa membuat double Z senang.
"Wah! Apa itu anak perempuan yang kakinya berwarna putih?" Tanya Zain.
__ADS_1
"Iya, double Z memang pintar. Ia mengundang kita, apakah double Z mau?"
"Mau! Sudah lama tidak ada acara ulang tahun, bukan begitu Mommy? Kami boleh pergi kan?"
Meskipun Zoya tidak tau jelas mengenai anak itu tapi, melihat kedua putranya bahagia ia ikut senang. "Boleh sayang dan kita akan pergi bersama." Double Z langsung menuju kamar mereka dan sekarang hanya tinggal mereka berdua.
"Aku sangat senang, kau dapat menjelaskan dengan baik kepada double Z."
"Tentu saja, aku harus menjelaskan sebaik mungkin. Meksipun dan apapun yang terjadi tidaklah baik, tapi aku tidak mau hubungan ayah dan anak menjadi retak. Mungkin dulu aku egois dan berpikir mereka tidak akan kekurangan kasih sayang tapi, nyatanya double Z membutuhkan itu. Meksipun kami berpisah double Z harus mendapatkan kasih sayang yang lengkap."
"Dan kasih sayang itu akan lebih banyak lagi dengan persenan dari ku." Richard tiba-tiba saja menggenggam tangan Zoya dan mereka saling berpandangan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Erna yang menunggu kedatangan Alan segera bangkit dari sofa nya. "Akhirnya kau datang juga, ibu....." Erna melihat ekspresi putranya yang terlihat sedih dan kecewa.
"Ada apa? Terjadi sesuatu?" Tanya Erna.
"Itu, tadi saat pertemuan berjalan tidak lancar. Biasalah Bu, aku merasa sedikit down karenanya."
"Sudah jangan pikirkan lagi. Mereka hanya iri saja, sekarang ayo kita ke ruang tamu." Ajak Erna membuat Alan mengerutkan keningnya.
"Memang ada apa Bu?" Tanya Alan.
"Lihat saja!" Alan baru sadar tidak ada putrinya yang menyambut setelah melangkah beberapa saat Alan dapat melihat sosok orang tua Alice.
Terlihat Alice datang dari dapur membawakan minuman dan juga cemilan. Alan hanya menatap sekilas apalagi setelah melihat kedatangan Rosa yang juga dari dapur.
Semuanya menikmati cemilan dan memulai perbincangan, apalagi Erna dengan Mona ibunya Alice yang terlihat bicara dengan antusias.
Alice melihat Alan yang tengah bicara dengan ayahnya, ia bernapas lega karena ia bangun lebih dahulu sebelum Alan menyadari yang terjadi.
"Ngomong-ngomong Rosa sudah cocok untuk memiliki adik. Kapan kami akan mendapatkan kabar baik, bukan begitu Erna?" Tanya Mona membuat baik Alice dan Alan diam sesaat.
"Iya, apalagi anak laki-laki itu akan menambah lengkapnya keluarga kita." Balas Erna dengan sumringah sedangkan kedua pelaku pembuatan tengah dilanda perang dingin.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Beda lagi dengan kediaman Richard yang terlihat berbincang-bincang mengenai pernikahan Richard dan Zoya. "Rekha, kau sudah memastikan tidak ada halangan bukan? Mungkin dari mantan suaminya?"
"Tidak ayah, aku yakin Zee bisa menyelesaikan nya. Ditambah dengan cucumu yang memiliki sikap posesif."
"Aku tidak ingin ada halangan nanti, kau tau benar alasannya. Aku menerimanya karena penilaian ku padanya dan itu tidak salah, hanya saja mungkin masa lalu itu belum sepenuhnya hilang. Apa Richard tau akan itu?"
__ADS_1
Rekha menghentikan rajutannya dan menatap foto putranya di hadapannya. "Sejak Richard mengutarakan keinginannya, aku sudah mengatakan pada Richard konsekuensinya dan ia siap untuk itu."
"Baguslah kalau begitu. Undang wanita itu dan anaknya kita akan mulai membahas pernikahan mereka."
"Baik ayah."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di Indonesia terlihat kediaman bewarna putih gading memperlihatkan kesibukan untuk keberangkatan. "Sudah semua?" Tanya Alindra ayah Alan dan ketiga anaknya yang lain.
"Sudah ayah, tapi... Kakak Aron tidak mau ikut." Ujar Alya.
"Biarkan saja, bukankah itu sudah biasa? Kenapa harus dikhawatirkan?" Ucapan Alta putri pertama anak ketiga.
"Jaga bicaramu Alta! Apa Ayah mengajarkannya? Dia kakak tertua mu!"
"Tidak Ayah, itu benar. Aku ini tidak pernah ada, hanya ada Alan saja. Kalau aku kesana bagaimana pendapat besan Ayah nanti. Lihatlah! Indra membawa putranya yang gila ke sini!" Ujar Aron dengan kecut.
Indra mendekati putranya itu, ia memegang pundak putranya yang tingginya hampir menyamai dirinya. "Siapa yang bilang begitu? Kau adalah putraku, kau tidak gila Aron. Ayah tidak pernah membandingkan anak ayah, kalian semua istimewa."
"Itu menurut ayah tapi istri ayah?"
"Dia ibumu Aron, dia juga sayang padamu hanya saja...."
"Aku bukan boneka seperti Alan, karena itu ia acuh padaku. Sudahlah Ayah, aku akan tetap disini, ayah dan yang lainya pergi saja. Ada pelayan dan juga Jim, aku tidak akan kesepian." Aron pergi meninggalkan ketiganya, Alya yang melihat itu ingin menyusul kakaknya tapi ucapan ayahnya menghentikan dirinya.
"Berikan kakak mu waktu Alya, ayah akan mengatakan pada Jim untuk melihat keadaannya. Yang lain sudah menunggu. Ayo kita berangkat."
Alya menatap kamar kakaknya dan ketika mereka sudah menaiki mobil Alya melihat kakaknya dari jendela tersenyum. "Kau gila ya? Senyum sendiri!" Ucap Alta mengejek.
"Kenapa? Itu tidak merugikan mu bukan?"
"Tentu saja, nanti kau seperti kak Aron. Menyusa...." Alta tak melanjutkan ucapannya ketika melihat ayahnya masuk ke mobil.
Jim yang baru saja keluar dari rumah sakit, mendapatkan pesan dari seseorang. "Jim, aku ingin kau tinggal saja di rumah. Aron di sana, aku tak mau dia sendiri, kami ke Singapura untuk merayakan ulang tahun Rosa, hanya tiga hari setelah itu aku kembali." Pesan Indra.
"Mungkin di sana aku bisa mencari bukti yang lainnya."
Bersambung......
Jangan lupa like 👍
Tinggalkan komentar 🙏
__ADS_1
Dan berikan hadiahnya 🎁
Terima kasih semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️